Gerilya Eropa: Tentang Red Army Fraction dan Grup Gerilya Lain

Pengantar:

Hadirnya Red Army Fraction (RAF) atau yang lebih dikenal sebagai Gerakan Baader Meinhoff memiliki arti penting bagi kami di NEGASI. Hal ini tidak lepas dari penilaian subjektif bahwa aksi yang mereka lakukan (dan juga semua kegagalan yang menyertainya), tidak semestinya dikubur begitu saja. Justru dengan mempublikasikannya adalah sebuah cara untuk melihat kemungkinan yang lebih luas. Sebuah upaya untuk memperkaya taktik dan strategi perebutan kendali hidup.

Tidak ada heroisme dalam publikasi ini. Juga bukan berarti bahwa kami menempatkan diri segaris dengan semua yang tertulis di sini. Sebab ini hanyalah teks semata. Ia hanya mengandung ide ide tertentu yang mendokumentasikan perlawanan pada sebuah tempat di sebuah waktu.

Semenjak kami semua tak percaya bahwa tak seharusnya sebuah ide membelenggu manusia. Sejak itu pula kami tak percaya keutuhan dan kemutlakan sebuah strategi dan taktik. Bagi kami, pengalaman memperkaya analisa, namun metode dan taktik perjuangan mestilah dirumuskan hari ini dan di sini.

Teks ini diterjemahkan oleh Blue salah seorang partisan dari Konspirasi Kontra Kultura (KKK), pada bulan September hingga Oktober 2002. Pustaka Otonomis kemudian mempublikasikannya di situs mereka, yang mana kemudian kami bajak untuk dipublikasikan di sini. Teks ini juga sudah pernah dicetak dan digandakan sebagai pamflet oleh KKK.

Kini, kami kembali hadirkan di sini sebagai sebuah upaya untuk membuka lebih banyak saluran dan alternatif pilihan. Semuanya adalah untuk percobaan perang pembebasan hasrat dan hidup yang lebih baik.

Salam,

* * * * *

Gerakan Dua Juni

Diberi nama dari tanggal ketika Benno Ohnesorg dibunuh, “Gerakan Dua Juni” muncul dari kancah anti-otoritarian militan di Berlin Barat pada 1971. Pada Juni 1972, kelompok tersebut mempublikasikan program politik mereka. Butir ketiga berbunyi sebagai berikut: “Gerakan melihat dirinya sebagai vanguard hanyalah sejauh bahwa ia berada diantara yang pertama yang mengangkat senjata. Ia bukan vanguard karena menyebut dirinya demikian.”

Strategi Gerakan Dua Juni dipetik dari konsep gerilya di Amerika Latin dan mengkombinasikannya dengan perjuangan “legal”. Butir kesepuluh dari program mereka berbunyi: “…Bagi kami, praxis bermakna: Menciptakan kelompok legal yang militan, menciptakan milisi, menciptakan gerilya perkotaan – hingga kita memiliki rakyat yang bersenjata.”

Gerakan Dua Juni memandang dirinya sebagai kelompok gerilya kota, terbatas pada wilayah Berlin Barat. Secara khusus dengan cara-cara aksi spektakuler, semacam membagi-bagikan permen coklat selama perampokan bank, kelompok tersebut mendapat perhatian yang besar. Capaian tertinggi Gerakan Dua Juni adalah penculikan pemimpin wilayah CDU Peter Lorenz tahun 1975. Hasil dari aksi ini, kelompok tersebut mampu memenangkan kebebasan bagi lima anggota Red Army Fraction (RAF) yang dipenjara.

Dalam jangka waktu yang pendek setelah penculikan Lorenz, anggota-anggota penting Gerakan Dua Juni ditangkap. Selama pencarian anggota-anggota kelompok tersebut, tembak-menembak dengan polisi berlangsung di Cologne bulan Mei 1975. Werner Sauber, seorang anggota Gerakan Dua Juni, dan seorang polisi terbunuh. Setelah kesuksesan negara dalam pembasmian terhadap kelompok ini, Gerakan Dua Juni hanya terdengar suaranya lewat statemen pembelaan di pengadilan dan teks para aktivis yang dipenjara. Pada Juni 1980, kelompok tersebut membubarkan diri dan menjadi bagian dari RAF. Di bulan yang sama, tiga anggota tiga anggota Gerakan Dua Juni yang ditahan di Penjara Moabit Prison di Berlin, Ralf Reinders, Klaus Viehmann, dan Ronald Fritsch, mengeluarkan surat menegaskan oposisi mereka terhadap keputusan ini.

The Red Army Fraction (RAF)

Tahun 1968, sebagai protes terhadap perang di Vietnam, empat orang, diantaranya Andreas Baader dan Gudrun Ensslin, meledakkan suatu peralatan yang dapat mengeluarkan api didalam pusat perbelanjaan di Frankfurt. Keempat tak lama kemudian ditangkap dan dikirim ke penjara. Saat di penjara, Andreas Baader membangun hubungan yang erat dengan seorang jurnalis bernama Ulrike Meinhof. Dari hubungan ini muncul ide untuk meloloskan Andreas Baader keluar dari penjara di bulan Mei 1970, aksi pertama yang dilakukan RAF. Diakhir 1970-an, kelompok tersebut berangkat ke Yordania untuk berlatih bersama organisasi Palestina “Al Fatah”. Di musim semi 1971, sebuah surat dikeluarkan diberi judul, “Red Army Fraction – Konsep Gerilya Kota”. Teks tersebut bertulis sebagai berikut: “Konsep gerilya kota timbul datangnya dari Amerika Latin. Apa yang terjadi disana bisa juga terjadi disini: sebagai sarana intervensi revolusioner oleh kekuatan revolusioner yang relatif lemah.” RAF menjelaskan dirinya sebagai “kelompok perlawanan anti-imperialis, yang bukan merupakan bagian perjuangan yang ada disini, namun lebih merupakan perjuangan yang berlangsung di Dunia Ketiga.

Aksi Pertama yang dilakukan RAF

Setelah dua tahun bergerak dibawah tanah, RAF menjalankan enam serangan di bulan Mei 1972. Dua dari serangan ini adalah terhadap tentara A.S, tiga terhadap polisi dan pengadilan, dan satu terhadap korporasi Springer. Beberapa minggu setelah serangan ini, sejumlah anggota RAF ditangkap. Bulan September 1974, tahanan RAF memulai aksi mogok makan mereka yang ketiga terhadap kondisi penjara mereka. Setelah 56 hari, Holger Meins meninggal sebagai akibat dipaksa menelan makanan. Setelah ini, “Kommando Holger Meins” RAF menduduki Kedutaan Jerman di Stockholm di bulan April 1975 dan menawarkan untuk menukar sandera-sandera tersebut sebagai ganti pembebasan 26 anggota RAF yang dipenjara. Dalam rangka memberi gambaran ketetapan hati mereka, kommando RAF mengeksekusi atase militer Jerman pada permulaan pendudukan. Saat unit kepolisian menyerbu kedutaan, komando memasang serangan bahan peledak. Selama pengrebekan, satu diplomat dan satu anggota RAF, Ulrich Wessel, terbunuh, dan bangunan tersebut terbakar api. Lima anggota komando yang lain ditangkap oleh polisi. Diantara mereka Siegfried Hausner, yang walaupun sedang terluka secara serius diterbangkan ke Penjara Stammheim, dan tak beberapa lama meninggal dunia.

Satu tahun kemudian, di malam 8 Mei, 1976, Ulrike Meinhof diketemukan tergantung di selnya. Pada 1977, RAF melancarkan suatu ofensif besar-besaran. Di bulan April, Penuntut Federal Siegfried Buback dan dua pegawalnya ditembak mati di jalanan. Komando RAF yang bertanggungjawab menyebut tindakan pengeksekusian Buback, karena ia bertangungjawab atas pembunuhan Holger Meins, Ulrike Meinhof, and Siegfried Hausner. Di bulan Juli, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Jurgen Ponto, seorang eksekutif puncak Bank Dresdner . Di bulan September, sebuah komando RAF menculik Hanns-Martin, Schleyer Presiden Asosiasi Pengusaha Jerman.

Selama penculikan Schleyer, empat pengawalnya tewas. RAF menginginkan menukar Schleyer dengan kamerad-kamerad RAF yang dipenjara. Untuk menambah bobot pada tuntutan ini, sebuah komando Palestina membajak sebuah jet Lufthansa berisi penuh dengan turis Jerman di Mallorca. Komando tersebut menembak pilot dan mengancam membunuh seluruh sandera. Unit polisi anti-teroris khusus GSG-9 menyerbu pesawat saat menunggu di landasan pacu di Mogadishu, Somalia. Semua anggota komando Palestina ditembak dan terbunuh, kecuali seorang perempuan yang selamat, terluka parah. Segera menyusul kejadian ini, tahanan RAF Jan Carl Raspe, Andreas Baader, dan Gudrun Ensslin ditemukan tertembak mati atau tergantung di sel isolasi mereka di Stammheim. Irmgard Moller selamat, dengan luka sangat serius. Hari berikutnya, 19 Oktober, 1977, polisi menemukan mayat Hanns-Martin Schleyer di bak belakang sebuah mobil.

Musim Gugur Jerman (German Autumn)

Reaksi negara Jerman terhadap ofensif RAF terkenal dengan Musim Gugur Jerman. Periode ini ditandai dengan kampanye media yang belum pernah terjadi sebelumnya mencoreng orang-orang yang diduga keras “simpatisan” RAF. Tiap-tiap dan semua orang yang dicurigai bersimpati kepada RAF dianggap anggota potensial atau paling kurang pendukung bagi organisasi tersebut. Pengawasan polisi, pengrebekkan rumah, dan penangkapan merupakan merupakan keadaan sehari-hari. Undang-undang kejahatan politik sangat dipertajam. Antara 1977 dan 1981, RAF hanya menjalankan satu kali serangan. Di bulan Juni 1979, sebuah komando RAF meledakkan bom didekat iring-iringan Jenderal A.S Alexander Haig, kepala NATO, di Mons, Belgia. Haig selamat tanpa luka. Dari Pebruary hingga April 1981, para tahanan RAF mengorganisir sebuah mogok makan, yang dibatalkan menyusul kematian Sigurd Debus. Dua aksi RAF menggiringi musim panas: serangan bom di bulan Agustus pada kantor pusat angkatan udara AS di Eropa, pangkalan NATO di Ramstein, dan serangan roket terhadap Jenderal AS Kroesen, yang tak terluka.

Konsep Front

Di Mei 1982, RAF mengeluarkan sebuah komunike yang diberi judul, “Gerilya, Perlawanan, Dan Front Anti-Imperialis”, yang mencerminkan keluasan ideologi kelompok ini dan konsep strategi mereka. “Dokumen Mei” ini mengkritik ofensif 1977, secara khusus tindakan pembajakan pesawat, dan menyebut upaya itu sebuah kesalahan. Namun kritik-diri RAF masih membatasi diri. RAF mengatakan 1977 mencapai suatu dimensi historis, tahun dengan efek positif atas gerakan perlawanan. Suatu kemenangan dilihat dalam kenyataan bahwa negara tak mampu menghancurkan RAF. Dan akibatnya gelombang represi dari aparatus negara dianggap positif juga, karena hal tersebut memaksa seluruh perlawanan untuk membuat pilihan bersama atau melawan RAF. RAF melihat suatu perbedaan jelas semacam itu sebgai bukti akan kedudukan kepeloporannya. Dari sudut pandang ini, semua kekuatan oposisi sejati mengarahkan diri kepada RAF – atau mereka tak eksis sama sekali. “Musim Gugur 1977 memberi semua kelompok oposisi fundamental relasi dan syarat-syarat baru bagi kelangsungan hidupnya – sebagai pengalaman aktual dan prespektif bagi perjuangan masa depan, semuanya telah dipaksa untuk secara mendasar mereorientasi dirinya terhadap kekuasaan – atau menyerah. … Dari pengalaman yang baru ini, kebutuhan akan aksi gerilya merupakan satu langkah yang mudah bagi kesadaran: Jika perjuangan gerilya merupakan perjuanganmu sendiri, maka satu-satunya keinsyafan yang logis dari hal ini adalah dengan secara politis dan praktis menggabungkan dirimu dalam strategi gerilya, pada tingkat yang manapun.” (Dokumen Mei).

RAF mengembangkan ide tentang “front anti-imperialis” ini di metropolitan sebagai bagian dari perjuangan global untuk pembebasan. Practically speaking, ini berarti tiga-bagian pendekatan. Pada bagian pusat adalah “aksi militer” dari komando RAF, disertai dengan kegiatan dan serangan oleh para “militan” dan agitasi lebih jauh oleh spektrum yang lebih luas dari para pendukungnya. Hal tersebut tidak, walaupun begitu, menyatakan secara tidak langsung suatu hubungan organisasional. Kelompok-kelompok dari gerakan perlawanan beroperasi secara independen akan mengorientasikan dirinya pada aktivitas RAF. Konsep ini di buat ringkas dalam slogan: “Front Dibentuk Sebagai Sebagai Gerakan Yang Bertempur!”

“Strategi Front” RAF tak memberi suatu kesuksesan yang penting. Hanya selama mogok makan oleh para tahanan RAF dimungkinkan memobilisasi kekuatan dari gerakan perlawanan yang lebih luas. “Aksi militer” RAF hanya dijalankan oleh lapisan menegah dari para pendukungnya. Kelompok ini, berbagai “Komite-komite Anti-Penyiksaan” dan kelompok-kelompok anti-fasis, dibentuk di tahun 1970-an untuk melakukan kerja-kerja membantu para tahanan bagi RAF.

Kelompok-kelompok antifa pada saat itu memahami fasisme sebagai “fasisme” nya Jerman Barat, terisrimewa sekali sebagaimana yang digambarkan oleh kondisi penjara dan kelakuan-kelakuan polisi negara. Dari sini muncul “kelompok anti-imperialis” yang berkembang diawal 1980-an. Titik fokus yang terbesar bagi “antiimp” adalah layanan pada tahanan. Sebagai tambahan untuk hal ini, komunike RAF dan aksi-aksinya didiskusikan dan sebuah upaya diciptakan untuk mengkomunikasikan hal ini didalam gerkan perlawanan yang lebih luas dan mendukung inisiatif yang serupa.

Tambahan untuk konsep fron, dalam 1980-an RAF juga membuat teori atas masalah “jaringan industrial-militer”. Hubungan yang tak terpisahkan dilihat antara militer, industri, dan elit politik di negara-negara imperialis. Oleh sebab itu, target serangan, dapat bukan hanya aparat militer dan represi, namun juga kaum industrialis dan politisi.

Tak lama setelah mempublikasikan Dokumen Mei, RAF menderita serangan yang berat pada bulan Nopember 1982. Dengan penangkapan Adelheid Schulz, Brigitte Mohnhaupt, dan Christian Klar, tiga anggota komando hilang. Kejadian sesudah penemuan tempat penyimpanan 13 senjata telah menghilangkan dari kelompok ini banyak dari infrastrukturnya. Tahun berikutnya juga ditandai dengan penindasan yang serius. Pada 1984, lagi 9 anggota RAF dipenjara, dan tak ada serangan dilakukan selama periode ini.

Ofensif Baru

Baru hingga Desember 1984 RAF menjalankan aksinya yang lagi, serangan bom yang gagal pada sekolah perwira NATO di Oberammergau. Mogok makan yang lain juga dimulai pada Desember 1984, dan berakhir hingga Pebruari 1985. Mogok makan ini barengi oleh gelombang serangan yang hingga sekarang dianggap unik didalam sejarah RAF. Bukan hanya spektrum antiimp, kancah autonomist juga dimobilisir mendukung mogok makan. Dalam waktu delapan minggu dari Desember sampai Pebruari paling kurang terdapat 39 pembakaran bangunan besar-besaran dan serangan bom dan juga sejumlah aksi yang lebih kecil. Pada 20 Januari 1985, terjadi serangan bom pada sebuah pusat komputer di Stuttgart-Vaihingen. Bom meledak secara prematur dan membunuh Johannes Thimme. Komradnya Claudia Wannersdorfer terluka serius dan ditangkap.

“Gerilya Eropa Barat”

RAF dan kempok Perancis “Action Directe” (AD) mengeluarkan sebuah komunike bersama bulan Januari 1985. Berjudul “Untuk Persatuan Kaum Revolusioner di Eropa Barat!”, dokumen tersebut mempropaganda pembentukan sebuah “gerilya di Eropa Barat”. Di akhir Januari, AD mengeksekusi Jenderal Rene Audran. Pada 1 Pebruari, sebuah komando RAF menembak dan membunuh industrialis senjata Ernst Zimmermann. Kedua Komando mengarahkan aksi mereka diarahkan untuk membantu yang lainnya. Dalam komunike menyusul penyerangan Zimmermann, RAF menyerukan para tahanan mengakhiri mogok makan mereka, yang segera terjadi. “Gerilya Eropa Barat Sedang Mengoyang Sistem Imperialis merupakan slogan yang menyatukan RAF, AD, dan kelompok tempur Belgia Sel-sel Tempur Komunis (CCC) tahun 1985. Meskipun terdapat sejumlah perbedaan ideologis dengan kelompok yang terakhir, aksi kelompok-kelompok tersebut diarahkan untuk membantu satu sama lain, dan kelompok-kelompok tersebut saling berkerjasama dalam hal logistik. Dalam media, “gerilya Daerah Eropa Barat” menjadi musuh publik nomor satu, dan konsep tersebut sangat kontroversial didalam kaum militan kiri. Dengan penangkapan anggota terkemuka CCC bulan Desember 1985 dan penangkapan empat anggota AD Pebruari 1987, dua kelompok tersebut terhenti kehadirannya. Itu mengakhiri sejarah pendek “gerilya daerah Eropa Barat”.

Penyerangan Pangkalan Udara

Bulan Agustus 1985, RAF membom Pangkalan Undara Rhein Main Angkatan Udara AS. Agar mendapat akses ke pangkalan, komando RAF membutuhkan sebuah Kartu Identitas orang Amerika, jadi mereka menyeret seorang prajurit AS bernama Pimental keluar dari sebuah diskotik disuatu larut malam. Dia kemudian dibunuh didalam hutan untuk menghindari menjadi seorang saksi. Dua orang yang lain tewas dalam serangan bom di pangkalan tersebut.

Spektrum kaum militan melihat secara kritis serang tersebut, terutama sekali mengenai kematian Pimental, yang disebut RAF “kebutuhan saat praktek”. Semua pencapaian gerakan perlawanan yang telah diciptakan selama mogok makan sekarang hilang. Kritisisme menjadi sangat hebat hingga memaksa RAF meresponnya. Pada Januari 1986, RAF engeluarkan sebuah dokumen yang diberi judul “Kepada Mereka Yang Berjuang Bersama Kami”. Dimulai dengan baris yang berbunyi: “Hari ini, kami katakan bahwa penembakan prajurit AS tersebut dalam situasi konkrit di musim panas lalu merupakan sebuah kesalahan yang telah menghalangi efek serangan ke pangkalan dan perbincangan mengenai orientasi aksi politik-militer, dan ofensif secara keseluruhan.”

Latar belakang konsesi oleh RAF adalah Konggres Anti-Imperialis Internasional yang diadakan di Frankfurt dari 31 Januari hingga 4 Februari, 1986. Konferensi ini, diorganisir oleh spektrum antiimp, dihadiri oleh perwakilan dari seluruh Eropa dan Amerika Latin dan menjadi sumber perhatian/great interest karena lebih dari seribu orang mengambil bagian. Walaupun ada ancaman pelarangan, konggres tersebut dilangsungkan juga, namun tidak sukses. Kalangan Autonomists secara khusus menyuarakan kritisisme yang hebat, terutama berkaitan dengan penembakan prajurit AS tersebut, tapi kitik mereka ditujukan pada konsep RAF secara keseluruhan.

