Gerilya Eropa: Tentang Red Army Fraction dan Grup Gerilya Lain

Pengantar:

Hadirnya Red Army Fraction (RAF) atau yang lebih dikenal sebagai Gerakan Baader Meinhoff memiliki arti penting bagi kami di NEGASI. Hal ini tidak lepas dari penilaian subjektif bahwa aksi yang mereka lakukan (dan juga semua kegagalan yang menyertainya), tidak semestinya dikubur begitu saja. Justru dengan mempublikasikannya adalah sebuah cara untuk melihat kemungkinan yang lebih luas. Sebuah upaya untuk memperkaya taktik dan strategi perebutan kendali hidup.

Tidak ada heroisme dalam publikasi ini. Juga bukan berarti bahwa kami menempatkan diri segaris dengan semua yang tertulis di sini. Sebab ini hanyalah teks semata. Ia hanya mengandung ide ide tertentu yang mendokumentasikan perlawanan pada sebuah tempat di sebuah waktu.

Semenjak kami semua tak percaya bahwa tak seharusnya sebuah ide membelenggu manusia. Sejak itu pula kami tak percaya keutuhan dan kemutlakan sebuah strategi dan taktik. Bagi kami, pengalaman memperkaya analisa, namun metode dan taktik perjuangan mestilah dirumuskan hari ini dan di sini.

Teks ini diterjemahkan oleh Blue salah seorang partisan dari Konspirasi Kontra Kultura (KKK), pada bulan September hingga Oktober 2002. Pustaka Otonomis kemudian mempublikasikannya di situs mereka, yang mana kemudian kami bajak untuk dipublikasikan di sini. Teks ini juga sudah pernah dicetak dan digandakan sebagai pamflet oleh KKK.

Kini, kami kembali hadirkan di sini sebagai sebuah upaya untuk membuka lebih banyak saluran dan alternatif pilihan. Semuanya adalah untuk percobaan perang pembebasan hasrat dan hidup yang lebih baik.

Salam,

* * * * *

Gerakan Dua Juni

Diberi nama dari tanggal ketika Benno Ohnesorg dibunuh, “Gerakan Dua Juni” muncul dari kancah anti-otoritarian militan di Berlin Barat pada 1971. Pada Juni 1972, kelompok tersebut mempublikasikan program politik mereka. Butir ketiga berbunyi sebagai berikut: “Gerakan melihat dirinya sebagai vanguard hanyalah sejauh bahwa ia berada diantara yang pertama yang mengangkat senjata. Ia bukan vanguard karena menyebut dirinya demikian.”

Strategi Gerakan Dua Juni dipetik dari konsep gerilya di Amerika Latin dan mengkombinasikannya dengan perjuangan “legal”. Butir kesepuluh dari program mereka berbunyi: “…Bagi kami, praxis bermakna: Menciptakan kelompok legal yang militan, menciptakan milisi, menciptakan gerilya perkotaan – hingga kita memiliki rakyat yang bersenjata.”

Gerakan Dua Juni memandang dirinya sebagai kelompok gerilya kota, terbatas pada wilayah Berlin Barat. Secara khusus dengan cara-cara aksi spektakuler, semacam membagi-bagikan permen coklat selama perampokan bank, kelompok tersebut mendapat perhatian yang besar. Capaian tertinggi Gerakan Dua Juni adalah penculikan pemimpin wilayah CDU Peter Lorenz tahun 1975. Hasil dari aksi ini, kelompok tersebut mampu memenangkan kebebasan bagi lima anggota Red Army Fraction (RAF) yang dipenjara.

Dalam jangka waktu yang pendek setelah penculikan Lorenz, anggota-anggota penting Gerakan Dua Juni ditangkap. Selama pencarian anggota-anggota kelompok tersebut, tembak-menembak dengan polisi berlangsung di Cologne bulan Mei 1975. Werner Sauber, seorang anggota Gerakan Dua Juni, dan seorang polisi terbunuh. Setelah kesuksesan negara dalam pembasmian terhadap kelompok ini, Gerakan Dua Juni hanya terdengar suaranya lewat statemen pembelaan di pengadilan dan teks para aktivis yang dipenjara. Pada Juni 1980, kelompok tersebut membubarkan diri dan menjadi bagian dari RAF. Di bulan yang sama, tiga anggota tiga anggota Gerakan Dua Juni yang ditahan di Penjara Moabit Prison di Berlin, Ralf Reinders, Klaus Viehmann, dan Ronald Fritsch, mengeluarkan surat menegaskan oposisi mereka terhadap keputusan ini.

The Red Army Fraction (RAF)

Tahun 1968, sebagai protes terhadap perang di Vietnam, empat orang, diantaranya Andreas Baader dan Gudrun Ensslin, meledakkan suatu peralatan yang dapat mengeluarkan api didalam pusat perbelanjaan di Frankfurt. Keempat tak lama kemudian ditangkap dan dikirim ke penjara. Saat di penjara, Andreas Baader membangun hubungan yang erat dengan seorang jurnalis bernama Ulrike Meinhof. Dari hubungan ini muncul ide untuk meloloskan Andreas Baader keluar dari penjara di bulan Mei 1970, aksi pertama yang dilakukan RAF. Diakhir 1970-an, kelompok tersebut berangkat ke Yordania untuk berlatih bersama organisasi Palestina “Al Fatah”. Di musim semi 1971, sebuah surat dikeluarkan diberi judul, “Red Army Fraction – Konsep Gerilya Kota”. Teks tersebut bertulis sebagai berikut: “Konsep gerilya kota timbul datangnya dari Amerika Latin. Apa yang terjadi disana bisa juga terjadi disini: sebagai sarana intervensi revolusioner oleh kekuatan revolusioner yang relatif lemah.” RAF menjelaskan dirinya sebagai “kelompok perlawanan anti-imperialis, yang bukan merupakan bagian perjuangan yang ada disini, namun lebih merupakan perjuangan yang berlangsung di Dunia Ketiga.

Aksi Pertama yang dilakukan RAF

Setelah dua tahun bergerak dibawah tanah, RAF menjalankan enam serangan di bulan Mei 1972. Dua dari serangan ini adalah terhadap tentara A.S, tiga terhadap polisi dan pengadilan, dan satu terhadap korporasi Springer. Beberapa minggu setelah serangan ini, sejumlah anggota RAF ditangkap. Bulan September 1974, tahanan RAF memulai aksi mogok makan mereka yang ketiga terhadap kondisi penjara mereka. Setelah 56 hari, Holger Meins meninggal sebagai akibat dipaksa menelan makanan. Setelah ini, “Kommando Holger Meins” RAF menduduki Kedutaan Jerman di Stockholm di bulan April 1975 dan menawarkan untuk menukar sandera-sandera tersebut sebagai ganti pembebasan 26 anggota RAF yang dipenjara. Dalam rangka memberi gambaran ketetapan hati mereka, kommando RAF mengeksekusi atase militer Jerman pada permulaan pendudukan. Saat unit kepolisian menyerbu kedutaan, komando memasang serangan bahan peledak. Selama pengrebekan, satu diplomat dan satu anggota RAF, Ulrich Wessel, terbunuh, dan bangunan tersebut terbakar api. Lima anggota komando yang lain ditangkap oleh polisi. Diantara mereka Siegfried Hausner, yang walaupun sedang terluka secara serius diterbangkan ke Penjara Stammheim, dan tak beberapa lama meninggal dunia.

Satu tahun kemudian, di malam 8 Mei, 1976, Ulrike Meinhof diketemukan tergantung di selnya. Pada 1977, RAF melancarkan suatu ofensif besar-besaran. Di bulan April, Penuntut Federal Siegfried Buback dan dua pegawalnya ditembak mati di jalanan. Komando RAF yang bertanggungjawab menyebut tindakan pengeksekusian Buback, karena ia bertangungjawab atas pembunuhan Holger Meins, Ulrike Meinhof, and Siegfried Hausner. Di bulan Juli, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Jurgen Ponto, seorang eksekutif puncak Bank Dresdner . Di bulan September, sebuah komando RAF menculik Hanns-Martin, Schleyer Presiden Asosiasi Pengusaha Jerman.