Di musim panas 1986, RAF memulai kembali kampanye pembunuhannya: Beckurts, kepala korporasi Siemens, dan supirnya tewas dalam serangan bom bulan; pada Oktober, Braunmuhl, direktur kementerian pada Kementerian Luar Negeri, ditembak. Dengan kata lain, tidak ada perubahan fundamental dalam strategi RAF dan kelompok tersebut tetap terisolasi dari sektor-sektor yang luas dari gerkan kaum militan. Tapi represi dari aparatus negara: pada 1986, anggota RAF Eva Haule-Frimpong ditangkap. Sampai 1993, negara tidak mampu menangkap anggota RAF yang lain. Tapi kancah anti-imperialis menderita rangkaian pengrebekan, penangkapan dan pengaduilan tanpa.

Lereng Terakhir Ke Penghabisan

Setelah tergelincir aksi tahun 1987, RAF merubah strateginya mulai 1988. Target penyerangan serangan meiliki beberapa hubungan dengan tema gerakan perlawanan di Jerman.

Serangan yang gagal atas Sekretaris Keuangan, Tietmeyer di bukan September 1988 dihubungkan dengan keterlibatannya dalam konggres tahunan IMF. Dan saat kepala Deutsche Bank, Herrhausen, tewas dalam serangan bom di bulan Nopember 1989, komunike RAF untuk aksi tersebut juga mengarah kepada IMF dan Bank Dunia. Hingga 1991 terdapat serangkaian serangan gagal yang terjadi kadang-kadang oleh RAF, dan komunike-komunikenya menjadi bertambah tidak terpusat. Pada 1 April, 1991, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Rohwedder, kepala “Treuhandanstalt”, badan negara yang ditugaskan menjual aset-aset industri di bekas Jerman Timur. RAF menyatakan dalam komunike mereka bahwa mereka dimasa-masa akan datang, akan, mengarahkan dirinya lebih kepada menceburkan diri dalam perjuangan sosial. Serangan atas Rohwedder dimaksudkan sebagai sarana untuk mempengaruhi perlawanan yang dibayangkan dilakukan orang-orang Jerman Timur terhadap restrukurisasi kapitalis.

Juga pada waktu-waktu itu kontak-kontak antara RAF dan Kementerian Keamanan Negara DD, atau “Stasi” sejak permualaan 1980-an diketahui. Bekas-bekas anggota RAF yang menjadi perlindungan di Jerman Timur ditangkap dan menjadi saksi negara dalam pengadilan melawan kawan-kawanya dulu. Kontak-kontak Stasi, saksi negara ini, ketaksepakatan diantara para tahanan, dan penampakan kekurangan kejernihan diantara mereka-mereka yang masih bergerak dibawah tanah membawa kepada pembubaran banyak kelompok-kelompok anti-imperialis. Pada April 1992, RAF mengeluarkan statemen mengemukakan re-orientasi politik mereka. Runtuhnya sosialisme yang telah berdiri dan mundurnya gerakan pembebasan di Tiga Benua telah menciptakan situasi yang benar-benar berbeda. Pendekatan vanguard kelompok telah digantikankan dengan penciptaan “kekuatan-kontra dari bawah”. Statemen tersebut meneruskan dengan mengatakan: “Kami telah memutuskan untuk menarik mundur ekskalasinya. Itu berarti kami akan menahan serangan atas perwakilan modal dan negara selama masa, proses yang sangat diperlukan ini.” (Komunike RAF, 10 April, 1992) Serangan terakhir RAF dijalankan Maret 1993. Segera sebelum penyelesaiannya, penjara Weiterstadt yang baru diledakkan.

Pukulan terakhir berhubungan dengan RAF terjadi bulan Juni 1993. Selama lebih dari setahun, negara Jerman mampu untuk mengupayakan salah satu mata-matanya, Klaus Steinmetz, mendekati tingkat komando dari RAF. Pada Juni 1993, Steinmetz menemui anggota RAF di restoran stasiun kereta api didalam kota Bad Kleinen. Pertemuan tersebut diintai oleh polisi. Selama penangkapan yang menyusul, anggota RAF Wolfgang Grams terbunuh dan Birgit Hogefeld ditangkap.

Front Militant

Front anti-imperialis dipropagandakan dalam Dokumen Mei RAF di tahun 1982 tak menemukan banyak gaung dalam kancah kaum kiri. Dalam rangka keluar dari situasi ini, RAF mengambil inisiatif sebuah “ofensif total”. Pada 4 Desember, 1984, tahanan-tahanan RAF, sebagaimana juga para tahanan lain yang bersolidaritas dengan mereka, melancarkan aksi mogok makan sembilan minggu. Perjuangan oleh para tahanan disertai oleh gelombang serangan. Untuk pertama kalinya, spektrum anti-imperialis menjalankan serangan bom besar-besaran. Sebagai banntuan atas usaha ini, sebuah surat kabar bawah tanah foto-kopian yang dinamakan “Zusammen Kaempfen” (“Berjuang Bersama”) muncul pada akhir 1984. Topik keluaran pertama adalah aksi mogok makan, dan serangkaian komunike aksi yang dilakukan “kaum militan bawah tanah” dari sembilan kelompok diterbitkan.

Militan-militan ini melihat dirinya sebagai bagian dari fron anti-imperialis Eropa Bagian Barat, mereka bertindak dalam konteks politik RAF. Konsep mereka mengenai “proyek-proyek militan yang terkoodinasi”, untuk membuka tingkatan baru dalam konfrontrasi, berada dalam satu garis dengan yang dikemukankan dalam Dokumen Mei. Kaum militan, seperti RAF, melihat dirinya sebagai kaum internasionalis. Itulah mengapa mereka menamakan komando-komando mereka dengan nama para martir anti-imperialis luar negeri. Mulai tahun 1986, militant mulai menandatangani komunike-komunike mereka sebagai “Unit Tempur”, dengan nama komando yang serupa sama seperti RAF.

Para aktivis bawah tanah ini terutama sekali menjalankan serangan bahan peledak dan pembakaran dengan tingkat teknis yang matang. Sebagai contoh, satu “Unit Tempur” meledakkan sebuah bom mobil diluar kantor pusat “Verfassungsschutz”, badan intelejen federal, di Cologne. Militan-militan ini tak pernah menjalankan serangan penembakan tidak juga mengarahkan aksi mereka terhadap orang tertentu

Militan melancarkan sembilan serangan di tahun 1986. Capaian tertinggi ini dalam aktivitas mereka diikuti gelombang represi. Pada 1986, banyak orang dari spektrum antiimp ditangkap dan dijatuhi hukuman karena serangan Unit Tempur. Ini dengan sementara menghentikan serangan oleh militan. Tapi surat kabar “Zusammen Kämpfen” masih dipublikasikan secara berkala hingga 1991. Setelah serangan RAF atas kepala Deutsche Bank Nopember 1989, Unit Tempur melancarkan empat serangan antara Desember 1989 dan Februari 1990. Dua bom terdeteksi dan dilucuti. Setelah itu tak ada lagi aksi Unit Tempur.

‘De Knipselkrant’

Publikasi menyangkut kelompok-kelompok bersenjata juga diterbitkan di Belanda, “De Knipselkrant”. Dokumen tersebut mendefinisikan diri sebagai militan, terbitan revolusioner dengan fokus internasionalis. Surat kabar tersebut berisikan kumpulan artikel surat kabar, komunike, dan laporan-laporan dari seluruh dunia. Jarang terdapat suatu editorial. Sebagai sarana dokumentasi, komunike dari negeri-negeri berbeda diterbitkan dalam bahasa asli mereka. Ada teks dalam bahasa Inggris, Belanda dan Jerman, well as terjemahan bahasa Jerman dari banyak teks. “De Knipselkrant” menjadi organ gerilya Eropa Bagian Barat dan menampilkan posisi RAF. Diterbitkan setiap dua kali seminggu, surat kabar tersebut membuat dimungkinkannya mendapatkan pertukaran informasi yang terus menerus. Komunike dan teks dari RAF dan kelompok lain dapat dikirim ke langganan di Jerman, sambil menghindari represi dari pihak otoritas Jerman. Pada 1988, terjadi konflik diantara editor “De Knipselkrant” dan persengketaan dengan kaum autonomists di Amsterdam. Konflik ini membawa berakhirnya proyek tersebut di awal 1989.

Sel Revolusioner (RZ)

Di tahun 1973, Sel Revolusioner (RZ) menjadi kelompok ketiga di Jerman Barat yang mengangkat senjata. Walaupun RZ mengikuti konsep yang berbeda dibanding Gerakan Dua Juni dan RAF, ketiga-tiganya berbagi akar yang sama. Perang Vietnam merupakan penggerak utama yang membawa kepada pembentukkan RZ. Mereka, juga, ingin mengembangkan sebuah gerilya, dan sama seperti RAF, mereka memiliki hubungan erat dengan gerakan perlawanan orang-orang Palestina. Seperti apa tepatnya kedekatan hubungan RAF dan RZ tersebut dengan orang-orang Palestina diperlihatkan oleh aksi pertama yang memberikan RZ pengakuan international. Dibawah kepemimpinan salah satu “teroris peringkat atas” yang paling dicari diseluruh dunia, Ilich Ramirez-Sanchez, dikenal dengan nama lain sebagai “Carlos”, satu komando berkebangsaan campuran Jerman-Palestina menyerbu Pertemuan Puncak OPEC di Wina bulan Desember 1975 dan mengambil 11 menteri puncak pemerintahan sebagai sandera. Saat komando menyerbu bangunan tersebut, tiga anggota kesatuan keamanan tewas, dan anggota RZ Hans-Joachim Klein terluka parah. Sebagai tambahan untuk terlukanya Klein, anggota RAF Gabriele Krocher-Tiedemann juga mengambil bagian dalam aksi tersebut. Aksi penculikan didesain untuk meletakkan tekanan pada negara-negara Arab untuk mengambil kedudukan yang tegas melawan Israel. Para menteri tersebut kesemuanya dibebaskan di Afrika Utara, dan komando menghilang. Pada akhir Juni 1976, sebuah komando terdiri dari dua orang Palestina dan anggota RZ Brigitte Kuhlmann dan Wilfried Bose membajak pesawat penumpang Air France dengan 257 orang diatasnya. Aksi ini didesain untuk memenangkan kebebasan tahanan politik didalam penjara Jerman dan Israel.

Pesawat berangkat dari Tel Aviv dan sejumlah besar penumpangnya adalah orang Israel. Aksi tersebut didesain untuk memberi tekanan pada pemerintahan di Jerusalem. Setelah memaksa pesawat mendarat di Entebbe, Uganda, semua sandera bukan Yahudi dibebaskan. Pada 4 Juli 1976, satu unit pasukan khusus Israel menyerbu pesawat dan membebaskan para sandera. Semua anggota komando terbunuh.

Rote Zora

Didalam konteks RZ, sebuah organisasi perempuan yang bersifat otonom yang dinamakan “Rote Zora” berkembang. Meskipun Rote Zora mengikuti konsep fundamental yang sama dengan RZ, kelompok tersebut merupakan ekspresi feminis radikal dari gerakan perempuan. Tapi kelompok tersebut tidak hanya semata-mata memfokuskan diri pada isu-isu perempuan, dan Rote Zora menjalankan aksinya sebagai bagian dari kampanye RZ, sebagai contoh melawan pertemuan puncak NATO tahun 1982.

Salah satu dari aksi Rote Zora yang paling terkenal dan sukses muncul tahun 1987: Sementara buruh perempuan Korea sedang melakukan mogok melawan korporasi tekstil Adler, yang mendorong produksinya karena harga tenaga buruh yang murah di Korea, Rote Zora mendukung usaha pemogokan para perempuan tersebut. Satu malam di Juni 1987, terjadi serangkaian peledakan bom api yang ditujukan melawan rantai pertokoan Adler. Korporasi segera menyerah pada tuntutan buruh perempuan Korea yang sedang mogok.

Represi Terhadap RZ di Jerman

Sebuah film yang berjudul “Operasi Entebbe” dibuat mengenai drama penyanderaan Entebbe dan aksi tentara Israel. RZ berusaha menghentikan pemutaran film dengan serangan bom api. Setelah satu aksi pada Januari 1977, Enno Schwalm dan Gerhard Albartus ditangkap. Polisi menemukan persenjataan, amunisi, identitas palsu, dan rencana untuk aksi mendatang. Kedua lelaki tersebut dikenai hukuman karena “keanggotaan dalam organisasi teroris” dan dijatuhi hukuman beberapa tahun didalam penjara.

Menyusul gelombang serangan Rote Zora terhadap Adler, serangkaian pengrebekan di rumah dilaksanakan terhadap 33 orang diseluruh Jerman dibulan Desember 1987. Ingrid Strobl dan Ulla Penselin ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara Juni 1989 karena memberi dukungan kepada Rote Zora. Hanya ini dua kali kesempatan ketika individu dihukum karena keanggotaan dalam atau mendukung RZ.

Perubahan

RZ mengalami perubahan pada strukturnya pada akhir 1970-an. Menyusul aksi Entebbe, yang diakui dilakukan oleh “Seksi Internasional” RZ, salah satu bagian dari gerakan RZ memutuskan kontak dengan gerakan perlawanan Palestina. Terjadi konflik internal, yang didiskusikan dalam dokumen “Gerd Albartus telah Mati”, dipublikasikan di bulan Desember 1991: “He shared the criticisms of other comrades, dengan siapa kami telah melakukan diskusi yang sengit, hingga ke tingkat perpecahan, karena keputusan kami untuk memutuskan kontak internasional. Ia merasa the reduction pada struktur kami merupakan sebuah kelemahan, bahwa mendiskusikan perbedaan politik menunjukkan suatu perpecahan. … For the deceptive advantage, ia katakan, of a ‘clean slate’, kami telah membawa RZ to the level of leftist small group militancy and abandoned all claims of guerrilla struggle.”

Sekelompok kecil aktifis RZ tetap setia kepada pendekatan mereka yang sebelumnya. Kontak-kontak dengan PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine), sebuah kelompok perlawanan Palestina kecil, tetap dipelihara. Tapi RZ di Jerman membuat pemutusan secara tuntas dengan tradisi ini. Tak ada hubungan apapun antara keduanya, baik dalam konsep juga dalam logistik. Pada 1982, sejumlah orang berkebangsaan Jerman ditangkap di Roma dan Paris karena membawa bahan peledak dan senjata untuk gerakan perlawan Palestina. Gerd Albartus kembali ke Lebanon di bulan Desember 1987 dan, denga sebab-sebab yang sampai saat ini belum jelas, diadili dan dieksekusi oleh kelompoknya sendiri.

Popularitas RZ

Popularitas RZ diantara kaum militan kiri sebagian disebabkan variasi bentuk-bentuk aksi mereka, dengan segala dari/ with everything from membagi-bagikan tiket kereta api yang telah dipalsukan hingga melakukan pemboman. Faktor lainnya yang penting adalah strategi RZ di tahun 1980-an adalah tidak membunuh manusia. Ketika Menteri Ekonomi untuk negara bagian Hesse, seorang laki-laki yang bernama Karry, meninggal selama penyerangan RZ memprotes konstruksi landasan pacu bandara Startbahn West, kelompok tersebut mendapat banyak kritik. Tak ada lagi kematian dari serangan-serangan RZ setelah peristiwa tersebut.

Konsep atau Organisasi?

RZ lebih menyerupai konsep dibanding sebuah organisasi. Slogan “Ciptakan Banyak Sel-sel Revolusioner!” merupakan sebuah seruan bagi setiap orang untuk menjalankan aksi-aksi RZ. Orientasi politiknya adalah kepada gerakan yang sedang berlangsung, dan diskusi-diskusi digalakkan dengan alat komunike-komunike dan teks-teks lain. Ini berbeda dari konsepsi RZ yang awal. Pada awalnya, RZ menginginkan menjadi sebuah inti yang terorganisir, berkait dengan gerakan dengan tujuan meradikalisir mereka dan akhirnya membentuk gerakan gerilya. Dengan tanpa benar-benar membuang tujuan awal ini, pandangan lama bertansformasi. Terdapat juga perkembangan yang tidak seimbang didalam RZ. Ada sejumlah RZ, sering disebut RZ Tradisional, yang mengadaptasi model lama, kemudian ada orang-orang yang hanya sekedar menggunakan nama RZ untuk menjalankan aksi-aksi – dengan kata lain, itu hampir seperti terdapat RZ yang terorganisir dan tak terorganisir sekaligus

Konsep RZ di tahun 1980-an

RZ menolak politik kepeloporan dari kelompok-kelompok semacam RAF. Berikut adalah sebuah kutipan dari “Delapan tahun RZ – Two Steps Forward In The Struggle For The Minds Of People, And Our Own”, sebuah teks RZ yang disiarkan di 1981: “…Kami pikir tidak mungkin untuk menjalankan serangan terhadap lembaga-lembaga pusat pemerintahan: We can’t pose the question of power! Kami tidak sedang melangsungkan peperangan! Sebaliknya, kami sedang berada pada permulaan perjuangan yang panjang dan sulit untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat – bukannya langkah pertama menuju sebuah kemenangan militer”. RZ menganjurkan perjuangan bersenjata dari status legalitas. Hal itu menunutun penyelidik negara untuk menyebut mereka “weekend terrorists”, tapi pendekatan RZ terbukti berhasil. Anggota-anggota RZ yang anonim dapat mengikuti efek dari aksi-aksi mereka secara langsung dan membawanya kedalam pergerakan. Karena anggota-anggota RZ tidak diketahui, tetapi juga tidak hidup dibawah tanah, mereka lebih terlindung dari represi. Hal demikian tidak berlaku bagi anggota-anggota RAF, bagi mereka menghabiskan seluruh hidup dalam ilegalitas merupakan salah satu prasyarat.

Akhir dari gerakan RZ

Konsep RZ concept hanya dapat berfungsi in correspondence with pergerakan yang lebih luas. Tanpa pergerakan semacam itu, RZ terreduksi hingga menjadi sebuah bentuk aksi bersenjata, terisolir dan dekat dengan kepunahan. Itu tepatnya yang terjadi di pertengahan 1980-an dengan penurunan gerakan otonomis.

Di tahun 1986, RZ memulai sebuah kampanye militan melawan deportasi polisi dan otoritas dengan slogan, “For Free Floods! Berjuang Untuk Hak Tinggal bagi Pengungsi dan Immigran!” Ini merupakan sebuah perpisahan dari konsep baru RZ. Tidak terdapat pergerakan luas yang sedang mendukung para pengungsi dan kaum imigran dimana RZ dapat melakukan kerja-kerja, tidak juga sebuah gerakan luas didalam kiri radikal dengan fokus semcam ini. RZ mencoba memulai suatu pergerakan dengan tangan mereka sendiri. Dalam teks yang berjudul “Akhir dari Politik Kita” yang dikeluarkan January 1992, RZ menyatakan: “Kami melihat kemungkinan dalam hubungan kami dengan tema-tema sosial dan kampanye pengungsi untuk menciptakan sebuah lingkungan aksi baru untuk solidaritas internasional di metropolit-metropolit dan membukanya dengan tangan kami sendiri”.