Selama penculikan Schleyer, empat pengawalnya tewas. RAF menginginkan menukar Schleyer dengan kamerad-kamerad RAF yang dipenjara. Untuk menambah bobot pada tuntutan ini, sebuah komando Palestina membajak sebuah jet Lufthansa berisi penuh dengan turis Jerman di Mallorca. Komando tersebut menembak pilot dan mengancam membunuh seluruh sandera. Unit polisi anti-teroris khusus GSG-9 menyerbu pesawat saat menunggu di landasan pacu di Mogadishu, Somalia. Semua anggota komando Palestina ditembak dan terbunuh, kecuali seorang perempuan yang selamat, terluka parah. Segera menyusul kejadian ini, tahanan RAF Jan Carl Raspe, Andreas Baader, dan Gudrun Ensslin ditemukan tertembak mati atau tergantung di sel isolasi mereka di Stammheim. Irmgard Moller selamat, dengan luka sangat serius. Hari berikutnya, 19 Oktober, 1977, polisi menemukan mayat Hanns-Martin Schleyer di bak belakang sebuah mobil.

Musim Gugur Jerman (German Autumn)

Reaksi negara Jerman terhadap ofensif RAF terkenal dengan Musim Gugur Jerman. Periode ini ditandai dengan kampanye media yang belum pernah terjadi sebelumnya mencoreng orang-orang yang diduga keras “simpatisan” RAF. Tiap-tiap dan semua orang yang dicurigai bersimpati kepada RAF dianggap anggota potensial atau paling kurang pendukung bagi organisasi tersebut. Pengawasan polisi, pengrebekkan rumah, dan penangkapan merupakan merupakan keadaan sehari-hari. Undang-undang kejahatan politik sangat dipertajam. Antara 1977 dan 1981, RAF hanya menjalankan satu kali serangan. Di bulan Juni 1979, sebuah komando RAF meledakkan bom didekat iring-iringan Jenderal A.S Alexander Haig, kepala NATO, di Mons, Belgia. Haig selamat tanpa luka. Dari Pebruary hingga April 1981, para tahanan RAF mengorganisir sebuah mogok makan, yang dibatalkan menyusul kematian Sigurd Debus. Dua aksi RAF menggiringi musim panas: serangan bom di bulan Agustus pada kantor pusat angkatan udara AS di Eropa, pangkalan NATO di Ramstein, dan serangan roket terhadap Jenderal AS Kroesen, yang tak terluka.

Konsep Front

Di Mei 1982, RAF mengeluarkan sebuah komunike yang diberi judul, “Gerilya, Perlawanan, Dan Front Anti-Imperialis”, yang mencerminkan keluasan ideologi kelompok ini dan konsep strategi mereka. “Dokumen Mei” ini mengkritik ofensif 1977, secara khusus tindakan pembajakan pesawat, dan menyebut upaya itu sebuah kesalahan. Namun kritik-diri RAF masih membatasi diri. RAF mengatakan 1977 mencapai suatu dimensi historis, tahun dengan efek positif atas gerakan perlawanan. Suatu kemenangan dilihat dalam kenyataan bahwa negara tak mampu menghancurkan RAF. Dan akibatnya gelombang represi dari aparatus negara dianggap positif juga, karena hal tersebut memaksa seluruh perlawanan untuk membuat pilihan bersama atau melawan RAF. RAF melihat suatu perbedaan jelas semacam itu sebgai bukti akan kedudukan kepeloporannya. Dari sudut pandang ini, semua kekuatan oposisi sejati mengarahkan diri kepada RAF – atau mereka tak eksis sama sekali. “Musim Gugur 1977 memberi semua kelompok oposisi fundamental relasi dan syarat-syarat baru bagi kelangsungan hidupnya – sebagai pengalaman aktual dan prespektif bagi perjuangan masa depan, semuanya telah dipaksa untuk secara mendasar mereorientasi dirinya terhadap kekuasaan – atau menyerah. … Dari pengalaman yang baru ini, kebutuhan akan aksi gerilya merupakan satu langkah yang mudah bagi kesadaran: Jika perjuangan gerilya merupakan perjuanganmu sendiri, maka satu-satunya keinsyafan yang logis dari hal ini adalah dengan secara politis dan praktis menggabungkan dirimu dalam strategi gerilya, pada tingkat yang manapun.” (Dokumen Mei).

RAF mengembangkan ide tentang “front anti-imperialis” ini di metropolitan sebagai bagian dari perjuangan global untuk pembebasan. Practically speaking, ini berarti tiga-bagian pendekatan. Pada bagian pusat adalah “aksi militer” dari komando RAF, disertai dengan kegiatan dan serangan oleh para “militan” dan agitasi lebih jauh oleh spektrum yang lebih luas dari para pendukungnya. Hal tersebut tidak, walaupun begitu, menyatakan secara tidak langsung suatu hubungan organisasional. Kelompok-kelompok dari gerakan perlawanan beroperasi secara independen akan mengorientasikan dirinya pada aktivitas RAF. Konsep ini di buat ringkas dalam slogan: “Front Dibentuk Sebagai Sebagai Gerakan Yang Bertempur!”

“Strategi Front” RAF tak memberi suatu kesuksesan yang penting. Hanya selama mogok makan oleh para tahanan RAF dimungkinkan memobilisasi kekuatan dari gerakan perlawanan yang lebih luas. “Aksi militer” RAF hanya dijalankan oleh lapisan menegah dari para pendukungnya. Kelompok ini, berbagai “Komite-komite Anti-Penyiksaan” dan kelompok-kelompok anti-fasis, dibentuk di tahun 1970-an untuk melakukan kerja-kerja membantu para tahanan bagi RAF.

Kelompok-kelompok antifa pada saat itu memahami fasisme sebagai “fasisme” nya Jerman Barat, terisrimewa sekali sebagaimana yang digambarkan oleh kondisi penjara dan kelakuan-kelakuan polisi negara. Dari sini muncul “kelompok anti-imperialis” yang berkembang diawal 1980-an. Titik fokus yang terbesar bagi “antiimp” adalah layanan pada tahanan. Sebagai tambahan untuk hal ini, komunike RAF dan aksi-aksinya didiskusikan dan sebuah upaya diciptakan untuk mengkomunikasikan hal ini didalam gerkan perlawanan yang lebih luas dan mendukung inisiatif yang serupa.

Tambahan untuk konsep fron, dalam 1980-an RAF juga membuat teori atas masalah “jaringan industrial-militer”. Hubungan yang tak terpisahkan dilihat antara militer, industri, dan elit politik di negara-negara imperialis. Oleh sebab itu, target serangan, dapat bukan hanya aparat militer dan represi, namun juga kaum industrialis dan politisi.

Tak lama setelah mempublikasikan Dokumen Mei, RAF menderita serangan yang berat pada bulan Nopember 1982. Dengan penangkapan Adelheid Schulz, Brigitte Mohnhaupt, dan Christian Klar, tiga anggota komando hilang. Kejadian sesudah penemuan tempat penyimpanan 13 senjata telah menghilangkan dari kelompok ini banyak dari infrastrukturnya. Tahun berikutnya juga ditandai dengan penindasan yang serius. Pada 1984, lagi 9 anggota RAF dipenjara, dan tak ada serangan dilakukan selama periode ini.

Ofensif Baru

Baru hingga Desember 1984 RAF menjalankan aksinya yang lagi, serangan bom yang gagal pada sekolah perwira NATO di Oberammergau. Mogok makan yang lain juga dimulai pada Desember 1984, dan berakhir hingga Pebruari 1985. Mogok makan ini barengi oleh gelombang serangan yang hingga sekarang dianggap unik didalam sejarah RAF. Bukan hanya spektrum antiimp, kancah autonomist juga dimobilisir mendukung mogok makan. Dalam waktu delapan minggu dari Desember sampai Pebruari paling kurang terdapat 39 pembakaran bangunan besar-besaran dan serangan bom dan juga sejumlah aksi yang lebih kecil. Pada 20 Januari 1985, terjadi serangan bom pada sebuah pusat komputer di Stuttgart-Vaihingen. Bom meledak secara prematur dan membunuh Johannes Thimme. Komradnya Claudia Wannersdorfer terluka serius dan ditangkap.