Pada Januari 1991, RZ mengakhiri kampanye, dan setahun kemudian sebuah pernyataab mengenai pembubaran gerakan RZ dikeluarkan. Meskipun beberapa serangan masih dijalankan dengan nama RZ, itu tidak meluputkan fakta bahwa konsepsi RZ menemui jalan buntu dalam situasi-situasi 1990-an.

Untuk Perjuangan Massa dan Subversi

Bagian Pertama

“Jika kau tidak membebaskan diri dari tali yang mengikatmu ketika kau masih hidup, apakah kau berpikir bahwa hantumu akan melakukannya setelah itu?” –Kabir

Pada titik ini, tidak ada yang tidak bersalah dan semua telah membuat pilihan mereka. Tidak ada satu orang pun yang tidak menentukan posisi. Orang-orang saling menguji satu sama lain, menguji tatanan masyarakat, menguji seberapa jauh mereka dapat melangkah. Melenturkan otot mereka, kemudian berbicara, sebelum bentrokan. Kau dapat melihat dalam cibiran seseorang yang menyalahkan imigran atau kaum muslimin dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang asing. Siapa yang akan bereaksi?

Tidak ada informasi lebih untuk disebarluaskan. Tidak ada strategi sekarang. Tidak ada pertemuan yang akan mengubah dunia. Hanya ada puisi dan pemberontakan. Terdapat penemuan dari sebuah gerombolan. Terdapat penemuan dari diri sendiri. Dan dalam sebuah penemuan, diperlukan serangan meskipun putus asa.

Tidak ada cetak biru untuk dunia masa depan. Kami tidak akan berjanji atau berpura-pura ada sesuatu. Apa pun yang bisa kita temukan sekarang akan terkontaminasi oleh penjara dimana kita hidup. Kami tidak memiliki struktur tetap atas apa yang akan terjadi ‘setelah’. Sama seperti bayi tidak bisa membayangkan apa yang ada di luar rahim sebelum dia dilahirkan, jadi kita harus berjuang melawan pembiusan ‘kenyamanan’ dari kegelapan ini dan melihat kebohongan apa yang terletak di luar semua yang kita tahu.

Kami menyerang karena kami harus, bukan karena kami mengharapkan sesuatu, bukan karena kami memiiki sebuah “rencana”, bahkan bukan karena kami membayangkan bahwa kami akan menang.

Terserah apapun yang akan dimenangkan, kita bisa menang setiap hari di sini, sekarang, dan itulah kemenangan otonomi kita, penolakan kita, inisiatif kita, serangan kita, persahabatan kita, projectual kita. Hari ini kita menang dengan berserah pada keinginan kita lebih dari pada ketakutan kita, dengan berserah pada keberanian lebih dari pada kenyamanan kita. Menyerah pada naluri untuk hidup daripada naluri untuk keamanan.

Apa yang berusaha kita pegang untuk terus masuk dalam sikap apatis kita, kepatuhan kita? Apa yang begitu berharga? Jika kita hanya memiliki satu kehidupan, maka mengapa kita membiarkan orang lain mendikte bagaimana kita harus hidup? Untuk hidup satu hari secara murni, cinta yang berkilauan dan amarah pasti lebih bernilai dari ribuan kali merangkak dengan lutut kita . Sebuah klise tentu saja, tapi satu yang pasti sudah dilupakan.

Hanya mereka yang dapat membebaskan diri dari rasa takut dan pengkondisian masyarakat modern yang akan dapat mengubah hidup mereka. Tak ada yang lebih dari itu. Hidup tidak dapat diketahui dalam totalitas itu, kebenaran hanya muncul ketika ditempa melalui kehendak bebas yang berani, sumber tak terbatas dan tidak bisa dihancurkan dari semua ide.

Ada dua kelas dari manusia – yang termasuk dan tidak. Sejarah manusia adalah perjuangan antara kelas-kelas yang berlawanan.

Di jantung individu terdapat kapasitas untuk melampaui semua batas yang dipaksakan oleh sistem otoriter, kemungkinan untuk mengubah realitas melalui tindakan karakter yang luar biasa. Untuk masyarakat bebas di masa depan, hari ini harus rata dengan tanah dan reperesentasinya harus jatuh dalam hujan peluru.

Kelanjutan sejarah dari kecenderungan anarkis komunis-nihilis hanya disebabkan oleh individu dan kekerasan massa melawan para penghisap.

Kami adalah individualis karena kami adalah manusia dan kami ingin melihat pembebasan masing-masing diri dan setiap individu untuk potensi mereka sepenuhnya.

Kami adalah nihilis karena kami sudah menyerah pada ‘harapan’ dan kami datang untuk berdamai dengan realisasi dari chaos physics, dalam kesadaran materia prima.

Kami anarkis karena kami ada untuk komunisme tanpa negara. Dalam tujuan ini, kami mengorganisir secara kolektif untuk secara langsung menyerang modal, negara dan keterasingan menggunakan spektrum penuh semampu kami, dan selalu sesuai dengan visi libertarian kami dari sebuah kebebasan total.

Pergelokan massa-sosial-anarkis semakin besar dan tak terkendali, dan terdapat banyak fragmentasi sosial, kemudian kurangnya kohesi menambah bahaya bagi kami. Sederhanannya, kami tidak tertarik pada politik, dialog, permainan kiri-sosial. Kami tertarik dalam organisasi revolusioner, senjata dan ide.

Kami berada di luar dan melampaui batasan moralitas dan budaya palsu yang dominan. Kami akan menciptakan nilai baru yang luas melalui tindakan kami, atau kami akan mati dalam sebuah usaha, yakin pada kekuatan vital keabadian seperti gelora musim semi yang melawan sistem kematian.

Tujuannya adalah untuk menciptakan situasi di luar kendali siapa pun, di mana kehancuran dahsyat dari sistem kapitalis dapat berlangsung.

Ide-ide kami tidak dilihat sebagai tujuan dalam dirinya, tetapi sebagai senjata untuk menciptakan realitas. Untuk sepenuhnya menyadari hal ini adalah untuk menghadapi kebebasan dimana didalamnya kita pernah diajarkan atau dikondisikan untuk percaya bahwa semuanya adalah benar, dan semuanya mungkin, tidak ada kepastian, dan konsekuensi dapat mengerikan. Tertawa tampaknya menjadi satu-satunya pertahanan terhadap realisasi ‘ketiadaan’ yang nyata.

Dengan demikian anarki mengabarkan kedatangan kematian semua ideologi dan sistem identifikasi. Chaos ada di sini – tepat di depan mata Anda.

Tujuannya adalah untuk menciptakan realitas baru dengan bertindak keluar dari ide-ide kita menuju kesimpulan radikal mereka. Pasukan dengan kehendak bebas akan cukup kuat untuk menghancurkan semua dewa ilusi dan sistem politik – anjing penjaga dari modal akan ketakutan oleh individu bebas yang akhirnya menolak untuk tunduk kepada dominasi apapun.

Anti-System Cores

Terjemahan ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian dalam tulisan anti system cores dengan judul asli “For Mass Struggle and Subversion”. Diterjemahkan oleh Terik Matahari. Sumber: http://www.theanarchistlibrary.org/authors/Anti_System_Cores.html

Sabate: Musuh Publik Nomor Satu

Lelaki pemberani ini lebih dikenal dengan nama El Quico. Revolusioner anarkis sekaligus gerilyawan gigih yang terus berjuang hingga akhir hidupnya. Lahir pada tanggal 30 Maret 1915 di L’Hospitalet de Llobregat yang terletak di Catalonia, Spanyol dengan nama Francesc Sabaté Llopart.

Pada usia 10 tahun, Sabaté melarikan diri dari sekolah klerikalnya. Di usia 17, tahun ia bergabung dengan kelompok aksi anarkis bernama “Los Novatos” (Para Pemula). Kelompok ini merupakan bagian dari Federasi Anarkis Iberia (FAI, juga dikenal dengan nama CNT- FAI karena hubungan dekat dengan Confederación Nacional del Trabajo, sebuah serikat buruh industri). Los Novatos terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintah konservatif dari Republik Spanyol Kedua pada tahun 1933-an dan berjuang melawan upaya kudeta tentara pada awal Perang Saudara Spanyol pada bulan Juli 1936. Pada tahun 1935 Sabaté menolak bergabung dengan dinas militer. Ini adalah salah satu awal yang menandai dimulainya kehidupan Sabaté di luar hukum. Juga di tahun ini, Los Novatos melakukan perampokan mereka yang pertama untuk mendanai kelompok anarkis lain yang mengadvokasi penjara.

Selama Perang Sipil, Sabaté berjuang di garis depan di wilayah Aragon bersama kamerad lain yang tergabung dalam “Young Eagles Column” yang juga merupakan bagian dari CNT-FAI kala itu. Ketika divisi ini ditugaskan secara paksa oleh seorang komisaris Stalinis yang menghancurkan demokrasi dan inisiatif bebas dari kolom, Sabaté dan dua rekannya menembak mati komisaris ini dan mengungsi ke Barcelona. Di sinilah dimulai petualangan aksi dimana Sabaté bersama kawannya yang lain melakukan banyak misi atas nama FAI melawan penguasa Stalinis.

Akhirnya Sabaté ditangkap oleh Komunis, tetapi dengan bantuan istrinya, ia dan beberapa kawan-kawan lainnya berhasil kabur dari penjara saat beberapa penjaga berlaku ceroboh. Ketika perang berakhir, insureksionis ini bergabung dengan Divisi 216 atau lebih dikenal dengan nama Durruti Column yang melintasi perbatasan Prancis. Di Perancis selama Perang Dunia II, ia menghabiskan waktu di kamp-kamp konsentrasi dan berjuang bersama para pemberontak Maquis yang menentang rezim Vichy.

Setelah perang berakhir, Sabaté kembali ke Spanyol untuk melakukan perlawanan terhadap rezim Franco. Aksi pertamanya adalah membebaskan tiga anarkis dari tahanan polisi. Dalam periode ini sebagian besar aksi yang dilakukan oleh Sabaté juga berupa perampokan terhadap para pengusaha kaya dan bank-bank besar untuk mendanai kegiatan anarkis. Dia juga mencoba berbagai upaya pembunuhan yang berhasil melawan tokoh Falangist dan anggota Garda Sipil.

Setelah mencoba untuk membunuh seorang komisaris polisi, Sabaté secara tak sengaja menyerang mobil yang salah, membunuh penghuninya. El Quico akhirnya melarikan diri kembali ke Prancis, tapi berhasil ditangkap dan dipenjara selama enam tahun. Oleh penguasa saat itu, dia digambarkan sebagai “Public Enemy Number One”. Pada tahun 1960, pada usia 45, ia akhirnya tewas di Sant Celoni oleh Somaten, sebuah organisasi paramiliter Catalan, yang dibentuk pada masa pemerintahan fasis Francisco Franco dan Garda Sipil. Sabaté tewas bersama dengan empat sahabat gerilyawan lain.

Brad Will: Anarkis Katalis

Seorang anarkis, aktivis, dan jurnalis yang pergi ke Meksiko untuk mendokumentasikan pemberontakan petani – tapi di sana, ia mendokumentasikan kematian nya sendiri.

Bahkan sebelum peluru polisi Meksiko membunuhnya, para ‘pengagum’ Brad Will lebih memandangnya sebagai simbol ketimbang manusia. Inilah yang diingat teman-teman anarkis – jurnalis berusia 36 tahun itu: Brad yang tinggi dan kurus memakai hoodie hitam dan mengangkat kedua kepalannya ke udara ala Rocky di atas sebuah gedung kumuh di East Village yang hendak di gusur; Brad, sambil mengangkat sepeda di atas batu, melarikan diri dari polisi di atas atap taksi; Brad, dengan kostum bunga matahari, memprotes kebun-kebun gerilya New York di depan Balai Kota.

Brad (ia jarang memakai nama belakangnya, merahasiakannya untuk berjaga-jaga kalau anda seorang polisi) biasanya mengikat rambut coklat panjang nya, tapi untuk perempuan yang tepat – dan banyak perempuan tampak tepat bagi Brad – dia akan mengurainya hingga nyaris mencapai pantat. Jessica Lee, salah satu dari sedikit wanita yang menolaknya, berkenalan dengan Brad di sebuah aksi Earth First! di Virginia pada musim sebelum dia terbunuh. Mereka berpisah dari kerumunan dan menuju sebuah air terjun, di mana Brad melepas semua bajunya dan mengajak Lee, yang mengenakan pakaian renang, untuk berdiri bersamanya di balik lembar-lembar air yang jatuh. Brad berusaha menciumnya, tapi dia menolak. Lee berpikir Brad kehilangan sesuatu di dalam dirinya “Sepertinya dia tidak merasa utuh, terlalu kesepian,” katanya. Mungkin dia lelah setelah berada di garda depan sebuah revolusi yang tak pernah terwujud selama satu setengah dekade.

Dia adalah salah satu dari 50 “anarkis terdepan” di Amerika, menurut Nightline yang menayangkan foto Brad di tahun 2004, sebagai imbauan atas kabar kedatangan kaum nihilis berpakaian hitam menuju New York untuk mengganggu Republican National Convention. “Anarkis Terdepan” – istilah bodoh seperti itulah yang membuat Brad tertawa. Brad bukan seorang “pemimpin,” sebuah kata yang di bencinya; dia adalah seorang katalis; pemanjat yang mengajar anak-anak kota untuk membela pelestarian hutan disebelah barat pegunungan Rockies, orang pintar yang di harapkan dukungannya saat kita memberi laporan publik mengenai kancah anarkis di Yunani, Seoul atau Cincinnati, walau dia juga adalah orang yang ketawa-ketiwi ketika mengisi ruangan dengan kentut yang sangat bau.

Di tahun 1990-an, dia mengatur kelompok anarko-punk dalam memanfaatkan media dan memaksa Rudy Giuliani, walikota New York, untuk membatalkan rencana menjual kebun-kebun komunitas kota itu. Di dekade berikutnya, dia menjadi bintang sistem Anti-Bintang di Indystar, sebuah jaringan pers yang memungkinkan aktivis yang berkomunikasi dan berorganisasi langsung ketimbang menunggu perjuangan mereka terdistorsi di Nightline.

Brad tampak ada di mana-mana: seorang teman mengingatnya berada di Ekuador, memungut sepeda dari barikade yang terbakar; teman lainnya mengingatnya berada di Quebec City, bersepeda menuju kepulan gas air mata dan terkekeh atas pemberontakannya, sementara seorang teman menyiram mata nya dengan air.

Kini, Brad paling dikenal akibat menit-menit terakhir dari hari terakhir nyawanya, pada 26 Oktober 2006, di ibu kota Oaxaca, sebuah negara bagian di Meksiko Selatan. Dia datang kesana untuk mendokumentasikan sebuah mogok massal yang meledak menjadi pemberontakan melawan pemerintahan. Kamera videonya mengintip melalui kaca pecah untuk mengamati komputer yang rusak; menyorot asap hitam yang berasal dari mobil SUV terbakar; merangkak di bawah truk untuk memata-matai sekelompok orang, walau sebagian besar orang yang menonton video Brad di You Tube tidak tahu kelompok apakah itu. Mungkin mereka adalah polisi, tapi tak ada yang memakai seragam. Brad menyelinap menuju mereka bersama gerombolan kecil sambil membawa batu dan mercon, melawan pria-pria yang bersenjatakan 38 dan AR-15.

Dua menit sebelum penghabisan, Brad menuju pintu yang ia tahu kemungkinan memuat pria-pria bersenjata yang bersembunyi. Ketika Brad baru tiba di Oaxaca, pendukung pemerintah berseru di radio, “Si ves a un gringo con camara, matalo!” (Kalau kamu melihat orang asing yang membawa kamera, bunuh dia!) Itulah kata-kata terakhir yang terdengar di video Brad sebelum dia merekam kepulan asap-letupan senjata di balik matahari yang redup – dan lututnya sendiri bergerak menuju lensa, sementara dia tumbang, menuju trotoar: “No esten tomando fotos!” (Berhenti mengambil gambar!). Brad tidak mendengarnya.

Dia berencana kembali ke Brooklyn esok harinya. Selama tiga minggu yang di habiskannya sebelum tewas, Brad menertawakan kemampuan bahasa Spanyol-nya yang memburuk dengan memperkenalkan diri sebagai “Quebrado”(rusak). Tapi dia tidak tampak rusak. Dengan tinggi badan 188 cm dan tubuh lebar seperti ayahnya – anggota tim futbol Yale yang tak terkalahkan di tahun 1960 – dia ramping tapi kekar, “agak bau dan sangat ganteng,” menurut Kate Crane, sahabatnya. Di usia 20-an, ketika dia membawa ketapel – bukan kamera – ke demonstrasi, dia menganggap dirinya sebagai campuran antara pejuang dan penyair. Mantan murid Allen Ginsberg ini menyebutnya “eskalasi manis” dimana protes bukan saja jalan menuju tujuan, tapi juga sebuah cuplikan seputar dunia yang belum tercipta.

Ketika tiba di Oaxaca, di musim gugur 2006, dia menyebut dirinya jurnalis. “Kamera adalah senjatanya,” kata Miguel, pembuat film asal Brazil yang telah membuat Brad: One More Night At Barricades untk mengenangnya. “Jika saya mati lebih dulu,” kata Brad kepada seorang teman setelah melawan polisi saat protes di Praha, “Katakan ini kepada mereka: saya tidak pernah menyerah. Itu kutipan, ya?” pada akhirnya, hanya ada sebuah gambar, rekamannya yang terakhir, kepulan asap dari peluru yang menerjangnya.

“Yo d,” tulisnya kepada Dyan Neary, seorang mantan pacar, tiga hari sebelum kematiannya, “sedang melompat kesana kemari seperti wartawan disini – cukup menegangkan dan kadang-kadang mencurigakan.” Gubernur Oaxaca mengirim pasukan paramiliter dalam truk-truk bak terbuka yang menembaki barikade-barikade. Mayat-mayat bertumpukan. Brad mulai ketakutan. “Saya kembali ke kamar mayat – itu tempat yang sakit dan menyedihkan – saya punya firasat akan kembali kesana bersama gerombolan wartawan yang bersikut-sikutan untuk mendapat gambar yang bagus – mayat yang di jahit dan telanjang – itu ada di surat kabar setiap hari – saya sedang memasuki teritori yang baru dan belum tahu apakah saya sudah siap?”

Siap untuk apa? Revolusi? Darah? Brad sudah pernah melihat kedua hal itu, di Venezuela, Argentina, Brazil. Oaxaca lebih besar, menegangkan dan menakutkan. Yang tadinya berawal sebagai mogok oleh 70.000 guru meledak setelah gubernur menyerang guru-guru itu dengan gas air mata dan helikopter. Di Oaxaca, setiap organisasi berhaluan kekirian – grup pribumi, serikat, mahasiswa, petani, anarcho-punk – menyatu dalam sebuah koalisi yang belum pernah ada sebelumnya dan mengambil alih kota. Pemerintah nasional menyatakan seluruh negara bagian Oaxaca “tidak dapat diatur.”

Brad tahu apa tugasnya: Rekam itu semua! Dia mengirim kaset-kasetnya ke rumah, memutarnya di rumah-rumah ilegal dan toko buku anarkis. Dia berkata revolusi itu nyata, inilah buktinya. Ban terbakar, pemberontak bertopeng yang memasukkan kain ke dalam botol penuh bensin, petani yang membawa parang; dapur gratis, klinik berobat gratis, bus gratis yang di ambil alih oleh petani dan nelayan. Di sebuah pemakaman jalanan, wanita-wanita tua menyanyikan sebuah lagu radikal dengan tinju mengarah ke udara; di sebuah tenda merah di malam hari, seorang ayah menghantam kotak perak yang memuat jenazah putranya. Yang berduka berteriak, “La muerte al gobierno malo!” (pemerintah harus mati!) dan “Viva Alejandro!”. Alejandro Garcia Hernandez, 41 tahun, ditembak dua kali di kepalanya oleh segerombolan tentara yang berusaha mendobrak barikade yang dibuka agar ambulans dapat lewat. Brad berkabar ke tanah airnya, “dan kini Alejandro menunggu di Zocalo” – plasa kota – ”dia sedang menunggu persimpangan, perubahan, jalan keluar, jalan ke depan, sebuah solusi – menunggu bumi bergeser dan membuka – menunggu November, dimana dia bisa duduk bersama orang-orang tercintanya pada hari kematian dan berbagi makanan dan nyanyian…satu lagi martir dalam perang yang kotor…satu lagi peluru yang memecahkan malam.”

Kenilworth, Illionis bukanlah tipe kota yang melahirkan orang-orang radikal. Kota kecil yang berdekatan dengan pantai di sebelah utara Chicago ini adalah tipe tempat di mana rumah-rumah di kawasan “kumuh” hanya senilai beberapa juta dollar. Dalam sensus terakhir ada empat warga Afrika-Amerika, dan jika ada pendukung partai Demokrat di sekitar rumah Brad sewaktu kecil, mereka diam-diam saja, menurut Stephanie Rogers, seorang teman keluarga. “jika Kenilworth bukan contoh dari kota kelas teratas,” katanya, “itu hanya karena kami berada di kawasan Midwest. Anak-anak mempelajari model East Coast, kota-kota seperti Greenwich, Connecticut. Kenilworth ingin seperti itu.”

Lain halnya dengan keluarga Will. Mereka tidak mengikuti siapa-siapa. “Keluarga Will adalah peraih prestasi, pemimpin” kata Rogers. Bagi ketiga kakak Brad, itu berarti nilai yang bagus, olah raga dan organisasi pelajar. Brad berbeda, “Kami semua adalah anak yang aktif, penasaran, atletis, dan kami sering bergurau secara fisik,” kata Christy, kakak Brad yang bekerja sebagai desainer grafis di San Diego. “Brad kurang tertarik pada hal-hal itu.” Dia lebih menyukai fiksi ilmiah dan fantasi, seperti The Chronicles Of Narnia dan The Lord Of The Rings, dan Star Wars, salah satu dari sedikit persamaan kesukaan dengan ayahnya: Hardy, seorang insinyur yang memiliki pabrik kecil, senang membayangkan cara kerja dunia-dunia kecil. Brad senang membangun dunia-dunia kecil dengan mainannya dan mengarang kisahnya. Dia tidak tertarik pada monster-monsternya , melainkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan.

Salah satu film kesukaannya adalah It’s a Wonderful Life; Jimmy Stewart yang jangkung dan bersahaja menjadi panutan bagi jalan hidup Brad di dunia seiring pertumbuhannya. Dia berteman dengan semua kalangan di Kenilworth, termasuk para pecandu ganja.

Tapi dia perlahan-lahan mulai menyimpang dari siklus SMA – Kuliah – Kembali ke pinggir kota yang menjadi aturan yang normal di Kenilworth. “Membuka wawasan saya adalah perjuangan,” tutur Brad kepada sebuah surat kabar Venezuela, beberapa tahun kemudian. “Saya tidak tahu banyak tentang kenyataan di dunia, tapi perlahan-lahan saya memaksakan mata saya terbuka, tanpa bantuan siapapun.”

Anak-anak Will diharapkan menjadi atlet (Brad adalah pelari) dan menekuni instrumen musik. Tapi pada suatu hari, Brad mengumumkan bahwa dia akan berhenti bermain terompet demi bermain gitar. Bukannya bergabung dengan klab, dia malah bekerja sepulang sekolah, sebagai tukang kirim bunga, pengatur rak perpustakaan, atau penjual langganan surat kabar. “Brad itu membingungkan,” kata ibunya, Kathy. “Tapi dia bukan anak pemalas.”

Satu-satunya kewajiban yang tak dapat ditawar oleh anak-anak Will adalah kuliah. Wendy masuk Standford, Craig menyusul ayah mereka ke Yale, Dan Christy masuk Scripps College. Nilai-nilai Brad berkisar antara B dan C. Tapi setelah lulus ujian masuknya dengan baik, dia masuk ke Alleghany, sebuah sekolah kecil di Pennsylvania barat. Di sana ia ikut kelompok persaudaraan kampus, menggemari Grateful Dead dan mempelajari ‘On The Road’. Dia lebih banyak teler dan berbagi pipa ganja dengan Matt Felix, seorang pecinta lingkungan dari New Hampshire yang memperkenalkan Brad dengan Earth First!, sebuah bentuk kegiatan aktivis lingkungan yang ekstrim. Etos aksi langsung dan tindakan teatrikal itu membawa Brad ke daerah barat ketika dia lulus tahun 1992. Dia mengikuti jejak Hippie ke Boulder, Colorado, dimana ia mengambil kelas yang diajarkan Allen Ginsberg di Jack Kerouac School of Disembodied Politics, Naropa Institute.

Yang lebih berpengaruh lagi dibandingkan Allen Ginsberg adalah Peter Lamborn Wilson, yang dikenal lewat manifesto The Temporary Autonomous Zone, ditulis dengan nama samaran Hakim Bey. TAZ adalah sebuah pengkajian “anarki ontologis” dan “terorisme puitis” serta pedoman bagi kehidupan yang mulai dijalani Brad. “Yang terjadi adalah” tulis Wilson, “mereka membohongimu, menjual gagasan kebaikan & kejahatan, membuatmu tak mempercayai tubuhmu & malu atas pesan kekacauanmu, menciptakan kata-kata menjijikkan untuk cinta molekularmu, membuatmu terpukau dengan tidak diperhatikan, membuatmu bosan dengan peradaban dan semua emosinya yang berlebihan.” Pendapat Wilson tentang Brad, mahasiswa yang banyak bicara di kelas karena tidak membayar iuran pendidikan, adalah, “sangat enerjik, sangat cerdas, kurang terkendali, sembrono, nekat, mungkin itu bisa di bilang keberanian. Kadang-kadang gila, menawan semua orang.”

“Brad senang berada di pusat-pusat ide,” kata ibunya, yang bahagia bahwa setidaknya putranya memiliki pekerjaan. Dia tidak tahu bahwa putranya sudah tidak bisa membayar sewa. “Para penyair sekaligus teman sekamar saya yang gila itu melarikan diri,” tulisnya tentang perkenalannya secara tak sengaja ke dunia penghuni gelap. “Saya tetap tinggal dan bahkan tak punya nomor telepon pengurus gedung.” Itu cocok bagi Brad, dia mulai merasa bahwa uang adalah semacam konspirasi, sebuah bentuk pengendalian yang ditinggalkannya. Dia ingin menulis puisi: sebuah perwujudan yang berantakan, bahagia, marah dan melantur dari manifesto Wilson.

Upayanya yang pertama terjadi pada suatu musim panas, dimaa 50.000 anggota Promise Keepers, sebuah gerakan pria Kristen fundamentalis, mendatangi Boulder dan membagi-bagikan selebaran berjudul “The Iron Spear: Reaching Out to The Homosexual.” Brad tidak gay, tapi dia memutuskan untuk bertindak. Halaman Naropa Institute bersebelahan dengan lokasi perkumpulan Promise Keepers, jadi Brad mengadakan pertunjukan: dia menikahi seorang pria. Doa mengajak Wilson untuk meresmikan upacaranya dan Anne Waldman, seorang penyair, untuk menjadi ibunya. Seorang mahasiswa lain menjadi mempelai dengan gaun putih, dan Brad menemukan jas dan dasi. “Saya memang seorang pendeta di gereja Universal Life,” kata Wilson. Saya menikahkan mereka di depan Promise Keepers. Lalu Brad mencium mempelainya, sebuah ciuman panjang yang mendorong seorang anggota Promise Keepers untuk memanjat pagar dan memastikan apakah dia benar-benar melihat sepasang pria yang sedang berciuman. Brad menyatakan aksi itu sebagai sebuah kesuksesan ketika orang fundamentalis itu tetap tinggal. Mungkin dia berhasil diyakinkan bahwa para penyair mengadakan pesta-pesta yang lebih seru dibandingkan Promise Keepers.

Itulah perpaduan politik dan puisi yang terbayang oleh Brad ketika itu adalah puisi dan performa. Tapi Brad tidak menyukai panggung. Dia ingin pertunjukan itu berlangsung tanpa henti. Dari Boulder, dia pindah ke West Lima, Wisconsin, sebuah kota terlantar yang telah menjadi sebuah “komunitas yang disengaja” bernama Dreamtime Village. Dreamtime seperti versi surealis dari kota dimana Brad dibesarkan: ada kantor pos, gedung sekolah, rumah-rumah kecil dan nyaris tak ada aturan. Lalu pada musim panas 1995, Brad tertarik pada kisah-kisah yang di dengarnya oleh sejumlah penghuni gelap asal New York yang sedang berlibur. Ketika mereka hendak pulang, Brad menumpang.

“I moved to the big shitty as Giuliani time kicked in” tulisnya dalam esai We Are Everywhere, sebuah antologi anarkis. Di New York, setidaknya, para anarkis terkumpul di sekitar selusinan rumah gelap, gedung-gedung yang di tinggalkan pada masa kebobrokan kota itu dimana tahun 80-an, dan dipugar oleh siapa saja yang ingin tinggal tanpa membayar sewa. Itu ilegal, tentunya, dan itu yang menjadi daya tarik bagi Brad. Tinggal di rumah ilegal saja sudah merupakan salah satu bentuk aksi, dengan melawan aturan-aturan properti. Brad menemukan kamar kosong untuk ditempati di East 5th Street, tempat tinggal sekitar 60 “aktivis dan penghancur”, kata Pastrami, seorang guru Yoga yang bersahabat dengan Brad. Mereka mengangkut air dari hidran dan mencuri listrik dari lampu jalan. Lalu mereka mengosongkan sampah dari sebuah kavling kosong dan mengubahnya menjadi kebun dengan pohon pir. Mereka berbagi dengan para tetangga dari Puerto Rico, dan mendapat simpati daripara suster dari rumah jompo Cabrini, setelah ketakutan pada awalnya, mereka akhirnya berdoa untuk para makhluk muda yang liar namun berhati mulia ini. Yang makan dari sampah dan tanah kota yang beracun. Inilah kehidupan yang dicari Brad.

Anarkisme bukanlah sebuah ideologi tunggal, namun lebih seperti sejumlah filosofi yang saling beririsan, dan Brad ingin mempelajari semuanya. Dia sering datang ke toko buku anarki Blackout Books di kawasan Alphabet City, New York, lalu menghilang selama berhari-hari untuk membaca buku-buku yang di beli, di pinjam, atau diambil dari tempat sampah. Dia membaca tulisan Marcos, pemimpin pemberontakan Zapatista di Meksiko yang menjadi model baru bagi gaya anarkis. Dia membaca tulisan Kroptokin, ahli biologi Rusia di awal abad ke-20 yang menyumbang gagasan dasar anarkisme, yaitu “bantuan sesama”, dimana kerja sama, bukan persaingan, adalah sifat dasar manusia. Dia bergabung dengan gerakan-gerakan seperti Ruckus Society, Earth First! dan Reclaim The Streets. Inilah jaringan-jaringan tanpa pemimpin yang menerapkan ide-ide anarkis dalam bentuk aksi dengan taktik konfrontasi. Inti aksi mereka bukan menuntut, tapi menimbulkan ‘kekacauan’. Bagi Brad, tindakan langsung, lokal, tak tersaring setidaknya lebih penting ketimbang ideologi. Setidaknya secara teoritis, dalam prakteknya, kelompok-kelompok anarkis cenderung terlalu ‘puritan’, menolak untuk berbicara dengan rekan-rekan yang telah dianggap berkompromi. Lain halnya dengan Brad. Dia akrab dengan golongan anarko-primitivis yang memandang bahasa sebagai bentuk opresi, dan anarkis sosial, yang menulis buku dan membangun sekolah. “Dia adalah orang yang paling tidak sektarian yang saya kenal” Kata Dyan Neary. Itu mempermudahnya dalam memperkenalkan ide-ide baru ke orang-orang. “He was just sort of user-friendly.”

Tapi ada juga sisi kerasnya. “Brad cukup banyak dimusuhi orang,” kata Sacha DuBrull, yang juga pindah dari Dreamtime ke Lower East side seperti Brad. “Dia lantang dan blak-blakan, dan tak selalu mendengar dengan baik”. Di rumah ilegal 5th Street, dia “membual” tentang kemampuannya membangun rumah, tapi menurut teman-temannya ia pernah salah memasang kabel listrik dan mengakibatkan munculnya api kecil. Api itu tidak membahayakan gedung, tapi sudah cukup alasan bagi Giuliani untuk menggusurnya. “Ketika mereka datang ke gedung kami,” tulis Brad, “tak ada surat penggusuran, dan mereka datang dengan derek penghancur. Saya menyelinap ke dalam, merasakan getaran ketika bola penghancur menembus tembok. Saya sendirian. Dari atap saya menyaksikan mereka membuang sebongkah rumah saya ke atas kebun saya… Ketika semuanya selesai: tumpukan puing.

“Rasanya dia seperti ingin mati di atas sana, dia merasa begitu bersalah,” kata seorang teman kepada The Village Voice. Lalu Brad berkeliling Amerika dengan kereta barang, dan berbicara kepada kelompok-kelompok aktivis tentang penumpasan yang dilakukan oleh Giuliani. “Brad sangat berapi-api,” kata DuBrull. “Dia penuh semangat, tangannya bergetaran.”

“Ada sisi kepolosan pada dirinya,” kata Stephan Said, penghuni gelap dan penyanyi folk yang di kagumi Brad. “Yang membuatnya tewas adalah sifat yang juga membuatnya memikat.”

Di tahun 1998, Brad hijrah ke barat untuk bergabung dengan para aktivis Earth First! Untuk “perlindungan hutan,” dimana Brad menghabiskan musim panasnya di sebuah pos yang di bangun di bagian atas sebuah batang pohon Douglas tua di Oregon, sebuah suaka anarkis, jauh dari hukum-hukum di bawah sana. “Saya menyebutnya bidang Y, karena kita jauh berada dia atas aturan-aturan bidang X,” kata Priya Reddy, yang menjadi salah satu teman dekat Brad di musim panas itu. “Aturan satu-satunya adalah gravitasi. Itulah tunawisma dalam makna terbaliknya.”

Reddy adalah gadis kota, di Oregon dia memilih nama julukan ‘Warcry’, seperti tanggapan terhadap nama-nama berbau hippie seperti Julia Butterfly. Dia tidak tahu cara memanjat, jadi pada awalnya dia memberi dukungan dari bawah, memenuhi pesanan suplai dari pohon ke pohon. Brad memiliki kebutuhan lain. “Saya menjatuhkan secarik kertas,” katanya di hari pertama Warcry. “Bisa minta tolong mencarinya?”

Warcry melihat ke arah ranting, sumber suara itu, 60 meter di atasnya, tidak tampak. Begitu juga dengan kertas nya yang jatuh ke semak yang lebat di lantai hutan. Ketika dia menemukan secarik kertas yang terlipat itu, dia mengintip. Sebuah rencana aksi? Bukan; sebuah puisi cinta.

Hutan menjadi berisik akibat musik dari para penunggu pohon. CD dan kaset Sonic Youth, Crass dan Conflict dimainkan sekencang-kencangnya. Tampaknya lagu yang paling populer adalah “White Rabbit”, setelah Warcry mendengarnya untuk keseratus kalinya, dia muak. “Mengapa kalian terus memutar White Rabbit?” tanyanya. Jawabannya adalah, “Kamu tidak tahu? Itu adalah peringatan.” White Rabbit berarti polisi, yang dipergoki oleh Brad atau penunggu pohon lainnya di atas, sedang menuju ke sana.

Warcry segera memberanikan diri untuk bergabung dengan Brad di pepohonan, dan menghabiskan tiga minggu di atas pohon itu di dekatnya. Dia membawa kamera video. Pada suatu hari, penebang menumbangkan pohon raksasa sekitar 15 meter dari pos Brad di video Warcry, tapi kita bisa mendengar teriakannya “Fuuuuuccckkkk!!” Pohon itu mendarat, dan Brad berteriak kepada penebang pohon di bawah. “Kira-kira berapa umur pohon itu? Berapa umur kalian?” Dia dapat menanyakan hal yang sama ke dirinya sendiri, ketika berada di rumah pohon itu, kadang-kadang ia merasa seperti anak kecil, yang tak berdaya melawan.

Yang membedakan Brad dari banyak aktivis radikal lainnya adalah dia tetap dekat dengan keluarganya, keluarga Will yang konservatif dan pendukung Partai Republican asal Kenilworth. Ketika dia dipenjara selama seminggu saat memprotes WTO di Seattle pada tahun 1999, salah satu hal yang paling di takutkannya adalah saat pembebasan agar ia masih bisa sempat menghadiri pesta ulang tahun ibunya yang ke-60, yang akan dirayakan keluarga Will di Hawaii. Saat dia tiba di sana, dia tidak menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. “Dia tidak ingin membebani kami,” kata ibunya.

Begitulah cara Brad menerima latar belakang dirinya. Di tahun 2002 ketika dia dan Dyan Neary menumpang kereta barang dari wilayah Northwest ke New York, dia bersikeras untuk mengalihkan rute agar Neary (yang dijuluki Glass) mau mengalihkan perjalanan agar ia bisa menemui ibunya. Glass berusaha mengobrol tentang politik, dan bercerita kepada keluarga Will tentang petani koka di Amerika Selatan yang menjadi melarat akibat penyemprotan pembunuh tanaman yang di danai oleh A.S. Ibu Brad tampak bingung: “Tapi, sayang, menurut kamu bagaimana seharusnya kita mengatasi masalah kokain?” Beliau tidak sedang mengungkapkan pertanyaan.

Brad tertawa. “Kemudian saya berpikir, ‘Oh, shit, They don’t really know what you’re doing, do they?”. Dia bangga akan kemampuannya untuk berpindah-pindah di antara berbagai macam dunia.

Keduanya bertemu tak lama sesudah 9/11, dan kencan pertama mereka adalah jalan-jalan di sekitar Ground Zero selama enam jam. Brad berusia 31 tahun dan Glass 20 tahun, dengan tubuh yang tinggi, kurus namun penuh lekuk, serta senyum yang lebar seperti Brad. Tapi Glass tercengang oleh New York yang berubah, dari kota yang bersemangat menjadi berkabung lalu berperang. “What the fuck happened to my city?” pikirnya. Mereka memutuskan sudah waktunya untuk pindah kota.

Namun ada dua masalah. Yang pertama adalah monogami, Brad tidak menganutnya. Baiklah kata Glass, tidak ada seks. Dan Brad tiba-tiba menemukan kemampuan untuk menjadi setia. Masalah lainnya lebih rumit: Brad akan menjadi seorang ayah. Sang ibu adalah seorang perempuan Prancis yang sempat mejalin hubungan dengan Brad ketika sedang berkunjung ke New York. Sebulan kemudian, dia menelepon untuk memberi tahu perihal kehamilannya. Brad menyukai anak kecil, tapi dia bersumpah tak akan menghadirkan seorang keturunannya ke dunia yang dianggapnya terlalu rusak. Brad terbang ke sana untuk berkunjung.