“Gerilya Eropa Barat”

RAF dan kempok Perancis “Action Directe” (AD) mengeluarkan sebuah komunike bersama bulan Januari 1985. Berjudul “Untuk Persatuan Kaum Revolusioner di Eropa Barat!”, dokumen tersebut mempropaganda pembentukan sebuah “gerilya di Eropa Barat”. Di akhir Januari, AD mengeksekusi Jenderal Rene Audran. Pada 1 Pebruari, sebuah komando RAF menembak dan membunuh industrialis senjata Ernst Zimmermann. Kedua Komando mengarahkan aksi mereka diarahkan untuk membantu yang lainnya. Dalam komunike menyusul penyerangan Zimmermann, RAF menyerukan para tahanan mengakhiri mogok makan mereka, yang segera terjadi. “Gerilya Eropa Barat Sedang Mengoyang Sistem Imperialis merupakan slogan yang menyatukan RAF, AD, dan kelompok tempur Belgia Sel-sel Tempur Komunis (CCC) tahun 1985. Meskipun terdapat sejumlah perbedaan ideologis dengan kelompok yang terakhir, aksi kelompok-kelompok tersebut diarahkan untuk membantu satu sama lain, dan kelompok-kelompok tersebut saling berkerjasama dalam hal logistik. Dalam media, “gerilya Daerah Eropa Barat” menjadi musuh publik nomor satu, dan konsep tersebut sangat kontroversial didalam kaum militan kiri. Dengan penangkapan anggota terkemuka CCC bulan Desember 1985 dan penangkapan empat anggota AD Pebruari 1987, dua kelompok tersebut terhenti kehadirannya. Itu mengakhiri sejarah pendek “gerilya daerah Eropa Barat”.

Penyerangan Pangkalan Udara

Bulan Agustus 1985, RAF membom Pangkalan Undara Rhein Main Angkatan Udara AS. Agar mendapat akses ke pangkalan, komando RAF membutuhkan sebuah Kartu Identitas orang Amerika, jadi mereka menyeret seorang prajurit AS bernama Pimental keluar dari sebuah diskotik disuatu larut malam. Dia kemudian dibunuh didalam hutan untuk menghindari menjadi seorang saksi. Dua orang yang lain tewas dalam serangan bom di pangkalan tersebut.

Spektrum kaum militan melihat secara kritis serang tersebut, terutama sekali mengenai kematian Pimental, yang disebut RAF “kebutuhan saat praktek”. Semua pencapaian gerakan perlawanan yang telah diciptakan selama mogok makan sekarang hilang. Kritisisme menjadi sangat hebat hingga memaksa RAF meresponnya. Pada Januari 1986, RAF engeluarkan sebuah dokumen yang diberi judul “Kepada Mereka Yang Berjuang Bersama Kami”. Dimulai dengan baris yang berbunyi: “Hari ini, kami katakan bahwa penembakan prajurit AS tersebut dalam situasi konkrit di musim panas lalu merupakan sebuah kesalahan yang telah menghalangi efek serangan ke pangkalan dan perbincangan mengenai orientasi aksi politik-militer, dan ofensif secara keseluruhan.”

Latar belakang konsesi oleh RAF adalah Konggres Anti-Imperialis Internasional yang diadakan di Frankfurt dari 31 Januari hingga 4 Februari, 1986. Konferensi ini, diorganisir oleh spektrum antiimp, dihadiri oleh perwakilan dari seluruh Eropa dan Amerika Latin dan menjadi sumber perhatian/great interest karena lebih dari seribu orang mengambil bagian. Walaupun ada ancaman pelarangan, konggres tersebut dilangsungkan juga, namun tidak sukses. Kalangan Autonomists secara khusus menyuarakan kritisisme yang hebat, terutama berkaitan dengan penembakan prajurit AS tersebut, tapi kitik mereka ditujukan pada konsep RAF secara keseluruhan.

Di musim panas 1986, RAF memulai kembali kampanye pembunuhannya: Beckurts, kepala korporasi Siemens, dan supirnya tewas dalam serangan bom bulan; pada Oktober, Braunmuhl, direktur kementerian pada Kementerian Luar Negeri, ditembak. Dengan kata lain, tidak ada perubahan fundamental dalam strategi RAF dan kelompok tersebut tetap terisolasi dari sektor-sektor yang luas dari gerkan kaum militan. Tapi represi dari aparatus negara: pada 1986, anggota RAF Eva Haule-Frimpong ditangkap. Sampai 1993, negara tidak mampu menangkap anggota RAF yang lain. Tapi kancah anti-imperialis menderita rangkaian pengrebekan, penangkapan dan pengaduilan tanpa.

Lereng Terakhir Ke Penghabisan

Setelah tergelincir aksi tahun 1987, RAF merubah strateginya mulai 1988. Target penyerangan serangan meiliki beberapa hubungan dengan tema gerakan perlawanan di Jerman.

Serangan yang gagal atas Sekretaris Keuangan, Tietmeyer di bukan September 1988 dihubungkan dengan keterlibatannya dalam konggres tahunan IMF. Dan saat kepala Deutsche Bank, Herrhausen, tewas dalam serangan bom di bulan Nopember 1989, komunike RAF untuk aksi tersebut juga mengarah kepada IMF dan Bank Dunia. Hingga 1991 terdapat serangkaian serangan gagal yang terjadi kadang-kadang oleh RAF, dan komunike-komunikenya menjadi bertambah tidak terpusat. Pada 1 April, 1991, sebuah komando RAF menembak dan menewaskan Rohwedder, kepala “Treuhandanstalt”, badan negara yang ditugaskan menjual aset-aset industri di bekas Jerman Timur. RAF menyatakan dalam komunike mereka bahwa mereka dimasa-masa akan datang, akan, mengarahkan dirinya lebih kepada menceburkan diri dalam perjuangan sosial. Serangan atas Rohwedder dimaksudkan sebagai sarana untuk mempengaruhi perlawanan yang dibayangkan dilakukan orang-orang Jerman Timur terhadap restrukurisasi kapitalis.

Juga pada waktu-waktu itu kontak-kontak antara RAF dan Kementerian Keamanan Negara DD, atau “Stasi” sejak permualaan 1980-an diketahui. Bekas-bekas anggota RAF yang menjadi perlindungan di Jerman Timur ditangkap dan menjadi saksi negara dalam pengadilan melawan kawan-kawanya dulu. Kontak-kontak Stasi, saksi negara ini, ketaksepakatan diantara para tahanan, dan penampakan kekurangan kejernihan diantara mereka-mereka yang masih bergerak dibawah tanah membawa kepada pembubaran banyak kelompok-kelompok anti-imperialis. Pada April 1992, RAF mengeluarkan statemen mengemukakan re-orientasi politik mereka. Runtuhnya sosialisme yang telah berdiri dan mundurnya gerakan pembebasan di Tiga Benua telah menciptakan situasi yang benar-benar berbeda. Pendekatan vanguard kelompok telah digantikankan dengan penciptaan “kekuatan-kontra dari bawah”. Statemen tersebut meneruskan dengan mengatakan: “Kami telah memutuskan untuk menarik mundur ekskalasinya. Itu berarti kami akan menahan serangan atas perwakilan modal dan negara selama masa, proses yang sangat diperlukan ini.” (Komunike RAF, 10 April, 1992) Serangan terakhir RAF dijalankan Maret 1993. Segera sebelum penyelesaiannya, penjara Weiterstadt yang baru diledakkan.

Pukulan terakhir berhubungan dengan RAF terjadi bulan Juni 1993. Selama lebih dari setahun, negara Jerman mampu untuk mengupayakan salah satu mata-matanya, Klaus Steinmetz, mendekati tingkat komando dari RAF. Pada Juni 1993, Steinmetz menemui anggota RAF di restoran stasiun kereta api didalam kota Bad Kleinen. Pertemuan tersebut diintai oleh polisi. Selama penangkapan yang menyusul, anggota RAF Wolfgang Grams terbunuh dan Birgit Hogefeld ditangkap.

Front Militant

Front anti-imperialis dipropagandakan dalam Dokumen Mei RAF di tahun 1982 tak menemukan banyak gaung dalam kancah kaum kiri. Dalam rangka keluar dari situasi ini, RAF mengambil inisiatif sebuah “ofensif total”. Pada 4 Desember, 1984, tahanan-tahanan RAF, sebagaimana juga para tahanan lain yang bersolidaritas dengan mereka, melancarkan aksi mogok makan sembilan minggu. Perjuangan oleh para tahanan disertai oleh gelombang serangan. Untuk pertama kalinya, spektrum anti-imperialis menjalankan serangan bom besar-besaran. Sebagai banntuan atas usaha ini, sebuah surat kabar bawah tanah foto-kopian yang dinamakan “Zusammen Kaempfen” (“Berjuang Bersama”) muncul pada akhir 1984. Topik keluaran pertama adalah aksi mogok makan, dan serangkaian komunike aksi yang dilakukan “kaum militan bawah tanah” dari sembilan kelompok diterbitkan.

Militan-militan ini melihat dirinya sebagai bagian dari fron anti-imperialis Eropa Bagian Barat, mereka bertindak dalam konteks politik RAF. Konsep mereka mengenai “proyek-proyek militan yang terkoodinasi”, untuk membuka tingkatan baru dalam konfrontrasi, berada dalam satu garis dengan yang dikemukankan dalam Dokumen Mei. Kaum militan, seperti RAF, melihat dirinya sebagai kaum internasionalis. Itulah mengapa mereka menamakan komando-komando mereka dengan nama para martir anti-imperialis luar negeri. Mulai tahun 1986, militant mulai menandatangani komunike-komunike mereka sebagai “Unit Tempur”, dengan nama komando yang serupa sama seperti RAF.

Para aktivis bawah tanah ini terutama sekali menjalankan serangan bahan peledak dan pembakaran dengan tingkat teknis yang matang. Sebagai contoh, satu “Unit Tempur” meledakkan sebuah bom mobil diluar kantor pusat “Verfassungsschutz”, badan intelejen federal, di Cologne. Militan-militan ini tak pernah menjalankan serangan penembakan tidak juga mengarahkan aksi mereka terhadap orang tertentu

Militan melancarkan sembilan serangan di tahun 1986. Capaian tertinggi ini dalam aktivitas mereka diikuti gelombang represi. Pada 1986, banyak orang dari spektrum antiimp ditangkap dan dijatuhi hukuman karena serangan Unit Tempur. Ini dengan sementara menghentikan serangan oleh militan. Tapi surat kabar “Zusammen Kämpfen” masih dipublikasikan secara berkala hingga 1991. Setelah serangan RAF atas kepala Deutsche Bank Nopember 1989, Unit Tempur melancarkan empat serangan antara Desember 1989 dan Februari 1990. Dua bom terdeteksi dan dilucuti. Setelah itu tak ada lagi aksi Unit Tempur.

‘De Knipselkrant’

Publikasi menyangkut kelompok-kelompok bersenjata juga diterbitkan di Belanda, “De Knipselkrant”. Dokumen tersebut mendefinisikan diri sebagai militan, terbitan revolusioner dengan fokus internasionalis. Surat kabar tersebut berisikan kumpulan artikel surat kabar, komunike, dan laporan-laporan dari seluruh dunia. Jarang terdapat suatu editorial. Sebagai sarana dokumentasi, komunike dari negeri-negeri berbeda diterbitkan dalam bahasa asli mereka. Ada teks dalam bahasa Inggris, Belanda dan Jerman, well as terjemahan bahasa Jerman dari banyak teks. “De Knipselkrant” menjadi organ gerilya Eropa Bagian Barat dan menampilkan posisi RAF. Diterbitkan setiap dua kali seminggu, surat kabar tersebut membuat dimungkinkannya mendapatkan pertukaran informasi yang terus menerus. Komunike dan teks dari RAF dan kelompok lain dapat dikirim ke langganan di Jerman, sambil menghindari represi dari pihak otoritas Jerman. Pada 1988, terjadi konflik diantara editor “De Knipselkrant” dan persengketaan dengan kaum autonomists di Amsterdam. Konflik ini membawa berakhirnya proyek tersebut di awal 1989.

Sel Revolusioner (RZ)

Di tahun 1973, Sel Revolusioner (RZ) menjadi kelompok ketiga di Jerman Barat yang mengangkat senjata. Walaupun RZ mengikuti konsep yang berbeda dibanding Gerakan Dua Juni dan RAF, ketiga-tiganya berbagi akar yang sama. Perang Vietnam merupakan penggerak utama yang membawa kepada pembentukkan RZ. Mereka, juga, ingin mengembangkan sebuah gerilya, dan sama seperti RAF, mereka memiliki hubungan erat dengan gerakan perlawanan orang-orang Palestina. Seperti apa tepatnya kedekatan hubungan RAF dan RZ tersebut dengan orang-orang Palestina diperlihatkan oleh aksi pertama yang memberikan RZ pengakuan international. Dibawah kepemimpinan salah satu “teroris peringkat atas” yang paling dicari diseluruh dunia, Ilich Ramirez-Sanchez, dikenal dengan nama lain sebagai “Carlos”, satu komando berkebangsaan campuran Jerman-Palestina menyerbu Pertemuan Puncak OPEC di Wina bulan Desember 1975 dan mengambil 11 menteri puncak pemerintahan sebagai sandera. Saat komando menyerbu bangunan tersebut, tiga anggota kesatuan keamanan tewas, dan anggota RZ Hans-Joachim Klein terluka parah. Sebagai tambahan untuk terlukanya Klein, anggota RAF Gabriele Krocher-Tiedemann juga mengambil bagian dalam aksi tersebut. Aksi penculikan didesain untuk meletakkan tekanan pada negara-negara Arab untuk mengambil kedudukan yang tegas melawan Israel. Para menteri tersebut kesemuanya dibebaskan di Afrika Utara, dan komando menghilang. Pada akhir Juni 1976, sebuah komando terdiri dari dua orang Palestina dan anggota RZ Brigitte Kuhlmann dan Wilfried Bose membajak pesawat penumpang Air France dengan 257 orang diatasnya. Aksi ini didesain untuk memenangkan kebebasan tahanan politik didalam penjara Jerman dan Israel.

Pesawat berangkat dari Tel Aviv dan sejumlah besar penumpangnya adalah orang Israel. Aksi tersebut didesain untuk memberi tekanan pada pemerintahan di Jerusalem. Setelah memaksa pesawat mendarat di Entebbe, Uganda, semua sandera bukan Yahudi dibebaskan. Pada 4 Juli 1976, satu unit pasukan khusus Israel menyerbu pesawat dan membebaskan para sandera. Semua anggota komando terbunuh.

Rote Zora

Didalam konteks RZ, sebuah organisasi perempuan yang bersifat otonom yang dinamakan “Rote Zora” berkembang. Meskipun Rote Zora mengikuti konsep fundamental yang sama dengan RZ, kelompok tersebut merupakan ekspresi feminis radikal dari gerakan perempuan. Tapi kelompok tersebut tidak hanya semata-mata memfokuskan diri pada isu-isu perempuan, dan Rote Zora menjalankan aksinya sebagai bagian dari kampanye RZ, sebagai contoh melawan pertemuan puncak NATO tahun 1982.

Salah satu dari aksi Rote Zora yang paling terkenal dan sukses muncul tahun 1987: Sementara buruh perempuan Korea sedang melakukan mogok melawan korporasi tekstil Adler, yang mendorong produksinya karena harga tenaga buruh yang murah di Korea, Rote Zora mendukung usaha pemogokan para perempuan tersebut. Satu malam di Juni 1987, terjadi serangkaian peledakan bom api yang ditujukan melawan rantai pertokoan Adler. Korporasi segera menyerah pada tuntutan buruh perempuan Korea yang sedang mogok.

Represi Terhadap RZ di Jerman

Sebuah film yang berjudul “Operasi Entebbe” dibuat mengenai drama penyanderaan Entebbe dan aksi tentara Israel. RZ berusaha menghentikan pemutaran film dengan serangan bom api. Setelah satu aksi pada Januari 1977, Enno Schwalm dan Gerhard Albartus ditangkap. Polisi menemukan persenjataan, amunisi, identitas palsu, dan rencana untuk aksi mendatang. Kedua lelaki tersebut dikenai hukuman karena “keanggotaan dalam organisasi teroris” dan dijatuhi hukuman beberapa tahun didalam penjara.