“Tinggal saja di sini,” katanya. “Kita dapat membesarkan bayinya bersama-sama.” “Saya akan membantu dengan uang,” kata Brad – komitmen besar, karena untuk hidup saja, ia harus mengorek-ngorek tempat sampah demi makanan – “tapi saya tak mau pindah ke Prancis.”

Ketika perempuan itu melahirkan bayinya, pacar si perempuan yang baru mengadopsinya. Bagi Brad, itu adalah solusi yang ideal – dia mencintai keluarga yang sudah di milikinya, tapi dia tidak ingin memulai keluarga baru.

“Dia ingin mengalami revolusi,” kata Glass. “Dia ingin hidup seperti itu setiap hari.” Mereka menghabiskan dua tahun di Amerika Selatan, kembali ke New York untuk mengumpulkan dana dengan mengambil pekerjaan sementara dan mengadakan pesta-pesta amal. Di Brazil, mereka bekerja dengan Movimiento Sin Terra, orang-orang miskin tanpa tanah yang telah memenangkan hak atas lebih dari 8 juta hektar tanah pertanian. Di Buenos Aires, mereka bergabung dengan gerakan buruh yang mengambil alih pabrik-pabrik yang tutup akibat resesi perekonomian Argentina. Di Bolivia, mereka bertemu dengan Evo Morales, seorang petani koka radikal yang kemudian menjadi presiden pribumi pertama di negara itu. Brad menyadari bahwa ini bukan East Village atau sebuah pos di Oregon. Kekuasaan yang nyata sedang di pertaruhkan disini.

Kini, dia punya misi. Dia ingin menunjukkan kepada para aktivis Amerika tentang cara berjuang, dimanapun mereka dapat menemukannya atau memulainya. Dia memutuskan bahwa video adalah medium yang paling tepat. Di tahun 2004, dia mengumpulkan US$ 300 untuk membeli Canon ZR40 bekas dan kembali ke selatan, kali ini sendirian. Dia siap untuk membuat laporan, dan siap menjadi wartawan.

Pada tahun 2005 di Brazil Tengah, di sebuah kota pemukiman gelap bernama Sonho Real (Harapan Nyata) yang berisi 12.000 rakyat jelata tanpa tanah, Brad merekam serangan polisi yang menelan 2 korban jiwa dan 20 orang lainnya ‘hilang’. Brad adalah satu-satunya wartawan yang hadir. Dia bersembunyi di sebuah gubuk dan merekam, sambil menunggu kemungkinan terburuk. Polisi menemukannya, menyeretnya dengan cara menjambak rambutnya dan menghajarnya tanpa ampun. Mereka menghancurkan kamera dan menangkap Brad. “Kedutaan A.S menolak untuk bertindak,” kata Miguel, sahabat Brad. “Mereka berkata, ‘Ya, kami tahu peristiwa itu, tapi dia bukan orang yang penting bagi kami’” Namun paspor Amerika-nya masih mampu membuat kepolisian Brazil segan. Mereka membebaskannya. Dia berhasil menyembunyikan kaset rekamannya; tak lama kemudian, kejadian itu disiarkan di seluruh Brazil, sebuah contoh sempurna dari kinerja Indymedia.

Tapi bagi Brad hal itu tidak terasa sebagai sebuah kemenangan. “Saya merasa di hantui,” tulisnya kepada Kate Crane, sahabatnya. “Saya terus melihat tubuh wanita yang kurus di dasar sumur, dalam posisi yang aneh – saya tidak bisa melupakannya.”

Meksiko yang di datangi Brad pada awal Oktober 2006 tampak sebagai sebuah negara yang ada di ambang. Di ambang apa, sulit untuk dikatakan. Tetai sesuatu akan terjadi. Itu adalah tahun pemilihan umum. Dan PRD (Partai Revolusi Demokratis) – partai tengah-kiri yang merupakan sebuah kekuatan baru dalam kancah politik Meksiko – sudah terlihat pasti akan memenangkan kepresidenan. Vicente Fox, kembaran “Bush” yang menggulingkan PRI (Partai Revolusioner Institusional) yang telah lama berkuasa di tahun 2000, dilarang mencalonkan diri kembali berdasarkan konstitusi. Calon penggantinya adalah Felipe Calderon, seorang penindas yang terobsesi dengan minyak bumi dan apapun yang bersifat rahasia, seperti Dick Chaney-nya Meksiko. Pada 2 Juli, televisi Meksiko mengumumkan ketatnya persaingan anatara Calderon dan Andreas Manuel Lopez Obrador yang moderat. Esok paginya, badan pemilu Meksiko menyatakan Calderon sebagai pemenang. Yang menjadi masalah, semua suara tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Dua juta warga Meksiko turun ke jalan untuk protes. Satu-satunya harapan Calderon adalah membujuk PRI, musuh lama partainya yang berhaluan kanan, untuk membentuk koalisi untuk melawan PRD yang berhaluan kiri. Sebagian imbalan atas dukungan PRI, dia akan berjanji bahwa partainya akan mengamankan ladang uang PRI: Oaxaca.

Oaxaca adalah salah satu negara bagian termiskin di sebuah negara miskin. Di tahun 2004, PRI mengangkat Ulises Ruiz Ortiz, politikus yang naik daun dengan reputasi melakukan penipuan pemilu, sebagai Gubernur. Ruiz adalah sumber uang, yang sangat piawai dalam memeras negara bagian agar mendapat dana untuk organisasi partai nasional. Namun dia kurang piawai dalam meredam keresahan yang meluas di Meksiko sejak pasukan pemberontak Zapatista keluar dari hutan di tahun 1994.

“Jika mereka ingin membunuh guru-guru kita” kata para warga Oaxaca setelah kepolisian Ruiz membunuh beberapa guru yang mogok pada 24 Juni 2006, “maka seharusnya mereka membunuh kita semua sekarang.” Sejak hari itu, Oaxaca City menjadi saksi pemberontakan terbuka. Di jalan, para wanita bersahut, “Con Ulises pelotas, yo hare los huevos fritos!” (Dengan buah zakar Ulises, saya akan membuat telur goreng!) Ibaratnya seperti rakyat miskin Lousiana berkumpul di New Orleans, menggeser para politikus dan memerintah kota itu sendiri selama beberapa bulan, sementara tentara nasional tetap berkeliling dan membakari rumah-rumah.

Namun media Amerika mengabaikan Oaxaca. Itu menjadi kisah yang sempurna bagi Brad. Teman-temannya berusaha membujuknya untuk tidak pergi, dia diberitahu bahwa “APPO” – Majelis Popular Rakyat Oaxaca, bisa di bilang pemerintahan revolusioner – “tak mempercayai siapapun yang belum dikenal selama bertahun-tahun,” oleh Al Giordano, penerbit Narco News, sebuah laporan mengenai politik Amerika Latin. “Mereka terus mengimbau saya agar tidak mengirim pendatang baru, karena keadaannya sangat tegang.”
“Mungkin saya akan tetap pergi” kata Brad dalam suratnya. Ketika dia tiba di kantor Indymedia di Mexico City dalam perjalanan menuju Oaxaca, mereka berkata bahwa kulitnya yang putih akan menjadikan dirinya serta orang-orang di sekitarnya sebgai sasaran.

“Anda seperti ibu saya,” kata Brad. “Memangnya anda terbuat dari apa? Inilah inti dari semuanya, Pemberontakan.”

John Gibler, seorang wartawan cetak radikal yang sudah lebih lama berada di Meksiko, mengingat ketika Brad tiba di pusat Oaxaca City, seorang hipster tinggi asal Amerika dengan kamera mewah – Brad membelinya dengan tabungan – yang membuatnya tampak profesional. “Media menggambarkannya sebagai orang idealis nekat yang tidak tahu apa-apa, tapi dia tidak bodoh,” kata Gibler. “Di hari pertama saya berkata, hei Brad, mau ikut ke barikade malam ini?, dia berkata: saya tidak sabar untuk pergi kesana, tapi sudah banyak orang terbunuh, tapi saya harus mengenal tempat ini dulu. Tanpa itu, berjalan-jalan di malam hari bukan langkah yang cerdas.”

Dia menemukan tempat untuk tidur (lantai markas sebuah kelompok hak rakyat pribumi) dan sebuah tempat untuk menyimpan rekamannya – dari pengalamannya di Brazil, dia belajar bahwa seorang jurnalis Indymedia yang tidak dilindungi kantor berita yang besar membutuhkan tempat persembunyian. Dia makan bersama para demonstran yang dijuluki APPO, gerak jalan bersama mereka, dan tidur di samping mereka di atas tanah pada sore yang panas. Dia bercerita tentang politiknya sebelum menanyakan politik mereka. Dia banyak tertawa. Perlahan-lahan, para APPO mulai mempercayainya. Brad mampu memasuki “hal yang paling mendekati revolusi anarkis untuk generasi ini,” menurut Rolling Thunder, sebuah koran anarkis di A.S. Pihak yang berwenang di Meksiko rupanya setuju – mereka bersiap-siap menghukum Oaxaca.

Rekaman Brad pada 27 Oktober berawal dari sebuah jalan di pinggir kota yang di penuhi batu-batuan dan karung pasir, sementara asap hitam yang tebal mengepul di latar belakang. Beberapa menit sebelumnya ada pertempuran antara tentara paramiliter dengan senapan otomatis melawan demonstran dengan bom Molotov. Brad menyorot mobil van perak yang sedang terbakar. Lalu dia kembali menyorot kerumunan, pria-pria tua dengan topi jerami, remaja bertopeng ski, ibu-ibu gemuk dengan panci. Mereka mulai berteriak, “Rakyat, bersatu!” Peluru berdatangan dari jalan samping, dan pertempuran itu pindah ke jalan sempit yang dihiasi gedung-gedung bertingkat satu. Seseorang berteriak “Lindungi diri, kamerad!” para demonstran maju pelan-pelan, melempar bom molotov yang mekar di atas aspal. Langit menjadi gelap di atas pohon-pohon hijau. Seorang anak berkulit gelap berlutut dan mengarahkan basoka merconnya. Peluru berbunyi. Brad mengingat sebuah semboyan fotografer perang “Tahu Batas!”. Bersifat rakus dan sembrono itulah yang akan membunuh. Brad lantas mematikan kameranya.

Ketika dia mulai merekam lagi, para demonstran sedang berjongkok di luar sebuah gedung putih, mereka yakin ada seorang rekan yang sedang di tahan di dalamnya. Mereka menghantam pintu, berlarian ke ruang terbuka dan menendang. Brad berteriak, “Mire!” (Lihat!) dari arah jalan, ada tembakan lagi. Brad lari. Seseorang di sampingnya kena tembakan. Brad berteriak, “Shit!” dan seseorang bertanya, “Kamu tak apa-apa, kamerad?”. Brad menyorot wanita tua yang menggenggam manik-manik doanya.

Lalu adegan terakhir yang telah di putar setengah juta kali di seluruh dunia: sebuah truk pengangkut tanah berwarna merah di gunakan sebagai barikade dan pendobrak, pria terluka yang di bawa pergi, letupan senapan yang di balas dengan mercon. Seseorang berteriak, “Diganle a este pinche wey qu no este tomando fotos” (Suruh bajingan itu untuk berhenti memotret!). Brad tetap merekam. Dia menginjak trotoar, kameranya di bidik lurus ke depan. Para companeros berjongkok: Brad berdiri seperti orang asing berkulit pucat yang menjulang di atas kerumunan.

“Saya melihat ini dan berkata, ‘Brad berhenti! Jangan begitu!” kata Miguel, pembuat film asal Meksiko. “Saya bertanya-tanya, apakah dia tahu dimana dia saat itu. apakah dia sadar kalau ia bisa mati.”

Dor – sebuah peluru menghantam pusat tubuh Brad, persis di bawah jantungnya dan membuat batang nadinya meledak.

“Ayudeme!” teriaknya. (Tolong saya!).

“Tranquilo, Tranquilo!” kata seseorang.

(Tenang!) seorang fotografer memberi nafas buatan kepada Brad, lalu dia tersedak dan membuka mulut. Itulah kata-kata terakhirnya, tapi tak ada yang tahu apa yang di ucapkannya; pria-pria yang melarikannya ke rumah sakit tak memahami bahasa Inggris, dan Quebrado telah lupa bagaimana cara mengutarakan pendapatnya.

Glass, mantan pacarnya tengah berada di Hawai ketika mendengar kabar itu. Belakangan, dia sering berbalas e-mail dengan Brad. Dia merindukannya, dan tampaknya Brad juga merasakan hal yang sama. Glass ada di New York menjelang keberangkatan Brad ke Oaxaca, dan mereka pergi minum-minum bersama. Brad membawa pacarnya, tapi di foto-foto dari malam itu, Brad tampak bergandengan dengan Glass. Di hari kematian Brad, Glass sedang duduk di taman dan menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan Brad. Dia menyanyikan lagu-lagu anarkis, lalu Hobo’s Lullaby-nya Woody Guthrie. Dia paling ingin menyanyikan lagu favorit Brad, Angel From Montgomery. Dia berusaha mendengar suara Brad. Brad menjadi John Prine, Glass menjadi Bonnie Raitt.

Just give me one thing that I can hold on to
to believe in this living is a hard way to go.

“Saya harus mengirim e-mail ke Brad,” pikirnya. “This is so great!”, lalu teleponnya berdering. “Ini Dyan, bukan?” kata sebuah suara asing. “Bisakah kamu menelepon ibu Brad? Brad terluka.”

“Apa? Bagaimana?” Suara asing itu tidak menjawab. “Saya takkan menelepon ibunya sebelum tahu apa yang terjadi,” kata Glass. Orang tak dikenal itu memberi Glass nomor lain. Dia menelepon. “Saya diminta untuk menghubungi nomor ini mengenai Brad?” katanya.
“Ya, Sudah dikonfirmasi?”

“Oh, dia tewas.”

Sesudah itu kepala Glass hanya berisi jeritan.

Di Oaxaca, orang-orang APPO menyisir rambut panjang Brad dan membalutnya dengan pakaian putih. Mereka mengalungkan salib emas di lehernya dan memasukkannya ke peti mayat. Tak ada pidato berapi-api, hanya tangisan. Fox, presiden Meksiko ketika itu, menjadikan kematian orang asing itu sebagai alasan untuk menginvasi Oaxaca dengan 4.000 polisi federal. Duta besar A.S., seorang kaki tangan Bush asal Texas, menyalahkan para guru sekolah atas kekerasan itu dan berkata bahwa kematian Brad “menegaskan perlunya penegakan hukum dan ketertiban.” Dalam bulan-bulan berikutnya, APPO dibasmi; Calderon menerapkan undang-undang yang mengizinkan polisi untuk menyadap telepon dan menahan orang tanpa surat penangkapan atau tuduhan; pada musim gugur lalu, pemerintahan Bush menawarkan paket bantuan militer senilai US$1,4 milyar, semata-mata untuk menumpas narkotik dan “terorisme”.

Bagaimana dengan pria pembunuh Brad? Kasus itu tampak mudah diselesaikan – seorang fotografer berita Meksiko bahkan memotret pria-pria yang diduga adalah penembaknya, segerombolan tukang pukul berpakaian preman yang berlari menuju Brad dan orang-orang APPO dengan pistol dan senapan AR-15. Jaksa wilayah Oaxaca, yang setia pada Ruiz, dengan berat hati mengeluarkan surat penangkapan untuk dua orang, komandan polisi Orlando Manuel Agular dan Abel Santiago Zarate, yang dikenal dengan sebutan El Chino! Tapi dalam konferensi pers dua minggu kemudian, sang jaksa mengumumkan teori lain: pembunuhan Brad adalah rekayasa yang menipu yang di rencanakan oleh APPO. Dalam cerita versi lain, Brad hanya terluka di jalan. Peluru yang mematikan ditembakkan dari jarak dekat oleh seseorang anggota APPO dalam perjalanan menuju rumah sakit – sesuatu yang mustahil secara fisik, menurut dokter visum. Tak masalah. Pada akhir November, hakim membebaskan tersangka.

Pada Maret 2007, kedua orang tua Brad berpergian ke Meksiko untuk meminta agar investigasi di ambil alih oleh pihak federal. Mereka memenangi perjuangan itu, namun hanya mendapat kisah yang kurang lebih sama dengan berbagai variasi. Bukan masalah dapat dipercaya atau tidak. “Dalam kejahatan-kejahatan politik di Meksiko,” kata Gibler, yang bertindak sebagai penerjemah keluarga itu, “sejarah kental dengan penghilangan dan perusakan barang bukti.” Pihak yang berwenang langsung membanjiri segala diskusi dengan teori konspirasi. Ada tradisi ketidakbecusan yang luar biasa, agar kemudian hanya mungkin ada spekulasi.

Keluarga Will bukanlah orang-orang yang hobi berspekulasi. Di usia 68 tahun, Hardy adalah pria yang tegap dan sehat, dengan rambut putih bergaya muda. Dia masih menyetir selama satu jam bolak-balik setiap hari ke pabriknya di Rockford, Illionis. Kathy berkeliling di sekitar rumah danau di Wisconsin, tempat tinggal mereka sekarang. Rumah yang di rancang dan dibangun oleh kakek buyut Brad ini tampak asri, di mana pemandangan hanya terganggu oleh tumpukan rapi di atas meja makan, berupa dokumen, seolah-olah ada seminar tentang prestasi Brad sewaktu kecil, politik Meksiko dan balistik.

Kasus ini sangat tergantung dengan hal yang disebut terakhir itu. Jika keluarga Will ingin mengatakan, “inilah yang sesungguhnya terjadi, beginilah cara kematian Brad, inilah pria yang membunuhnya,” mereka harus bisa menentukan peluru yang membunuhnya serta sumbernya. Laporan visum awal menyebut bahwa peluru itu adalah 9mm, berarti bukan 38mm. Hardy menunjukkan fotonya, dua peluru pendek yang nyaris tak bengkok. “Peluru-peluru itu hanya menembus jarinagn lembek,” katanya. Tapi dari jarak berapa jauh? Pemerintah berkata bahwa Brad di tembak dari dekat. Keluarga Will yakin bahwa ia di tembak oleh polisi di ujung jalan. Mereka yakin bahwa membuktikan itu akan membuat proses keadilan semakin lancar. Saya datang dengan membawa apa yang dianggap kabar baik bagi keluarga Will sekarang-sekarang ini: sebuah analisis menit terakhir kehidupan Brad yang dibuat oleh sahabatnya. Warcry yang mempercayai saya sebagai kurir.

“Inilah yang kita tunggu-tunggu,” kata Hardy. Kami berkumpul di ruang TV. “Itu dia!” teriak Hardy. Di sisi kiri layar, di atas truk merah dan di antara pohon hijau, muncullah cahaya putih yang bergerak seperti asap dan tampak hanya untuk sekejap, bisa jadi itulah peluru yang akan menerjang Brad.

“Perlukah kita menontonnya lagi?” tanya Hardy. Kepala Kathy menunduk, lalu dia keluar dari kamar. Ulang, berhenti; Brad terjatuh, berulang-ulang. “Ya!” kata Hardy dengan suara lembut, “ini yang kita butuhkan.”