Menyusul gelombang serangan Rote Zora terhadap Adler, serangkaian pengrebekan di rumah dilaksanakan terhadap 33 orang diseluruh Jerman dibulan Desember 1987. Ingrid Strobl dan Ulla Penselin ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara Juni 1989 karena memberi dukungan kepada Rote Zora. Hanya ini dua kali kesempatan ketika individu dihukum karena keanggotaan dalam atau mendukung RZ.

Perubahan

RZ mengalami perubahan pada strukturnya pada akhir 1970-an. Menyusul aksi Entebbe, yang diakui dilakukan oleh “Seksi Internasional” RZ, salah satu bagian dari gerakan RZ memutuskan kontak dengan gerakan perlawanan Palestina. Terjadi konflik internal, yang didiskusikan dalam dokumen “Gerd Albartus telah Mati”, dipublikasikan di bulan Desember 1991: “He shared the criticisms of other comrades, dengan siapa kami telah melakukan diskusi yang sengit, hingga ke tingkat perpecahan, karena keputusan kami untuk memutuskan kontak internasional. Ia merasa the reduction pada struktur kami merupakan sebuah kelemahan, bahwa mendiskusikan perbedaan politik menunjukkan suatu perpecahan. … For the deceptive advantage, ia katakan, of a ‘clean slate’, kami telah membawa RZ to the level of leftist small group militancy and abandoned all claims of guerrilla struggle.”

Sekelompok kecil aktifis RZ tetap setia kepada pendekatan mereka yang sebelumnya. Kontak-kontak dengan PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine), sebuah kelompok perlawanan Palestina kecil, tetap dipelihara. Tapi RZ di Jerman membuat pemutusan secara tuntas dengan tradisi ini. Tak ada hubungan apapun antara keduanya, baik dalam konsep juga dalam logistik. Pada 1982, sejumlah orang berkebangsaan Jerman ditangkap di Roma dan Paris karena membawa bahan peledak dan senjata untuk gerakan perlawan Palestina. Gerd Albartus kembali ke Lebanon di bulan Desember 1987 dan, denga sebab-sebab yang sampai saat ini belum jelas, diadili dan dieksekusi oleh kelompoknya sendiri.

Popularitas RZ

Popularitas RZ diantara kaum militan kiri sebagian disebabkan variasi bentuk-bentuk aksi mereka, dengan segala dari/ with everything from membagi-bagikan tiket kereta api yang telah dipalsukan hingga melakukan pemboman. Faktor lainnya yang penting adalah strategi RZ di tahun 1980-an adalah tidak membunuh manusia. Ketika Menteri Ekonomi untuk negara bagian Hesse, seorang laki-laki yang bernama Karry, meninggal selama penyerangan RZ memprotes konstruksi landasan pacu bandara Startbahn West, kelompok tersebut mendapat banyak kritik. Tak ada lagi kematian dari serangan-serangan RZ setelah peristiwa tersebut.

Konsep atau Organisasi?

RZ lebih menyerupai konsep dibanding sebuah organisasi. Slogan “Ciptakan Banyak Sel-sel Revolusioner!” merupakan sebuah seruan bagi setiap orang untuk menjalankan aksi-aksi RZ. Orientasi politiknya adalah kepada gerakan yang sedang berlangsung, dan diskusi-diskusi digalakkan dengan alat komunike-komunike dan teks-teks lain. Ini berbeda dari konsepsi RZ yang awal. Pada awalnya, RZ menginginkan menjadi sebuah inti yang terorganisir, berkait dengan gerakan dengan tujuan meradikalisir mereka dan akhirnya membentuk gerakan gerilya. Dengan tanpa benar-benar membuang tujuan awal ini, pandangan lama bertansformasi. Terdapat juga perkembangan yang tidak seimbang didalam RZ. Ada sejumlah RZ, sering disebut RZ Tradisional, yang mengadaptasi model lama, kemudian ada orang-orang yang hanya sekedar menggunakan nama RZ untuk menjalankan aksi-aksi – dengan kata lain, itu hampir seperti terdapat RZ yang terorganisir dan tak terorganisir sekaligus

Konsep RZ di tahun 1980-an

RZ menolak politik kepeloporan dari kelompok-kelompok semacam RAF. Berikut adalah sebuah kutipan dari “Delapan tahun RZ – Two Steps Forward In The Struggle For The Minds Of People, And Our Own”, sebuah teks RZ yang disiarkan di 1981: “…Kami pikir tidak mungkin untuk menjalankan serangan terhadap lembaga-lembaga pusat pemerintahan: We can’t pose the question of power! Kami tidak sedang melangsungkan peperangan! Sebaliknya, kami sedang berada pada permulaan perjuangan yang panjang dan sulit untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat – bukannya langkah pertama menuju sebuah kemenangan militer”. RZ menganjurkan perjuangan bersenjata dari status legalitas. Hal itu menunutun penyelidik negara untuk menyebut mereka “weekend terrorists”, tapi pendekatan RZ terbukti berhasil. Anggota-anggota RZ yang anonim dapat mengikuti efek dari aksi-aksi mereka secara langsung dan membawanya kedalam pergerakan. Karena anggota-anggota RZ tidak diketahui, tetapi juga tidak hidup dibawah tanah, mereka lebih terlindung dari represi. Hal demikian tidak berlaku bagi anggota-anggota RAF, bagi mereka menghabiskan seluruh hidup dalam ilegalitas merupakan salah satu prasyarat.

Akhir dari gerakan RZ

Konsep RZ concept hanya dapat berfungsi in correspondence with pergerakan yang lebih luas. Tanpa pergerakan semacam itu, RZ terreduksi hingga menjadi sebuah bentuk aksi bersenjata, terisolir dan dekat dengan kepunahan. Itu tepatnya yang terjadi di pertengahan 1980-an dengan penurunan gerakan otonomis.

Di tahun 1986, RZ memulai sebuah kampanye militan melawan deportasi polisi dan otoritas dengan slogan, “For Free Floods! Berjuang Untuk Hak Tinggal bagi Pengungsi dan Immigran!” Ini merupakan sebuah perpisahan dari konsep baru RZ. Tidak terdapat pergerakan luas yang sedang mendukung para pengungsi dan kaum imigran dimana RZ dapat melakukan kerja-kerja, tidak juga sebuah gerakan luas didalam kiri radikal dengan fokus semcam ini. RZ mencoba memulai suatu pergerakan dengan tangan mereka sendiri. Dalam teks yang berjudul “Akhir dari Politik Kita” yang dikeluarkan January 1992, RZ menyatakan: “Kami melihat kemungkinan dalam hubungan kami dengan tema-tema sosial dan kampanye pengungsi untuk menciptakan sebuah lingkungan aksi baru untuk solidaritas internasional di metropolit-metropolit dan membukanya dengan tangan kami sendiri”.

Pada Januari 1991, RZ mengakhiri kampanye, dan setahun kemudian sebuah pernyataab mengenai pembubaran gerakan RZ dikeluarkan. Meskipun beberapa serangan masih dijalankan dengan nama RZ, itu tidak meluputkan fakta bahwa konsepsi RZ menemui jalan buntu dalam situasi-situasi 1990-an.

Untuk Perjuangan Massa dan Subversi

Bagian Pertama

“Jika kau tidak membebaskan diri dari tali yang mengikatmu ketika kau masih hidup, apakah kau berpikir bahwa hantumu akan melakukannya setelah itu?” –Kabir

Pada titik ini, tidak ada yang tidak bersalah dan semua telah membuat pilihan mereka. Tidak ada satu orang pun yang tidak menentukan posisi. Orang-orang saling menguji satu sama lain, menguji tatanan masyarakat, menguji seberapa jauh mereka dapat melangkah. Melenturkan otot mereka, kemudian berbicara, sebelum bentrokan. Kau dapat melihat dalam cibiran seseorang yang menyalahkan imigran atau kaum muslimin dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang asing. Siapa yang akan bereaksi?

Tidak ada informasi lebih untuk disebarluaskan. Tidak ada strategi sekarang. Tidak ada pertemuan yang akan mengubah dunia. Hanya ada puisi dan pemberontakan. Terdapat penemuan dari sebuah gerombolan. Terdapat penemuan dari diri sendiri. Dan dalam sebuah penemuan, diperlukan serangan meskipun putus asa.

Tidak ada cetak biru untuk dunia masa depan. Kami tidak akan berjanji atau berpura-pura ada sesuatu. Apa pun yang bisa kita temukan sekarang akan terkontaminasi oleh penjara dimana kita hidup. Kami tidak memiliki struktur tetap atas apa yang akan terjadi ‘setelah’. Sama seperti bayi tidak bisa membayangkan apa yang ada di luar rahim sebelum dia dilahirkan, jadi kita harus berjuang melawan pembiusan ‘kenyamanan’ dari kegelapan ini dan melihat kebohongan apa yang terletak di luar semua yang kita tahu.

Kami menyerang karena kami harus, bukan karena kami mengharapkan sesuatu, bukan karena kami memiiki sebuah “rencana”, bahkan bukan karena kami membayangkan bahwa kami akan menang.

Terserah apapun yang akan dimenangkan, kita bisa menang setiap hari di sini, sekarang, dan itulah kemenangan otonomi kita, penolakan kita, inisiatif kita, serangan kita, persahabatan kita, projectual kita. Hari ini kita menang dengan berserah pada keinginan kita lebih dari pada ketakutan kita, dengan berserah pada keberanian lebih dari pada kenyamanan kita. Menyerah pada naluri untuk hidup daripada naluri untuk keamanan.

Apa yang berusaha kita pegang untuk terus masuk dalam sikap apatis kita, kepatuhan kita? Apa yang begitu berharga? Jika kita hanya memiliki satu kehidupan, maka mengapa kita membiarkan orang lain mendikte bagaimana kita harus hidup? Untuk hidup satu hari secara murni, cinta yang berkilauan dan amarah pasti lebih bernilai dari ribuan kali merangkak dengan lutut kita . Sebuah klise tentu saja, tapi satu yang pasti sudah dilupakan.

Hanya mereka yang dapat membebaskan diri dari rasa takut dan pengkondisian masyarakat modern yang akan dapat mengubah hidup mereka. Tak ada yang lebih dari itu. Hidup tidak dapat diketahui dalam totalitas itu, kebenaran hanya muncul ketika ditempa melalui kehendak bebas yang berani, sumber tak terbatas dan tidak bisa dihancurkan dari semua ide.

Ada dua kelas dari manusia – yang termasuk dan tidak. Sejarah manusia adalah perjuangan antara kelas-kelas yang berlawanan.

Di jantung individu terdapat kapasitas untuk melampaui semua batas yang dipaksakan oleh sistem otoriter, kemungkinan untuk mengubah realitas melalui tindakan karakter yang luar biasa. Untuk masyarakat bebas di masa depan, hari ini harus rata dengan tanah dan reperesentasinya harus jatuh dalam hujan peluru.

Kelanjutan sejarah dari kecenderungan anarkis komunis-nihilis hanya disebabkan oleh individu dan kekerasan massa melawan para penghisap.

Kami adalah individualis karena kami adalah manusia dan kami ingin melihat pembebasan masing-masing diri dan setiap individu untuk potensi mereka sepenuhnya.

Kami adalah nihilis karena kami sudah menyerah pada ‘harapan’ dan kami datang untuk berdamai dengan realisasi dari chaos physics, dalam kesadaran materia prima.

Kami anarkis karena kami ada untuk komunisme tanpa negara. Dalam tujuan ini, kami mengorganisir secara kolektif untuk secara langsung menyerang modal, negara dan keterasingan menggunakan spektrum penuh semampu kami, dan selalu sesuai dengan visi libertarian kami dari sebuah kebebasan total.

Pergelokan massa-sosial-anarkis semakin besar dan tak terkendali, dan terdapat banyak fragmentasi sosial, kemudian kurangnya kohesi menambah bahaya bagi kami. Sederhanannya, kami tidak tertarik pada politik, dialog, permainan kiri-sosial. Kami tertarik dalam organisasi revolusioner, senjata dan ide.

Kami berada di luar dan melampaui batasan moralitas dan budaya palsu yang dominan. Kami akan menciptakan nilai baru yang luas melalui tindakan kami, atau kami akan mati dalam sebuah usaha, yakin pada kekuatan vital keabadian seperti gelora musim semi yang melawan sistem kematian.

Tujuannya adalah untuk menciptakan situasi di luar kendali siapa pun, di mana kehancuran dahsyat dari sistem kapitalis dapat berlangsung.

Ide-ide kami tidak dilihat sebagai tujuan dalam dirinya, tetapi sebagai senjata untuk menciptakan realitas. Untuk sepenuhnya menyadari hal ini adalah untuk menghadapi kebebasan dimana didalamnya kita pernah diajarkan atau dikondisikan untuk percaya bahwa semuanya adalah benar, dan semuanya mungkin, tidak ada kepastian, dan konsekuensi dapat mengerikan. Tertawa tampaknya menjadi satu-satunya pertahanan terhadap realisasi ‘ketiadaan’ yang nyata.

Dengan demikian anarki mengabarkan kedatangan kematian semua ideologi dan sistem identifikasi. Chaos ada di sini – tepat di depan mata Anda.

Tujuannya adalah untuk menciptakan realitas baru dengan bertindak keluar dari ide-ide kita menuju kesimpulan radikal mereka. Pasukan dengan kehendak bebas akan cukup kuat untuk menghancurkan semua dewa ilusi dan sistem politik – anjing penjaga dari modal akan ketakutan oleh individu bebas yang akhirnya menolak untuk tunduk kepada dominasi apapun.

Anti-System Cores

Terjemahan ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian dalam tulisan anti system cores dengan judul asli “For Mass Struggle and Subversion”. Diterjemahkan oleh Terik Matahari. Sumber: http://www.theanarchistlibrary.org/authors/Anti_System_Cores.html

Tentang Direct Action: Membongkar Kebohongan Tentang Aksi Langsung

Reuben Augusto

Direct action atau aksi langsung, adalah sebuah terminologi yang dipahami terlalu rumit dan berliku-liku oleh kebanyakan orang hari ini. Banalitas yang lain adalah menganggap bahwa ‘direct action’ adalah satu jenis tindakan. Sebuah kesalahan definisi mengingat sebenarnya, direct action hanyalah label semata untuk semua jenis tindakan sabotase, vandal, ataupun destruktifik yang dilakukan baik secara individual maupun kolektif yang tujuannya adalah untuk menghambat, memperlambat, mengacaukan atau lebih jauh adalah untuk menghancurkan mekanisme operasi sistem –baik secara ekonomi, politik dan psikologis- hidup yang eksploitatif, koersif, hirarkis dan dominatif. Berikut akan coba dijelaskan beberapa ‘definisi yang banal’ mengenai direct action.

Direct Action atau Aksi Langsung adalah Terorisme

Jika yang mereka sebut dengan terorisme adalah sebuah upaya secara sadar untuk mengintimidasi dan di saat yang bersamaan melakukan tindakan penghancuran, maka mungkin beberapa jenis ‘direct action’ termasuk hal tersebut.

Tapi bagaimana kita menyebut dengan intimidasi yang dilakukan oleh korporasi dan negara terhadap kehidupan harian kita? Penjara, undang-undang, lembaga peradilan yang tak adil, polisi, tentara, agen-agen rahasia negara adalah sedikit dari beberapa alat yang digunakan oleh negara mengancam kita. Lalu masih ada ancaman soal PHK, pemotongan upah, skorsing, kenaikan harga, kesulitan akses terhadap kebutuhan dasar -makanan misalnya- adalah beberapa ancaman yang sedang dihadapi oleh setap kita yang terjebak dalam mekanisme kerja upahan. Bukankah hal-hal di atas juga menghancurkan kita secara fisik dan psikologis?