Wajahnya memerah karena senang. Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam. Saya menelepon Warcry; dia masih bangun, menunggu tanggapan dari pasangan Will. Hardy ingin melihat gambar yang menampilkan pria yang tampak memegang senapan dari jarak jauh, yang berpotensi dijadikan bukti penembakan jarak jauh. “Ini dapat mengubah segalanya!” kata Hardy. Kami berkumpul di depan komputernya di ruang bacanya, sebuah kamar gelap berisi piala-piala berburu dan pernik-pernik dari masa Hardy sebagai pemain futbol di Yale. Saya membuka gambar itu, seorang pria berkemeja kuning yang berada di kejauhan, dengan laras senapan yang panjang di atas bahu kirinya. Hardy menghela nafas. Dia berjalan menuju lemari senjata yang penuh, mengambil salah satu senapan dan berputar, sambil berpose seperti orang yang membunuh putranya, menurut teori Warcry.

“Itu bukan senapan jarak jauh,” katanya, sambil melihat senjata di tangannya. “Itu senjata karabin.”

Kepulan asap putih itu adalah bukti terbaik yang mereka temukan dalam setahun sejak kematian Brad, tapi mereka masih tak bisa menjelaskan bagaimana ia bisa tertembak dua kali dari jarak jauh oleh senjata tua yang sulit digunakan. Hardy tersungkur di kursi yang ada di pojok ruangan, meratapi kandasnya satu teori lagi, satu kesempatan untuk mendapatkan kepastian lagi, siapa kiranya yang membunuh putranya.

Kathy membawakan teh. Seperti Brad, matanya lembut dan senyumnya lebar. “Saya senang berbincang,” katanya. “Saya senang mengobrol dengan siapapun. Mungkin itu menurun kepada Brad,” Hardy lelah, tapi Kathy duduk tegak, sambil menonton video-video lama Brad – Brad lari dari gas air mata di Miami, peluru di Brazil. Sejak dulu Hardy lebih skeptis, karena ingin melindungi istrinya dari kenyataan pahitnya dunia. Tapi kini wawasan Kathy mengenai dunia menjadi luas, dan semakin memahami keresahan yang dirasakan anaknya seputar politik. Dia masih belum memahami politiknya, menggeleng-geleng saat melihat Brad duduk di depan bendera Amerika terbalik – sebuah bendera yang rapi berkibar dari tiang di luar rumah, dan ada tiga cincin permata berwarna merah, putih dan biru di jarinya. Perubahan sudut pandangnya bukan karena ucapan Brad, namun kebohongan yang diucapkan pemerintah Meksiko.

“Ini jadi konyol, seandainya mereka tidak serius,” katanya. “Yang sebenarnya mereka katakan adalah bahwa Brad ada disana dengan alasan yang sangat bagus. Percayalah, saya tak ingin ia ada disana. Tapi Brad benar. Dia benar tentang semua ketidakadilan itu, saya tidak mengetahuinya. Saya benar-benar tidak tahu. Sekarang saya tahu, saya tahu banyak!”

Salah satu hal paling klise dan paling umum seputar radikalisme di Amerika adalah mitos bahwa orang tua adalah pemicunya, dimana para aktivis pemberontak melawan orang tua atau ingin membuktikan diri pada ayah dan ibu sebelum mereka menjadi ibu dan ayah. Itu bukan apa yang dilakukan Brad Will. Seandainya ia lolos dari baku tembak pada 27 Oktober 2006 itu, dia mungkin takkan menceritakannya pada ibunya. Dia malah akan bercerita tentang makanan lezat Meksiko yang disantapnya, dan ibunya akan berkata bahwa danaunya menjadi datar di musim dingin dan akan segera membeku, dan mungkin Brad bisa bermain ice-skating kalau pulang untuk Natal. Rekamannya kemungkinan besar tidak akan disaksikan oleh pihak-pihak luar komunitas aktivis di Amerika Serikat. Tapi peluru yang membunuhnya malah menyiarkan apa yang ditemukannya melampaui jalur-jalur yang biasa, dan tiba di tempat asalnya. Dengan kematian Brad, Kathy Will menjadi tahu. Itu jenis pengetahuan yang paling menyakitkan: sebuah pemahaman yang baru mengenai dunia sekarang, yang membuatnya nyaris tak dapat melihat dunia seperti yang di bayangkan oleh Brad.

“Perbuatan terakhir yang paling mungkin menjelaskan tentang persepsi itu sendiri,” tulis Hakim Bey dalam puisinya yang panjang, yang menggugah Brad Will menjejaki berbagai kemungkinan itu, “adalah sebuah tali emas kasat mata yang menghubungkan kita semua.”

Jacob: Pencuri Cerdas

Nama aslinya adalah Alexandre Jacob. Namun ia lebih dikenal dengan nama Marius Jacob. Seorang ilegalis anarkis dari Perancis. Terkenal sebagai pencuri pintar yang dilengkapi dengan rasa humor yang tajam serta memiliki kedermawanan besar terhadap korban-korbannya. Jalan hidupnya menginspirasikan Maurice Leblanc di karakter Arsene Lupin.

Dilahirkan pada tahun 1879 di Marseille dari sebuah keluarga kelas pekerja. Pada usia dua belas, dia mendaftar untuk magang sebagai pelaut. Pekerjaan yang akhirnya membawa Jacob mencapai Sydney dimana ia memutuskan desersi sebagai kru kapal. Dalam pelayaran ini ia kemudian mengatakan, “aku melihat dunia, itu tidak indah”.

Setelah episode pendek pembajakan, yang membuat ia ditolak karena terlalu kejam. Jacob kembali ke Marseilles pada tahun 1897 dan menyerah pada kehidupan laut secara total. Salah satu sebabnya adalah penyakit demam yang diderita hingga sisa hidupnya. Ia kemudian bekerja sebagai tipografer magang yang membuat ia menghadiri pertemuan-pertemuan para anarkis. Di salah satu pertemuan, Jacob akhirnya bertemu dengan calon istrinya Rose.

Kaum sosialis dari abad ke-19 yang berada di parlemen menentang -seringkali dengan kekerasan- kehadiran para anarkis di antara para pekerja. Perbedaan yang kentara adalah cita-cita kaum Sosialis yang berupaya untuk meraih kekuasaan secara legal melalui proses pemilihan. Para anarkis, bagaimanapun, merasa bahwa keadilan sosial itu bukan sesuatu yang dapat dicapai melalui struktur kekuasaan yang ada. Sebaliknya, hal itu harus direbut oleh kelas pekerja.

Di Eropa pada masa Epoque Belle, setelah represi besar-besaran dan berkelanjutan terhadap Komune Paris, pemberontakan yang terjadi menunjukkan kecenderungan ke arah penggunaan kekerasan oleh individu. Seringkali serangan itu diarahkan kepada para raja, politisi, tentara, polisi, tiran, dan hakim. Akibatnya sejumlah militan anarkis dipenjara dan menghadapi vonis guillotine. Ravachol misalnya, dianggap oleh banyak orang sebagai teroris dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Jacob pernah tertangkap dengan bahan peledak setelah serangkaian aksi pencurian kecil yang dilakukannya. Ia kemudian dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Setelah itu ia mengalami kesulitan mengintegrasikan kembali dirinya sendiri. Sejak saat itu, ia memilih sebuah sikap yang disebutnya “ ilegalisme pasifis”.

Di Toulon pada 3 Juli 1899, Jacob pura-pura menderita halusinasi untuk menghindari lima tahun reklusi. Hukuman yang mesti dijalani akibat aktifitas yang dilakukannya. Ia dianggap memiliki potensi untuk menimbulkan kerusuhan dan peningkatan eskalasi kekerasan atas nama kebebasan individual. Hingga kemudian pada tanggal 19 April 1900, ia melarikan diri dari rumah sakit jiwa di Aix-en-Provence dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan berlindung di Sète.

Di tempat baru ini Jacob tidak berhenti. Ia kemudian mengorganisir sekelompok orang, dan menyebut diri mereka “para pekerja malam”. Kelompok yang kemudian bertanggung jawab atas puluhan aksi kriminal. Kelompok ini mengusung prinsip yang sederhana. Mereka tidak membunuh, kecuali untuk melindungi hidupnya dan kebebasannya dari polisi. Mereka hanya mencuri dari mereka yang dianggap sebagai parasit sosial seperti para bos, hakim, prajurit, dan ulama. Tapi mereka tidak mencuri dari orang-orang yang memiliki profesi yang berguna bagi banyak orang seperti arsitek, dokter dan seniman. Persentase dari uang yang dicuri akan diinvestasikan ke dalam proyek-proyek anarkis. Jacob memilih untuk menghindari bekerja dengan kaum anarkis idealis dan menemukan dirinya dikelilingi oleh para penjahat dan ilegalis.

Untuk melihat apakah orang-orang yang berusaha mereka rampok berada di tempat mereka, geng Jacob akan menjepit potongan kertas ke pintu mereka dan kembali keesokan harinya untuk memeriksa apakah kertas itu masih ada di tempatnya atau tidak. Aktifitas ini mengantarkan Jacob untuk dikenal sebagai seorang ahli kunci-pembuka pintu dan brankas. Metode kriminal cerdas lain yang mereka gunakan adalah dengan memasuki sebuah apartemen dari lantai atas. Jacob akan menyelipkan payung melalui lubang kecil di langit-langit apartemen target. Begitu dimasukkan, payung bisa dibuka untuk menangkap puing-puing dan meredam kebisingan yang diciptakan ketika mereka berusaha menerobos langit-langit.

Antara 1900 dan 1903, kelompok ini beroperasi dengan dua sampai empat orang. Kelompok ini kemudian dituduh bertanggung jawab atas terjadinya lebih dari 150 kasus perampokan di Paris, provinsi sekitarnya dan bahkan luar negeri. Namun lama kelamaan Jacob mulai merasa bahwa ia mulai kehilangan alasan. Hingga pada suatu hari ketika mencoba untuk mengkonversi pekerja untuk anarkisme, Jacob memperoleh jawaban yang signifikan: “Bagaimana dengan masa pensiun saya?”

Pada tanggal 21 April 1903, operasi pencurian yang dilakukan di Abbeville berubah menjadi bumerang. Setelah membunuh seorang perwira polisi dalam rangka untuk melarikan diri, Jacob dan dua kaki tangannya ditangkap. Dua tahun kemudian di Amiens, Jacob muncul di hadapan pengadilan dan menghadapi tuntutan berat. Kaum anarkis dan orang-orang yang bersimpati dengannya datang berbondong-bondong ke kota dan menciptakan platform untuk ide-idenya. “Anda sekarang tahu siapa aku: yang memberontak, yang hidup pada produk yang dihancurkannya sendiri”. Ketakutan bahwa hukuman mati Jacob akan memicu terjadinya kekerasan massal membuat ia tidak dipenggal dengan guillotine. Jacob divonis untuk hidup kerja paksa di Cayenne.

Di Cayenne, Jacob mulai membangun korespondensi dengan ibunya Marie, yang tidak pernah menyerah membela anaknya. Selama di penjara, ia mencoba melarikan diri tujuh belas kali tanpa pernah menemui keberhasilan.

Menyusul larangan penggunaan kerja paksa sebagai hukuman di seluruh negeri (kebijakan ini terinspirasi oleh tulisan-tulisan Albert Londres), Jacob akhirnya dibebaskan dan kembali ke Paris. Tempat di mana ia menderita depresi sampai 1927. Setelah itu Jacob pindah ke lembah Loire di mana ia menjadi penjual komersial dan menikah lagi. Saat itu, Jacob sudah berstatus duda karena istrinya Rose telah meninggal sewaktu ia masih mendekam dalam penjara.

Pada 1929 Jacob diperkenalkan kepada Louis Lecoin, direktur koran Libertaire. Kedua pria menemukan kemiripan satu sama lain dan membangun sebuah persahabatan yang langgeng. Setelah upaya menggalang dukungan internasional untuk tahanan anarkis Sacco dan Vanzetti, bersama Lecoin, Jacob juga ikut memberikan dukungan untuk mencegah ekstradisi Durruti ke Spanyol. Saat itu Durruti telah ditunggu oleh hukuman mati di Spanyol. Pada tahun 1936, Jacob pergi ke Barcelona dengan harapan membantu para sindikalis CNT. Sebelum akhirnya ia kecewa karena menemukan bahwa tidak ada harapan untuk kelanjutan perjuangan di Spanyol. Ia akhirnya kembali ke kehidupan pasar di Perancis.

Bagi banyak orang, jika saja ia tidak pernah bersentuhan dengan para anarkis, terlibat aksi kriminal dan resistensi, tetap saja Jacob adalah seorang yang humanis. Setelah kematian ibunya pada tahun 1941 dan istri keduanya pada tahun 1947, Jacob tidak pernah berubah. Ia dengan kawan dan kamerad di sekelilingnya, adalah lelaki yang tidak pernah meninggalkan gaya kehidupan kriminalnya atau opininya tentang ilegalisme atau aksi kekerasan individual.

Duval: Bandit Anarkis

Clément Duval (1850 – 1935) adalah seorang anarkis individualis Perancis yang terkenal dan sekaligus seorang kriminal. Ide-idenya tentang reklamasi individu (dalam bahasa Prancis: reprise individuelle)[1] sangat berpengaruh di kemudian hari membentuk ide dasar mengenai ilegalisme.

Duval sebelumnya sempat menjadi anggota batalyon infanteri kelima di Perancis-Prusia pada umur 20 tahun, di mana ia menjadi cacat karena terkena mortir. Akibat peristiwa ini, ia menghabiskan 4 dari 10 tahun berikutnya di rumah sakit. Tidak sanggup lagi bekerja, Duval berpaling ke pencurian.

Setelah menghabiskan nya tahun penjara untuk pencurian delapan puluh franc, Duval bergabung dengan grup anarkis Panther Batignolles. Sebuah grup yang pada akhir abad ke 19, sangat meresahkan penguasa di Prancis.

Pada 25 Oktober 1886, Duval menerobos ke dalam rumah dari seorang perempuan Paris yang kaya dan mencuri 15.000 franc sebelum dengan sengaja mengatur agar rumah tersebut terbakar. Ia tertangkap hanya 2 minggu kemudian setelah mencoba untuk menjual barang curiannya. Seorang polisi bernama beberapa kali Rossignol terluka saat percobaan penangkapan tersebut karena ditikam berkali-kali oleh Duval hingga hampir tewas. Polisi itu selamat luka-lukanya.

Pengadilan kejahatan Duval menarik kerumunan pendukung dan kemudian berakhir dalam kekacauan. Ketika Duval diseret keluar dari pengadilan, ia berteriak “panjang umur anarki!”. Pada awalnya ia dijatuhi hukuman mati, namun mengantisipasi kerusahan yang lebih besar akibat keputusan ini maka hukumannya kemudian diubah menjadi kerja paksa di Pulau Setan, Guyana Perancis. Saat itu, Duval sudah cukup populer di kalangan para anarkis individualis di Prancis. Ia merupakan pendukung utama dari ide pencurian dan perampasan properti orang-orang kaya sebagai tindakan revolusioner.[2]

Dalam sebuah koran anarkis bernama Révolte, Duval dikenal karena pernyataannya yang menyatakan bahwa, “pencurian hanya hadir ketika terjadi eksploitasi manusia oleh manusia… ketika masyarakat menolak hakmu untuk eksis, kau harus merebutnya… polisi menangkapku atas nama hukum, aku menyerang balik mereka atas nama kebebasan “.

Duval menghabiskan 14 tahun berikutnya dalam penjara, dan berusaha melarikan diri lebih dari 20 kali. Pada bulan April 1901, ia berhasil melarikan diri dari penjara atas bantuan seorang militan sindikalis bernama Régis Meunier. Duval kemudian menuju ke New York City, di mana dia tinggal sampai usia 85 atas dukungan para kamerad anarkis dari Italia dan Prancis di Amerika.

Memoarnya diterbitkan pada tahun 1929 dan diterjemahkan oleh Luigi Galeani ke dalam bahasa Italia, untuk kepentingan diterbitkan di Italia. Pada 1980, Marianne Enckel dari C.I.R.A mengumpulkan tulisan-tulisan yang tercecer dan kemudian diterbitkan dalam bentuk sebuah buku yang berjudul: Clément Duval: Convict and Anarchist.

* * * * *

Catatan Tambahan:
[1] Reklamasi individual adalah salah satu format dari aksi langsung (direct action) yang dikarakteristikkan melalui aksi pencurian properti orang kaya oleh orang miskin. Ide ini didasarkan pada tesis pengambilalihan diri yang sudah terekuperasi. Pembebasan individual ini secara etis muncul lewat konfrontasi langsung antara penindas dan budak.

Salah satu basis teoritik yang melandasi ide ini adalah buku masyur dari Proudhon yang berjudul “What Is Property?”. Buku dengan pertanyaan terkenal itu pada akhirnya memberikan kesimpulan berupa jawaban singkat bahwa properti adalah pencurian (property is theft). Buku ini memberikan penjelasan bahwa properti pribadi yang dimiliki oleh para borjuis –dan kita semua pada hari ini- berasal dari pencurian. Pencurian ini tentu saja adalah proses eksploitasi antara manusia terhadap manusia yang lain.

Konsep itu kemudian dipadupadankan dengan teori Bakunin yang terkenal, propaganda by the deed atau propaganda dengan tindakan. Sebuah tindakan langsung termasuk di dalamnya aksi kekerasan fisik untuk menunjukkan resistensi langsung dan terbuka kepada musuh untuk menginspirasikan kebangkitan menuju perang sosial.

[2] Ide ini di kemudian hari menginspirasi banyak anarkis untuk melakukan pencurian dalam rangka membiayai aktifitas revolusioner mereka. Bandit-bandit seperti Bonnot Gang, Lucio, Jaime Giménez Arbe, Enric Duran atau para anarkis perampok bank kontemporer di Yunani.

Ravachol: Anarkis Insureksioner

Tidak banyak orang yang mengenal François Claudius Koenigstein. Karena memang ia jauh lebih populer dengan nama Ravachol. Seorang anarkis Prancis yang dilahirkan pada 14 Oktober 1859 di Saint-Chamond (Loire) dan dihukum mati di atas guillotined pada 11 Juli 1892 di Montbrison saat ia masih berumur 32 tahun.

Koenigstein atau Ravachol dilahirkan dari seorang ayah Belanda dan seorang ibu Prancis. Ayahnya yang bernama Jean Adam Koenigstein meninggalkan Ravachol dan ibunya yang bernama Marie pada waktu ia masih berumur 8 tahun. Kepergian itu membuat ia menanggalkan nama belakang warisan ayahnya dan mulai menggunakan nama Ravachol yang merupakan nama belakang ibunya. Saat itu juga menjadi momen di mana kehidupan Ravachol menjadi keras. Ia sudah harus memikul tanggung jawab untuk mendukung ibunya dan kedua saudara perempuan dan laki-lakinya. Seorang sepupu lain menjadi tanggung jawab Ravachol.

Beban yang begitu berat membuat Ravachol mesti bekerja sebagai asisten tukang celup. Sebuah pekerjaan yang tidak begitu lama ditekuninya karena pada akhirnya ia dipecat. Hidup sangat miskin membuat Ravachol juga sesekali mesti mengamen akordion pada setiap hari minggu di aula Saint-Étienne.

Tak ada sumber jelas yang kemudian dapat menjelaskan bagaimana awal mula persinggungan Ravachol dengan ide-ide anarkis. Terutama pada pilihannya untuk mengusung taktik insureksi dengan melancarkan kampanye perang yang berbahaya pada masa itu.

Ia dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas meledaknya tiga buah dinamit yang diyakini ditujukan kepada para anggota perwakilan pengadilan.