Yang menjadi perbedaan mendasar dari terorisme dan direct action, adalah jika yang disebut dengan terorisme adalah sebuah ekspresi dari spesialisasi klas yang melihat kekuatan tersebut untuk diri mereka sendiri, direct action mendemonstrasikan sesuatu yang jelas berkebalikan dan berbeda. Taktik lain yang ditempuh direct action adalah bagaimana menguatkan masing-masing individu untuk merebut kembali kontrol atas hidup mereka sendiri dan menggunakan kekuatan tersebut untuk menyelesaikan tujuan-tujuan dari diri mereka sendiri.

Contohnya adalah aksi PHK dapat dikategorikan sebagai terorisme, mengingat praktik dari hal tersebut adalah sebuah demonstrasi dari klas borjuis untuk mempertunjukkan kekuatan mereka dan di saat yang bersamaan menetralkan potensi setiap orang untuk mendefinisikan kekuatan dan kebutuhan dirinya. Jadi dapat dengan jelas ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan terorisme adalah tindakan yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungan sistem yang hanya menguntungkan sebagian orang dan tetap menjadikan bagian yang lain sebagai budak.

Direct Action atau Aksi Langsung adalah Kekerasan

Sebelum kita terburu-buru menjustifikasi bahwa sebuah tindakan termasuk dalam kategori kekerasan, maka menjadi primer adalah melihat kembali apa yang dimaksud dengan kekerasan. Sebab dengan begitu, kita tidak lagi terjebak pada pro-kontra ala para moralis atau oposisi dungu ala kaum Kiri.

Bukanlah sebuah kekerasan jika kita melakukan tindakan untuk menyabotase mesin-mesin pabrik, menghancurkan pusat-pusat perbelanjaan, membakar kantor-kantor pemerintahan, barak-barak dan kantor militer, bank dan rumah orang-orang kaya. Sebab tindakan itu tidak hanya semata-mata penghancuran bangunan fisik semata, namun lebih jauh daripada itu, tindakan tersebut adalah sebuah upaya menghancurkan rantai yang membelenggu dan mencegah kita merengkuh kebebasan hidup yang penuh. Properti-properti yang disebutkan tadi, secara simbolis merefleksikan perbudakan yang tengah kita jalani sekarang ini. Penyerangan dan penghancuran terhadap properti tersebut adalah sebuah tindakan langsung untuk memaklumatkan penolakan dan pendefinisikan kembali arti hidup yang sebenarnya.

Justru yang disebut dengan kekerasan, adalah bagaimana kita dijauhkan secara fundamental dari arti kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana hari ini, segala bentuk tindakan, ucapan dan apa yang kita pikirkan adalah hasil dari konstruksi sistem. Bagaimana kita kemudian didikte dan diarahkan dalam sebuah kepatuhan massal. Yang dikategorikan kekerasan adalah bagaimana kita tak menjalani hidup dengan riang gembira namun justru berkubang dalam depresi, kesepian dan kebingungan. Kekerasan adalah ketika kita tak lagi mempunyai hasrat selain hasrat akan komoditi. Kekerasan adalah bagaimana kita menjadi terlalu kaku dan sistematik hingga melupakan kesenangan bermain seperti seorang anak kecil. Kekerasan adalah ketika kita mesti mengumpulkan sejumlah uang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan untuk itu kita mesti bekerja hingga melewati batas kesadaran hingga kegilaan pada akhirnya kita rasakan sebagai sesuatu yang normal. Karena kekerasan adalah sekedar bertahan hidup dan bukan menjalani hidup.

Direct Action atau Aksi Langsung bukanlah Ekspresi Politik, tapi Aktifitas Kriminal

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar soal kriminalitas atau hal-hal terkait dengan kata itu? Jika kau membayangkan sesuatu yang buruk, negatif dan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang salah, tak mengapa. Karena tentu saja semua penilaianmu berbasis pada satu hal: kepatuhan pada hukum. Tapi coba lihat lebih jauh, apakah hukum adalah sesuatu yang netral? Tentu saja tidak.

Hukum dan segala bentuk institusinya adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memastikan kontrol dan dominasi tetap berjalan seperti biasanya. Untuk memastikan bahwa sirkulasi penumpukan keuntungan perusahan tetap berlangsung secara aman. Untuk memastikan bahwa negara berada dalam situasi yang kondusif sehingga para investor tak takut untuk menanamkan modal. Untuk memastikan bahwa kau tetaplah mesin yang produktif dan taat. Untuk memastikan bahwa kau tidak hanya sekedar menyaksikan pengrusakan alam, tapi ikut terlibat langsung di dalamnya. Untuk memastikan bahwa di otakmu, tak ada hal lain selain ketakutan untuk berada di luar aturan-aturan yang mereka ciptakan untukmu.

Menjadi hal yang lumrah jika kemudian kita mengungkapkan kekesalan dan kemarahan ketika hukum kemudian melindungi ketidakadilan. Adalah sesuatu yang wajar jika kita mengekpresikan depresi dan kebosanan ketika hukum berbalik memasung kebebasan kita. Setiap tindakan ilegal yang melangkahi aturan-aturan -dan pastinya akan dilabeli sebagai tindakan kriminal- adalah ekspresi kita. Meski itu bukanlah ekspresi politik.

Aksi Langsung Tidak Perlu Ketika Setiap Orang Mempunyai Hak Untuk Mengutarakan Pendapat

Ini adalah sebuah pendapat populer yang juga tidak hanya kalian dengarkan lewat media borjuis di mana para penguasa mempropagandakan kebohongan-kebohongannya, tapi juga melalui mulut para aktifis Kiri yang pendek akal tersebut.

Dalam masyarakat di mana kapitalisme telah berhasil mematerialisasikan dirinya dalam masyarakat dan muncul dalam berbagai bentuk seperti humanisme dan demokrasi, maka adalah gila jika kemudian beranggapan bahwa ada kemungkinan di mana pendapat kita akan didengarkan. Adalah sesuatu yang perlu lagi dinilai tentang masih layakkah disebut kenormalan jika kita melihat bahwa ruang sempit pengap dan selalu disesaki oleh banyaknya harapan yang karam. Bahwa celah kecil dimana bahkan desahan nafas kita juga mesti bersusah payah untuk dapat melewatinya. Kegilaan lubang jarum yang hanya dilihat sebagai gerbang emas oleh mereka yang matanya telah katarak karena kapitalisme.

Bagi yang masih percaya bahwa dalam kekejaman luar biasa kapitalisme, mereka tetap masih berkenan memberikan kalian kesempatan untuk mengutarakan keinginan kalian, maka itu sama saja kalian percaya bahwa Paman Gober adalah orang yang paling baik hati dan boros. Tentu saja jangan lupa panggil saya: Barrack Obama.

Kapitalisme dan negara sebagai duet yang telah lama saling bekerja sama di ratusan album rekaman sejarah kebiadaban terhadap hidup, telah memperkirakan bahwa pada titik tertentu beberapa hasrat liar berpotensi muncul ke permukaan. Titik-titik tersebut adalah peristiwa ketika ada sedikit pengungkapan dari tirai hitam eksploitasi dan kehilangan hidup yang seutuhnya. Dan tentu saja, dengan cerdasnya mereka telah menciptakan sebuah perangkat canggih yang hari ini kita kenal sebagai: mediasi.

Mediasi dalam pengertiannya adalah ruang tipuan yang berisikan semua imaji-imaji kapitalisme. Semuanya bertujuan untuk tidak hanya sekedar menghaluskan atau mengikis sedikit, lebih dari itu, ia bertujuan untuk mengabolisi semua potensi ancaman yang lebih luas.

Mediasi tidaklah memberikan apa yang sejatinya kita inginkan. Misalnya totalitas hidup tanpa opresi. Ia justru menjungkirbalikkannya dan menukarnya dengan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita inginkan, namun dibungkus dengan kado yang didesain dengan kemiripan yang sangat. Tujuannya selain untuk kembali menenggelamkan kita dalam ilusi, itu adalah bentuk suap rendahan yang konsekuensi jauh berlipat ganda. Yaitu kehilangan lebih banyak dari apa yang telah sebelumnya dirampas oleh kapitalisme.