Pada tanggal 1 Mei 1891, terjadi aksi demonstrasi besar-besaran dari para pekerja di Fourmies yang kemudian berakhir dengan kerusuhan dan bentrokan dengan polisi. Terdapat 9 orang peserta demonstrasi yang meninggal karena ditembaki oleh polisi. Beberapa diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Di hari yang bersamaan di Clichy, sebuah insiden serius meletus. Insiden yang melibatkan para anarkis yang berakhir dengan penangkapan tiga orang anarkis. Ketiganya diinterogasi di kantor polisi dengan brutal. Disertai dengan pukulan bertubi-tubi yang menyebabkan cedera serius. Proses pengadilannya yang kemudian populer dengan nama Clichy Affair, menyebabkan dua diantaranya mesti berhadapan dengan tuntutan penjara dengan dikenakan tuduhan yang tidak masuk akal.

Peristiwa ini merupakan kelanjutan serangan terhadap semua komunards. Para pendukung Komune Paris 1871 ini terus menerus diteror dan menghadapi serangan bertubi-tubi. Hal ini dianggap salah satu yang memicu Ravachol untuk mulai melancarkan aksi kampanyenya dengan menyebut diri sebagai teroris.

Aksinya dimulai dengan meletakkan bom di kediaman jaksa penuntut umum. Bom yang lain ditargetkan kepada Bulot. Orang yang menduduki posisi sebagai eksekutif dari Kementrian Publik saat itu. Ia juga meletakkan bom di kediaman anggota dewan Benoit yang memimpin persidangan Assises dalam kasus Clichy Affair.

Ia tertangkap setelah seorang pelayan restoran bernama Lhérot membocorkan informasi keberadaan Ravachol kepada polisi. Sebagai balasan, sehari sebelum persidangan Ravachol, restoran tersebut diledakkan seseorang sebagai solidaritas terhadap Ravachol.

Tertangkap pada 30 Maret 1892, untuk aksi pengeboman di restoran Véry, pengadilannya dilaksanakan pada tanggal 26 April di tahun yang sama di pengadilan Seine. Hasil keputusannya adalah penjara seumur hidup bagi Ravachol. Pada tanggal 23 Juni, dilakukan pengadilan kedua di pengadilan Loire yang kemudian melahirkan keputusan yang baru. Ravachol dihukum pancung di atas guillotin. Ia dituduh bertanggung jawab atas tiga kasus pembunuhan. Keterlibatan Ravachol atas dua pembunuhan sangat diragukan oleh banyak pihak. Sementara kasus pembunuhan yang lain, yakni terhadap Montbrison, diakui oleh Ravachol. Montbrison dituduh oleh Ravachol sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab atas kemiskinan yang dijalaninya.

Pada 11 Juli 1892, Ravachol dihukum pancung. Namun kemudian, ia menjadi inspirasi perjuangan bagi banyak orang sesudahnya. Seorang anarkis insureksionis lain bernama Auguste Vaillant membom markas besar Deputi Prancis sebagai aksi balas dendam atas kematian Ravachol. Lelaki pemberani ini juga menjadi sumber inspirasi orang-orang seperti Julles Bonnot. Beberapa yang lain mendedikasikan lagu untuk mengenang perjuangan yang dilakukan Ravachol semasa hidup.

Conspiracy of Cells of Fire: Seruan Solidaritas Internasional

Introduksi

Pada akhir tahun 2010, Organisasi Revolusioner – Conspiracy of Cells of Fire mempublikasikan sebuah seruan internasional kepada setiap grup gerilya kota otonom, para insureksionis serta semua orang yang ingin merebut kembali hidup mereka. Seruan ini juga adalah sebagai prakondisi untuk merespon persidangan pada tanggal 17 Januari 2011 terhadap para kamerad dari Conspiracy of Cells of Fire (CCF) yang sedang mendekam di penjara atas semua aktifitas revolusioner yang telah mereka lakukan.

CCF bukanlah satu-satunya grup revolusioner yang sedang diserang oleh hukum dan lembaga peradilan yang (sangat jelas dan tidak diragukan lagi) merupakan kaki tangan Negara dan Kapitalisme. Masih ada beberapa grup lain seperti Revolutionary Struggle di Yunani yang beberapa anggotanya juga tertangkap oleh polisi. Selain itu, masih ada ratusan anarkis lain yang dipenjara di berbagai tempat di belahan dunia karena pilihan berani mereka menentang opresi. Di Jogjakarta, seorang kawan kita Tukijo juga diculik oleh polisi dan masih mendekam dalam penjara.

Seruan ini secara mendasar memiliki karakter yang berbeda dengan yang diperkirakan oleh tipikal masyarakat kita dalam menilai. CCF dalam seruannya tidaklah ingin memusatkan kekuatan di bawah satu kepemimpinan seperti dongeng kepeloporan dari orang-orang Kiri yang hingga kini tidak juga berhenti berdusta. Front internasional yang dimaksud juga bukan sebuah organisasi dengan kerangka struktural yang mengikat. Tapi tidak lebih dari sebuah bentuk asosiasi bebas dari setiap tendensi anarkis untuk menyalakan api dan terus menyerang.

Seruan solidaritas ini adalah sebuah inisiatif otonom untuk mengajak semua kekuatan revolusioner untuk semakin meningkatkan eskalasi serangan. Tidak hanya sebagai upaya perebutan hidup dan menunjukkan kemuakan kita atas relasi hidup yang koersif hari ini. Lebih daripada itu, serangan demi serangan yang dilakukan adalah sebagai cara kita memperlihatkan solidaritas dan kehangatan cinta dari lubuk hati.

Oleh karena itu, meski sekali lagi terlambat maka kami merasa bahwa menyebarluaskan informasi dan seruan ini sama sekali tidaklah memalukan.

* * *

Front Revolusioner Internasional
Seruan Solidaritas Kepada Semua Gerilyawan Organisasi Revolusioner Conspiracy of Cells of Fire, Para Revolusioner dan Semua Individu Yang Ditangkap Untuk Kasus Yang Sama (Yang Akan Diadili Pada 17 Januari 2011)

Alasan lain atas aksi-aksi kami, melalui pengiriman parsel-parsel secara masal kepada kedutaan-kedutaan dan para pemimpin Eropa, adalah agar kami dapat melakukan sebuah seruan internasional.

Kami menyebarkan seruan ini ke seluruh penjuru dunia, dari Eropa hingga Amerika Latin, untuk menguatkan perang revolusioner. Kami mengorganisir diri secara internasional dan ini ditujukan kepada musuh-musuh kami. Kami tidak dapat berdiam diri melihat elemen-elemen subversif membanjiri jalan-jalan dan grup-grup gerilya diserang lagi dan lagi. Semua cara telah terbuka dan mencapai meja tanpa perasaan tabu atau terjebak pada fetisisasi. Sebagai contoh, kami menyerang kantor-kantor polisi, merampok bank-bank lalu membakarnya, bom-bom meledak di bangunan-bangunan pemerintah, senjata-senjata mengeksekusi para politisi, jurnalis, politisi, hakim dan jaksa, atau secara sederhana dapat kami katakan bahwa sasarannya adalah semua mereka yang melindungi dunia ini.

Langkah ini, setahap demi setahap, musuh internal domestik menjadi lebih berbahaya bagi mereka. Juga solidaritas, sebagai salah satu kekuatan dan senjata otentik dari semua kekuatan revolusioner, mengakuisisi kekuatan dan tangisan yang terkoordinasi. Mengenai penangkapan massal yang terjadi saat demonstrasi di Belgia, kami membalas dengan meledakkan bom di Yunani dan saat sebuah kelompok revolusioner di Chili dipenjara, Argentina seharusnya memenuhi puing-puing dari para penyerang kamerad kita. Bagi kami kematian para gerilyawan dan para tahanan bukanlah sebuah gencatan senjata, justru sebaliknya hal tersebut menjadi kekuatan-kekuatan yang memotivasi untuk kekesalan proses revolusioner.

Pada tanggal 17 Januari 2011 di Athena, akan ada pengadilan terhadap organisasi revolusioner kami. Mengenai hal ini beberapa anggota kami mencoba untuk bangga, beberapa revolusioner dan anarkis karena hubungan personal akibat penangkapan tersebut. Kami menyadari bahwa adalah tidak ada gunanya berbicara di pengadilan, semenjak kami mendefinisikan diri berada di luar batas-batas otoritas juridiksi. Apa yang menjadi substansi adalah solidaritas agresif kepada para kamerad yang tertangkap dan berada di penjara karena kasus yang sama. Bagi kami, mengesampingkan bahwa telah dirilis pemberitahuan untuk memburu kami satu persatu oleh polisi, juga bahwa dua orang kamerad kami yang baru saja tertangkap, tetap tidak akan menghentikan keberlanjutan dan tentu saja evolusi dari aksi-aksi kami.

Mengenai pilihan kami untuk mempromosikan perang hingga akhir, kami MENYERUKAN di Yunani, Eropa, Chili, Argentina, Meksiko dan ke seluruh dunia menjangkau semua kamerad berbagai bentuk gerilya untuk mengirimkan tanda serangan mereka kepada para hakim dan kepada otoritas Yunani, sekaligus sebagai salam solidaritas kepada semua tahanan perang gerilya kota baru. Biarlah pengadilan ini menjadi alasan lain untuk melanjutkan aksi-aksi dalam Perang Revolusioner.

CONSPIRACY OF CELLS OF FIRE

[Teks ini merupakan terjemahan bebas yang dikerjakan oleh Reuben Augusto dari surat seruan internasional yang di publikasikan oleh CCF menjelang 17 Januari 2011. Teks asli dapat ditemukan di sini]

Pernyaatan Dari Organisasi Revolusioner: Federasi Informal Anarkis – Seksi Indonesia

[Catatan Penerjemah: Tulisan ini terjemahan bebas dari situs berita insureksi: 325 menyusul peristiwa pemboman ATM BNI Bandung beberapa waktu lalu. Pernyataan ini diterima oleh 325 dan dipublikasikan di situs mereka.]

Salah satu sel dari International Conspiracy for Revenge (ICR), beberapa hari yang lalu mengeluarkan pernyataan untuk klaim pertanggungjawaban atas selebaran yang ditemukan di sekitar ATM BNI Bandung yang dihancurkan. Selebaran tersebut memiliki isi yang hampir sama dengan yang ditemukan di Makassar dan Manado.

Berikut petikan dari komunike yang mereka tinggalkan.

“PT Indomining (Bima) telah melakukan represi brutal kepada penduduk lokal, Jogja Magasa International ingin mengusir 30.000 petani di Kulon Progo. Petani-petani di Takalar sedang menghadapi ancaman perampasan tanah. Semua tindakan tersebut dilakukan dengan jalan brutal, termasuk penembakan-penembakan, teror, kekerasan seksual yang jelas merupakan bagian dari berbagai bentuk represi yang tidak pernah kita dengar melalui media massa mainstream.

Hal ini sangat tidak mengejutkan karena perusahaan kapitalis-birokratik tidak akan pernah peduli apapun selain membuat kantong mereka semakin tebal.

Serangan kami terhadap berbagai ATM (bank) merupakan target yang sangat penting, karena bank-bank selalu terlibat di dalam pendanaan berbagai pertambangan dan represi terhadap orang-orang atas nama Kapital! Kami tidak bermaksud menyakiti siapapun, karena penghancuran properti bukanlah kekerasan. Tidak ada ampun untuk semua kekuatan represif! Tidak ada ampun untuk Negara dan Kapital.

Semoga perang sosial terus membesar dan tidak lupa kami menyebutkan para kamerad di Yunani, Italy, dan di semua tempat lain yang tidak bisa disebutkan tapi kalian tahu bahwa hati kami selalu bersama kalian.

Got Is Tot : Asosiasi Bebas Para Individualis – Komunis

Salut dan hormat untuk: Organisasi Revolusioner – Conspiracy of Cells of Fire, The Revolutionary Struggle, para insureksionis di Chile, Giannis Dimitrakis dan Polykarpos Georgiades, hati kami selalu bersama kalian.

Panjang umur pembebasan dan tetaplah bebas. Dan dengan pernyataan ini kami menyatakan bergabung dengan Organisasi Revolusioner – Federasi Informal Anarkis, Seksi Indonesia.”

Tentang Direct Action: Membongkar Kebohongan Tentang Aksi Langsung

Reuben Augusto

Direct action atau aksi langsung, adalah sebuah terminologi yang dipahami terlalu rumit dan berliku-liku oleh kebanyakan orang hari ini. Banalitas yang lain adalah menganggap bahwa ‘direct action’ adalah satu jenis tindakan. Sebuah kesalahan definisi mengingat sebenarnya, direct action hanyalah label semata untuk semua jenis tindakan sabotase, vandal, ataupun destruktifik yang dilakukan baik secara individual maupun kolektif yang tujuannya adalah untuk menghambat, memperlambat, mengacaukan atau lebih jauh adalah untuk menghancurkan mekanisme operasi sistem –baik secara ekonomi, politik dan psikologis- hidup yang eksploitatif, koersif, hirarkis dan dominatif. Berikut akan coba dijelaskan beberapa ‘definisi yang banal’ mengenai direct action.

Direct Action atau Aksi Langsung adalah Terorisme

Jika yang mereka sebut dengan terorisme adalah sebuah upaya secara sadar untuk mengintimidasi dan di saat yang bersamaan melakukan tindakan penghancuran, maka mungkin beberapa jenis ‘direct action’ termasuk hal tersebut.

Tapi bagaimana kita menyebut dengan intimidasi yang dilakukan oleh korporasi dan negara terhadap kehidupan harian kita? Penjara, undang-undang, lembaga peradilan yang tak adil, polisi, tentara, agen-agen rahasia negara adalah sedikit dari beberapa alat yang digunakan oleh negara mengancam kita. Lalu masih ada ancaman soal PHK, pemotongan upah, skorsing, kenaikan harga, kesulitan akses terhadap kebutuhan dasar -makanan misalnya- adalah beberapa ancaman yang sedang dihadapi oleh setap kita yang terjebak dalam mekanisme kerja upahan. Bukankah hal-hal di atas juga menghancurkan kita secara fisik dan psikologis?

Yang menjadi perbedaan mendasar dari terorisme dan direct action, adalah jika yang disebut dengan terorisme adalah sebuah ekspresi dari spesialisasi klas yang melihat kekuatan tersebut untuk diri mereka sendiri, direct action mendemonstrasikan sesuatu yang jelas berkebalikan dan berbeda. Taktik lain yang ditempuh direct action adalah bagaimana menguatkan masing-masing individu untuk merebut kembali kontrol atas hidup mereka sendiri dan menggunakan kekuatan tersebut untuk menyelesaikan tujuan-tujuan dari diri mereka sendiri.

Contohnya adalah aksi PHK dapat dikategorikan sebagai terorisme, mengingat praktik dari hal tersebut adalah sebuah demonstrasi dari klas borjuis untuk mempertunjukkan kekuatan mereka dan di saat yang bersamaan menetralkan potensi setiap orang untuk mendefinisikan kekuatan dan kebutuhan dirinya. Jadi dapat dengan jelas ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan terorisme adalah tindakan yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungan sistem yang hanya menguntungkan sebagian orang dan tetap menjadikan bagian yang lain sebagai budak.

Direct Action atau Aksi Langsung adalah Kekerasan

Sebelum kita terburu-buru menjustifikasi bahwa sebuah tindakan termasuk dalam kategori kekerasan, maka menjadi primer adalah melihat kembali apa yang dimaksud dengan kekerasan. Sebab dengan begitu, kita tidak lagi terjebak pada pro-kontra ala para moralis atau oposisi dungu ala kaum Kiri.

Bukanlah sebuah kekerasan jika kita melakukan tindakan untuk menyabotase mesin-mesin pabrik, menghancurkan pusat-pusat perbelanjaan, membakar kantor-kantor pemerintahan, barak-barak dan kantor militer, bank dan rumah orang-orang kaya. Sebab tindakan itu tidak hanya semata-mata penghancuran bangunan fisik semata, namun lebih jauh daripada itu, tindakan tersebut adalah sebuah upaya menghancurkan rantai yang membelenggu dan mencegah kita merengkuh kebebasan hidup yang penuh. Properti-properti yang disebutkan tadi, secara simbolis merefleksikan perbudakan yang tengah kita jalani sekarang ini. Penyerangan dan penghancuran terhadap properti tersebut adalah sebuah tindakan langsung untuk memaklumatkan penolakan dan pendefinisikan kembali arti hidup yang sebenarnya.

Justru yang disebut dengan kekerasan, adalah bagaimana kita dijauhkan secara fundamental dari arti kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana hari ini, segala bentuk tindakan, ucapan dan apa yang kita pikirkan adalah hasil dari konstruksi sistem. Bagaimana kita kemudian didikte dan diarahkan dalam sebuah kepatuhan massal. Yang dikategorikan kekerasan adalah bagaimana kita tak menjalani hidup dengan riang gembira namun justru berkubang dalam depresi, kesepian dan kebingungan. Kekerasan adalah ketika kita tak lagi mempunyai hasrat selain hasrat akan komoditi. Kekerasan adalah bagaimana kita menjadi terlalu kaku dan sistematik hingga melupakan kesenangan bermain seperti seorang anak kecil. Kekerasan adalah ketika kita mesti mengumpulkan sejumlah uang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan untuk itu kita mesti bekerja hingga melewati batas kesadaran hingga kegilaan pada akhirnya kita rasakan sebagai sesuatu yang normal. Karena kekerasan adalah sekedar bertahan hidup dan bukan menjalani hidup.

Direct Action atau Aksi Langsung bukanlah Ekspresi Politik, tapi Aktifitas Kriminal

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar soal kriminalitas atau hal-hal terkait dengan kata itu? Jika kau membayangkan sesuatu yang buruk, negatif dan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang salah, tak mengapa. Karena tentu saja semua penilaianmu berbasis pada satu hal: kepatuhan pada hukum. Tapi coba lihat lebih jauh, apakah hukum adalah sesuatu yang netral? Tentu saja tidak.

Hukum dan segala bentuk institusinya adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memastikan kontrol dan dominasi tetap berjalan seperti biasanya. Untuk memastikan bahwa sirkulasi penumpukan keuntungan perusahan tetap berlangsung secara aman. Untuk memastikan bahwa negara berada dalam situasi yang kondusif sehingga para investor tak takut untuk menanamkan modal. Untuk memastikan bahwa kau tetaplah mesin yang produktif dan taat. Untuk memastikan bahwa kau tidak hanya sekedar menyaksikan pengrusakan alam, tapi ikut terlibat langsung di dalamnya. Untuk memastikan bahwa di otakmu, tak ada hal lain selain ketakutan untuk berada di luar aturan-aturan yang mereka ciptakan untukmu.

Menjadi hal yang lumrah jika kemudian kita mengungkapkan kekesalan dan kemarahan ketika hukum kemudian melindungi ketidakadilan. Adalah sesuatu yang wajar jika kita mengekpresikan depresi dan kebosanan ketika hukum berbalik memasung kebebasan kita. Setiap tindakan ilegal yang melangkahi aturan-aturan -dan pastinya akan dilabeli sebagai tindakan kriminal- adalah ekspresi kita. Meski itu bukanlah ekspresi politik.

Aksi Langsung Tidak Perlu Ketika Setiap Orang Mempunyai Hak Untuk Mengutarakan Pendapat

Ini adalah sebuah pendapat populer yang juga tidak hanya kalian dengarkan lewat media borjuis di mana para penguasa mempropagandakan kebohongan-kebohongannya, tapi juga melalui mulut para aktifis Kiri yang pendek akal tersebut.

Dalam masyarakat di mana kapitalisme telah berhasil mematerialisasikan dirinya dalam masyarakat dan muncul dalam berbagai bentuk seperti humanisme dan demokrasi, maka adalah gila jika kemudian beranggapan bahwa ada kemungkinan di mana pendapat kita akan didengarkan. Adalah sesuatu yang perlu lagi dinilai tentang masih layakkah disebut kenormalan jika kita melihat bahwa ruang sempit pengap dan selalu disesaki oleh banyaknya harapan yang karam. Bahwa celah kecil dimana bahkan desahan nafas kita juga mesti bersusah payah untuk dapat melewatinya. Kegilaan lubang jarum yang hanya dilihat sebagai gerbang emas oleh mereka yang matanya telah katarak karena kapitalisme.

Bagi yang masih percaya bahwa dalam kekejaman luar biasa kapitalisme, mereka tetap masih berkenan memberikan kalian kesempatan untuk mengutarakan keinginan kalian, maka itu sama saja kalian percaya bahwa Paman Gober adalah orang yang paling baik hati dan boros. Tentu saja jangan lupa panggil saya: Barrack Obama.

Kapitalisme dan negara sebagai duet yang telah lama saling bekerja sama di ratusan album rekaman sejarah kebiadaban terhadap hidup, telah memperkirakan bahwa pada titik tertentu beberapa hasrat liar berpotensi muncul ke permukaan. Titik-titik tersebut adalah peristiwa ketika ada sedikit pengungkapan dari tirai hitam eksploitasi dan kehilangan hidup yang seutuhnya. Dan tentu saja, dengan cerdasnya mereka telah menciptakan sebuah perangkat canggih yang hari ini kita kenal sebagai: mediasi.

Mediasi dalam pengertiannya adalah ruang tipuan yang berisikan semua imaji-imaji kapitalisme. Semuanya bertujuan untuk tidak hanya sekedar menghaluskan atau mengikis sedikit, lebih dari itu, ia bertujuan untuk mengabolisi semua potensi ancaman yang lebih luas.

Mediasi tidaklah memberikan apa yang sejatinya kita inginkan. Misalnya totalitas hidup tanpa opresi. Ia justru menjungkirbalikkannya dan menukarnya dengan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita inginkan, namun dibungkus dengan kado yang didesain dengan kemiripan yang sangat. Tujuannya selain untuk kembali menenggelamkan kita dalam ilusi, itu adalah bentuk suap rendahan yang konsekuensi jauh berlipat ganda. Yaitu kehilangan lebih banyak dari apa yang telah sebelumnya dirampas oleh kapitalisme.

Institusi-institusi sosial politik yang bertugas untuk hal ini dapat kita sebutkan beberapa diantaranya. Kau dapat melihat lembaga legislatif yang sering kalian datangi setiap kali demo massa yang menyedihkan itu dilakukan. Tunjuk juga para NGO/LSM yang sering membawa air untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan rakyat yang secara antagonistik bertentangan dengan korporasi dan negara. Lihat juga para penganjur lainnya seperti lembaga agama, keluarga, sekolah, universitas, penjara, serikat buruh, serta ratusan bentuk lain yang kesemuanya mempunyai tujuan yang sama.

Memberikan kalian kebebasan utuh yang sebenarnya hanyalah kepingan kecil dari salah satu jejeran produk kapitalisme yang laku dijual. Dan tebak siapa konsumennya? Tentu saja kalian para idiot yang percaya bahwa suara kalian akan didengar melalui mediasi sejenis ini.

Aksi langsung tentu saja adalah oposisi tegas dari kepura-puraan ini. Beberapa pemberani di masa lalu pernah mengatakan dengan tegas bahwa hanya tindakan yang dapat berbicara. Ketika semua pintu dan jendela telah mereka tutup untuk suara kita, maka membakar dan menghancurkan semua pintu dan jendela sekaligus adalah salah satu cara untuk membuat suara kita didengar.

Cara mengutarakan pendapat yang tersedia hari ini hanyalah aksi langsung. Bukan kita yang membuat semua pilihan menghilang dan menjadi tidak mungkin, melainkan karena akumulasi kekuasaan, penipuan, eksploitasi dan koersi kapitalisme dan negara-lah yang mesti dipersalahkan atas semua ini.

Maka kalian bisa langsung meninju mulut seseorang jika ia menawarkan kebohongan untuk memediasi hasrat pemberontakanmu.

Aksi Langsung Itu Mengalienasi

Ya. Ini seperti mengatakan bahwa Uni Soviet adalah keberhasilan gilang gemilang tanpa cacat yang membawa manusia kepada harapan akan hidup yang sebenarnya. Yang mutual, eksperimentalis dan berwarna. Bicara tentang alienasi dalam aksi langsung adalah omong kosong yang mesti dirayakan dengan tinju yang lebih keras lagi.

Alienasi diartikan sebagai keterasingan. Sebuah kondisi dimana seorang individu dengan sengaja dijauhkan secara kasar dan brutal dari sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya. Tidak hanya soal pekerja dan hasil kerjanya yang membuktikan kedangkalan analisa kaum Kiri. Lebih jauh dari itu, alienasi adalah ketika seorang anak dijauhkan dari ibunya, ketika seorang individu terasing dari lingkungannya, dari setiap bangunan dan konstruksi di sekitarnya, dari setiap keinginan dan hasrat, dari setiap cinta, waktu, tenaga, mimpi dan berbagai keindahan yang lain. Ketika seseorang menjadi asing terhadap dirinya sendiri. Itulah wajah alienasi hari ini.

Seperti aksi demonstrasi massa yang setiap orang di dalamnya hanya berdekatan secara fisik namun pada esensinya saling teralienasi satu dengan yang lain. Tidak ada relasi apapun dalam massa. Seperti juga dalam pemilihan umum, tempat kerja, universitas dan hubungan pernikahan. Yang kalian temukan adalah alienasi itu sendiri. Maka jangan heran jika frustasi dan kemuraman serta kedangkalan hidup yang akan ditemukan di dalamnya.

Lalu? Tentu saja aksi langsung secara dimensi historisnya telah memberikan gambaran yang jelas berbeda. Aksi langsung justru bertujuan menghancurkan tembok-tembok alienasi tersebut. Aksi langsung dalam berbagai variannya berfungsi sebagai metoda untuk mengkoneksikan individu dengan individu yang lain. Menjadi jembatan antara yang temporer untuk membantu kita sebagai alat bantu merengkuh apa yang hilang karena itu semestinya kita miliki untuk hidup.

Pertempuran jalanan misalnya. Dengan jelas dapat kita lihat di berbagai kasus yang telah berlangsung bahwa kemudian dengan alami ia mampu menjadi medium interaksi yang benar-benar hidup untuk memberangus alienasi sekali dan untuk selamanya. Jika alienasi bertujuan memisahkan dan menceraiberaikan, maka aksi langsung adalah konfrontasi terhadapnya.

Aksi langsung adalah pelampauan yang tidak semata-mata simbolis, namun menjadi sebuah tabrakan keras yang diarahkan ke titik-titik vital dari pondasi alienasi. Itu mengapa serangan dari aksi langsung selalu jujur, terbuka, horizontal dan mutualis. Ini juga berarti menegasikan propaganda tak masuk akal dari para aktifis bahwa dalam perjuangan anti kapitalisme kita para pelopor dan para spesialis atau organisasi birokratik yang meski dilabeli revolusioner tetap saja tidak mampu menutupi kebohongannya sebagai musuh yang juga adalah salah satu target dari aksi langsung.

Aksi Langsung itu Eksklusif

Memang pada kenyataannya, ada beberapa metoda aksi langsung di mana tidak mudah untuk mengambil posisi partisipasi di dalamnya. Namun hal tersebut tidak bisa langsung dijustifikasi sebagai aksi yang eksklusif.

Ada beberapa hal yang mesti dilihat secara lebih jelas. Misalnya, sebuah grup tertutup dengan metoda-metodanya yang mengandung resiko cukup besar tentu saja mempunyai sistem pengamanan tersendiri. Ini semata-mata merupakan sebuah antisipasi dari serangan balik dari musuh.

Juga bahwa setiap individu mempunyai kemampuan dan ketertarikan yang berbeda satu dengan yang lain. Sehingga kemudian tidak dapat dipersalahkan jika kemudian seseorang tidak bisa ikut terlibat dalam satu grup tertentu. Sebaliknya ini adalah tawaran nyata untuk membentuk grup yang lain dan membuka ruang berbeda. Persoalannya tinggal bagaimana kemudian membangun transaksi mutual antar grup atau individu untuk beberapa projek yang disepakati.

Aksi langsung memang tidak menumpukan diri pada persoalan kuantitas. Jauh lebih penting daripada itu adalah persoalan kualitas yang mesti terus dijaga. Itu mengapa sebuah grup Food Not Bombs yang terlalu besar menjadi tidak efektif. Selain mengurangi interaksi antar individu yang ada di dalamnya, ia juga kemudian membutuhkan manajemen yang lebih sulit dan membuka kemungkinan buruk dengan lahirnya representasi dan hirarki.

Akan jauh lebih baik jika kemudian sebuah tim atau kolektif yang besar kemudian dipecah-pecah dalam grup yang lebih kecil. Selain lebih gesit, setiap individu di dalamnya dapat lebih maksimal mengeskplorasi potensi, kemampuan dan mendefinisikan ketertarikannya. Hubungan yang real dan tidak termediasi juga akan tetap terjaga.

Lagipula, aksi langsung bukan untuk menumpuk jumlah seperti yang dicita-citakan oleh partai atau organisasi massa lainnya.

Aksi Langsung yang Anonimus adalah Pengecut

Mari bertanya mengapa hari ini begitu banyak pemberontakan begitu mudah dipadamkan? Bukan hanya karena metodanya yang percaya pada sentralisme dan elitisme kepemimpinan kelompok kecil yang dipilih khusus, namun karena juga para musuh yang adalah para penindasmu menangkap, membungkam, meneror dirimu atau orang-orang yang kau lindungi, memenjarakan atau bahkan membunuhmu secara fisik.

Hari ini menjadi anonimus bukan sekedar replikasi menyedihkan dari taktik kelompok bertopeng ala Zapatista di Meksiko. Namun karena ia telah menjadi sebuah taktik yang dilahirkan dari kondisi di mana pada kenyataannya, belenggu perbudakan dijaga dengan ketat.

Bertindak anonimus mengajarkan beberapa hal penting. Pertama, kau belajar kerendahan hati dengan menjauhi kepopuleran dan budaya selebritis yang menjadi salah satu rayuan maut kapitalisme dan negara. Ia mencegah kau dapat terdeteksi dan kemudian dilabeli harga untuk dibeli dan dijual kembali dengan harga yang lebih mahal layaknya salah satu komoditi mereka.

Kedua, taktik anonimus menggaransikan keberlanjutan serangan. Bukankah menyedihkan ketika kau mesti dipenjarakan hanya karena terbukti melempar molotov pertama kali ke arah kantor polisi untuk serangan yang baru di mulai? Dengan menjadi anonimus, kau membawa pelacakan dan upaya menghentikan serangan yang di mulai menuju satu tahap yang jauh lebih sulit lagi bagi para penjahat tersebut.

Ketiga, bertindak anonimus adalah sikap cerdas yang menghindarkan dirimu dari pukulan balik yang disediakan oleh para musuh. Meski tetap saja sikap waspada mesti dikedepankan, namun menyembunyikan identitas adalah sebuah upaya untuk mulai mengajari diri belajar. Melihat kegagalan secara lebih seksama dan berupaya untuk tidak mengulangi kegagalan-kegagalan yang terjadi. Mengajarkan dirimu untuk bersabar dan menentukan saat yang tepat untuk memulai lagi serangan. Memberi dirimu pengalaman. Hal ini dapat menjadi bahan belajar yang mengasyikkan.

Keempat, menjadi anonimus juga adalah sebuah deklarasi identitas. Sebuah parodi atas homogenitas yang menjadi salah satu kampanye kapitalisme dan negara. Ia adalah pembalikan dengan muatan yang berbeda yang ditujukan untuk menghancurkan apa yang telah menghancurkanmu hingga kehilangan segalanya, termasuk dirimu sendiri.

Dalam beberapa metoda aksi langsung, menyembunyikan wajah menjadi sangat penting dan ini bukanlah soal menjadi pengecut. Sebaliknya, ini adalah deklarasi dari ketakutan yang menjadi kekuatan. Dipukul secara telak dan kontinyu tanpa tahu siapa pelakunya, selalu akan membuat musuh akan frustasi.

Aksi Langsung adalah Tindakan Provokator

Lagipula menjadi provokator bukanlah sesuatu yang memalukan. Karena bukanlah sesuatu yang memalukan jika seorang manusia melakukan serangan sebagai manifestasi emosi sekaligus perengkuhan kemerdekaan. Bukan juga sesuatu yang memalukan jika memilih sebagai manusia dan bukan sebagai komoditi.

Spekulasi mengenai provokator selalu digunakan oleh penguasa sebagai taktik untuk meredam potensi kejut di masyarakat. Hal ini juga sering dilegitimasi oleh kalangan menengah semisal para aktifis Kiri yang pengecut dan para spesialis bajingan yang dipanggil akademisi. Upaya untuk menjaga stabilisasi dan keamanan hanyalah mempunyai satu agenda tunggal. Memastikan sirkulasi transaksi komoditi dan roda ekonomi terus berjalan seperti biasanya.

Interupsi sejenis aksi langsung sangatlah berbahaya. Selain mengganggu proses akumulasi keuntungan, aksi langsung yang simultan memiliki prospek berbahaya sebagai upaya untuk mengeliminir kapital dan negara.

Aksi Langsung itu Berbahaya dan Dapat Menimbulkan Akibat Negatif untuk Orang Lain

Pendapat seperti di atas sering sekali terdengar. Bertendensi moral yang tentu saja menginginkan kita kembali berhenti dan kembali menggunakan cara-cara yang telah termediasi. Namun sekali lagi, itu hanya omong kosong. Satu-satunya akibat negatif dari aksi langsung adalah transformasi seorang budak menjadi manusia merdeka.

Aksi langsung adalah simbolisasi dari sekedar penolakan verbal yang diucapkan dengan praktik. Ia melampaui teks yang paling radikal sekalipun.

Orang-orang yang mempraktikkan Aksi Langsung Seharusnya Bekerja Menyiapkan Pembangunan Jejaring Politik

Entah mengapa pendapat itu sekali lagi terdengar seperti pidato para propagandis Kiri yang gemar tampil di atas panggung untuk mengkhotbahi semua orang tentang bagaimana memperjuangankan kebebasan. Lengkap dengan sejumlah panduan juga aturan.

Jejaring adalah sesuatu yang dibangun atas dasar kebutuhan yang muncul. Sebuah hubungan yang terbangun atas dasar di mana kedua pihak merasa saling membutuhkan. Sebuah relasi yang setara. Banyak dari para aktifis (ini terutama sekali terlihat pada kaum Kiri) yang terlalu sibuk memikirkan bagaimana mereformasi sistem dan mengambil alih dengan alasan demi kepentingan bersama. Meskipun sebenarnya telah sangat berlimpah bukti yang disodorkan oleh sejarah tentang bagaimana sebuah sistem sosial yang berbentuk piramida, tidak akan pernah bisa direformasi untuk menghasilkan kesetaraan dan kebebasan bagi semua orang. Satu-satunya jalan yang mungkin adalah dengan menghancurkannya, agar kemudian kita dapat melihat beragam pilihan yang berada di balik hal tersebut.

Jejaring seharusnya merupakan sebuah relasi alamiah. Meletakkannya dalam kerangka berpikir tua justru hanya akan menyebabkan terjadinya pengulangan kesalahan berkali-kali. Persoalannya juga adalah meletakkan kerangka relasi ini di luar persoalan politik, yang merupakan salah satu alat dari sistem besar yang berjalan hari ini. penting untuk disadari bahwa penghancuran sistem ekonomi yang koersif hari ini tidak bisa berjalan tunggal tanpa penghancuran keseluruhan aspek politik yang juga melingkupinya. Menjebakkan diri dalam tradisi ekonomi politik ala para Marxis ortodoks hanya akan menjauhkan kita dari akar masalah, dan kemudian kembali lagi pada tradisi kompromisme.

Aksi langsung merupakan sebuah langkah yang melampaui mistikisme yang ditawarkan oleh glamour politik dan pendar-pendar kesejahteraan. Ia adalah sebuah pernyataan sekaligus sebuah serangan yang kemudian membuka kembali upaya untuk menemukan kemanusiaan serta kebebasan. Dengan menyerang, seseorang telah melakukan penolakan secara mendalam terhadap mekanisasi serta komodifikasi hasrat hidup. Bersamaan dengan itu, aksi langsung adalah redefinisi dengan aksi penolakan terhadap reproduksi nilai dari pabrik-pabrik sosial di mana kita dibesarkan.

Aksi Langsung Hanya Dilakukan oleh Orang Miskin yang tak Beradab, Anak Muda Kers Kepala dan Orang Gila

Ini kebohongan yang benar-benar amatir. Kenyataan membuktikan bahwa individu-individu yang melakukan aksi langsung datang dari berbagai latar belakang. Bukan hanya keragaman warna kulit, pekerjaan serta strata ekonomi. Namun juga datang dari beragam latar belakang seksual. Setiap orang yang terlibat dalam berbagai jenis aksi langsung hanyalah homogen dalam satu hal: memiliki musuh yang sama. Yaitu negara dan kapitalisme.

Propaganda murahan seperti di atas tidak hanya digunakan oleh para birokrat penguasa atau juga para pemilik modal. Tapi juga digunakan sebagai senjata para moralis yang berpura-pura dengan menggunakan topeng revolusioner: kaum Kiri. Mengingat dengan berlangsungnya sebuah aksi langsung, terbuka berbagai kemungkinan yang selama ini terlihat tidak mungkin. Ketakutan mereka adalah hilangnya totalitas kontrol perbudakan yang selama ini menggaransikan perputaran dominasi dan koersi.

Berbagai taktik yang dipilih dari beragamnya jenis aksi langsung tidak layak untuk dijustifikasi dengan menggunakan sudut pandang dunia lama hari ini. Karena hal tersebut akan menjerumuskan seseorang ke dalam iklim pasifisme yang menyedihkan. Bukankah semua orang paham bahwa menunggu itu membosankan?

Aksi Langsung Tidak Pernah Menyelesaikan Apapun

Jika ada seseorang yang mengatakan hal seperti di atas, kau bisa langsung membungkam mulutnya karena jelas orang itu adalah pembohong. Kita dapat menengok sejarah panjang berbagai perlawan yang pernah terjadi di berbagai tempat sebagai bukti. Meski memang sangat penting untuk dipahami bahwa aksi langsung bukanlah hasil akhir. Ia bukanlah sebuah targetan yang mesti diletakkan dalam kerangka ukur. Sebaliknya, aksi langsung merupakan sebuah proses berkelanjutan yang dinamis dan tidak stabil. Dinamika yang berlangsung dalam setiap tindakan aksi langsung adalah perengkuhan itu sendiri.

Aksi langsung lebih berupa alat bantu yang dapat diganti kapan saja dan tidaklah mengikat. Itu mengapa dalam berbagai jenis aksi langsung, ikatan bebas dalam sebuah asosiasi setara menjadi salah satu opsi yang dipilih. Pengekangan bentuk, strategi dan metode menurut kerangka organisasional kuno sering membuat aksi langsung tidaklah mendapatkan tempat. Mengujicobakan aksi langsung juga bukan sebuah kesalahan. Menjadi sabar dan berharap perubahan itu dilakukan oleh orang terpilih, menurutku itu yang lebih layak disebut sebagai kesalahan.