Institusi-institusi sosial politik yang bertugas untuk hal ini dapat kita sebutkan beberapa diantaranya. Kau dapat melihat lembaga legislatif yang sering kalian datangi setiap kali demo massa yang menyedihkan itu dilakukan. Tunjuk juga para NGO/LSM yang sering membawa air untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan rakyat yang secara antagonistik bertentangan dengan korporasi dan negara. Lihat juga para penganjur lainnya seperti lembaga agama, keluarga, sekolah, universitas, penjara, serikat buruh, serta ratusan bentuk lain yang kesemuanya mempunyai tujuan yang sama.

Memberikan kalian kebebasan utuh yang sebenarnya hanyalah kepingan kecil dari salah satu jejeran produk kapitalisme yang laku dijual. Dan tebak siapa konsumennya? Tentu saja kalian para idiot yang percaya bahwa suara kalian akan didengar melalui mediasi sejenis ini.

Aksi langsung tentu saja adalah oposisi tegas dari kepura-puraan ini. Beberapa pemberani di masa lalu pernah mengatakan dengan tegas bahwa hanya tindakan yang dapat berbicara. Ketika semua pintu dan jendela telah mereka tutup untuk suara kita, maka membakar dan menghancurkan semua pintu dan jendela sekaligus adalah salah satu cara untuk membuat suara kita didengar.

Cara mengutarakan pendapat yang tersedia hari ini hanyalah aksi langsung. Bukan kita yang membuat semua pilihan menghilang dan menjadi tidak mungkin, melainkan karena akumulasi kekuasaan, penipuan, eksploitasi dan koersi kapitalisme dan negara-lah yang mesti dipersalahkan atas semua ini.

Maka kalian bisa langsung meninju mulut seseorang jika ia menawarkan kebohongan untuk memediasi hasrat pemberontakanmu.

Aksi Langsung Itu Mengalienasi

Ya. Ini seperti mengatakan bahwa Uni Soviet adalah keberhasilan gilang gemilang tanpa cacat yang membawa manusia kepada harapan akan hidup yang sebenarnya. Yang mutual, eksperimentalis dan berwarna. Bicara tentang alienasi dalam aksi langsung adalah omong kosong yang mesti dirayakan dengan tinju yang lebih keras lagi.

Alienasi diartikan sebagai keterasingan. Sebuah kondisi dimana seorang individu dengan sengaja dijauhkan secara kasar dan brutal dari sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya. Tidak hanya soal pekerja dan hasil kerjanya yang membuktikan kedangkalan analisa kaum Kiri. Lebih jauh dari itu, alienasi adalah ketika seorang anak dijauhkan dari ibunya, ketika seorang individu terasing dari lingkungannya, dari setiap bangunan dan konstruksi di sekitarnya, dari setiap keinginan dan hasrat, dari setiap cinta, waktu, tenaga, mimpi dan berbagai keindahan yang lain. Ketika seseorang menjadi asing terhadap dirinya sendiri. Itulah wajah alienasi hari ini.

Seperti aksi demonstrasi massa yang setiap orang di dalamnya hanya berdekatan secara fisik namun pada esensinya saling teralienasi satu dengan yang lain. Tidak ada relasi apapun dalam massa. Seperti juga dalam pemilihan umum, tempat kerja, universitas dan hubungan pernikahan. Yang kalian temukan adalah alienasi itu sendiri. Maka jangan heran jika frustasi dan kemuraman serta kedangkalan hidup yang akan ditemukan di dalamnya.

Lalu? Tentu saja aksi langsung secara dimensi historisnya telah memberikan gambaran yang jelas berbeda. Aksi langsung justru bertujuan menghancurkan tembok-tembok alienasi tersebut. Aksi langsung dalam berbagai variannya berfungsi sebagai metoda untuk mengkoneksikan individu dengan individu yang lain. Menjadi jembatan antara yang temporer untuk membantu kita sebagai alat bantu merengkuh apa yang hilang karena itu semestinya kita miliki untuk hidup.

Pertempuran jalanan misalnya. Dengan jelas dapat kita lihat di berbagai kasus yang telah berlangsung bahwa kemudian dengan alami ia mampu menjadi medium interaksi yang benar-benar hidup untuk memberangus alienasi sekali dan untuk selamanya. Jika alienasi bertujuan memisahkan dan menceraiberaikan, maka aksi langsung adalah konfrontasi terhadapnya.

Aksi langsung adalah pelampauan yang tidak semata-mata simbolis, namun menjadi sebuah tabrakan keras yang diarahkan ke titik-titik vital dari pondasi alienasi. Itu mengapa serangan dari aksi langsung selalu jujur, terbuka, horizontal dan mutualis. Ini juga berarti menegasikan propaganda tak masuk akal dari para aktifis bahwa dalam perjuangan anti kapitalisme kita para pelopor dan para spesialis atau organisasi birokratik yang meski dilabeli revolusioner tetap saja tidak mampu menutupi kebohongannya sebagai musuh yang juga adalah salah satu target dari aksi langsung.

Aksi Langsung itu Eksklusif

Memang pada kenyataannya, ada beberapa metoda aksi langsung di mana tidak mudah untuk mengambil posisi partisipasi di dalamnya. Namun hal tersebut tidak bisa langsung dijustifikasi sebagai aksi yang eksklusif.

Ada beberapa hal yang mesti dilihat secara lebih jelas. Misalnya, sebuah grup tertutup dengan metoda-metodanya yang mengandung resiko cukup besar tentu saja mempunyai sistem pengamanan tersendiri. Ini semata-mata merupakan sebuah antisipasi dari serangan balik dari musuh.

Juga bahwa setiap individu mempunyai kemampuan dan ketertarikan yang berbeda satu dengan yang lain. Sehingga kemudian tidak dapat dipersalahkan jika kemudian seseorang tidak bisa ikut terlibat dalam satu grup tertentu. Sebaliknya ini adalah tawaran nyata untuk membentuk grup yang lain dan membuka ruang berbeda. Persoalannya tinggal bagaimana kemudian membangun transaksi mutual antar grup atau individu untuk beberapa projek yang disepakati.

Aksi langsung memang tidak menumpukan diri pada persoalan kuantitas. Jauh lebih penting daripada itu adalah persoalan kualitas yang mesti terus dijaga. Itu mengapa sebuah grup Food Not Bombs yang terlalu besar menjadi tidak efektif. Selain mengurangi interaksi antar individu yang ada di dalamnya, ia juga kemudian membutuhkan manajemen yang lebih sulit dan membuka kemungkinan buruk dengan lahirnya representasi dan hirarki.

Akan jauh lebih baik jika kemudian sebuah tim atau kolektif yang besar kemudian dipecah-pecah dalam grup yang lebih kecil. Selain lebih gesit, setiap individu di dalamnya dapat lebih maksimal mengeskplorasi potensi, kemampuan dan mendefinisikan ketertarikannya. Hubungan yang real dan tidak termediasi juga akan tetap terjaga.

Lagipula, aksi langsung bukan untuk menumpuk jumlah seperti yang dicita-citakan oleh partai atau organisasi massa lainnya.

Aksi Langsung yang Anonimus adalah Pengecut

Mari bertanya mengapa hari ini begitu banyak pemberontakan begitu mudah dipadamkan? Bukan hanya karena metodanya yang percaya pada sentralisme dan elitisme kepemimpinan kelompok kecil yang dipilih khusus, namun karena juga para musuh yang adalah para penindasmu menangkap, membungkam, meneror dirimu atau orang-orang yang kau lindungi, memenjarakan atau bahkan membunuhmu secara fisik.

Hari ini menjadi anonimus bukan sekedar replikasi menyedihkan dari taktik kelompok bertopeng ala Zapatista di Meksiko. Namun karena ia telah menjadi sebuah taktik yang dilahirkan dari kondisi di mana pada kenyataannya, belenggu perbudakan dijaga dengan ketat.

Bertindak anonimus mengajarkan beberapa hal penting. Pertama, kau belajar kerendahan hati dengan menjauhi kepopuleran dan budaya selebritis yang menjadi salah satu rayuan maut kapitalisme dan negara. Ia mencegah kau dapat terdeteksi dan kemudian dilabeli harga untuk dibeli dan dijual kembali dengan harga yang lebih mahal layaknya salah satu komoditi mereka.

Kedua, taktik anonimus menggaransikan keberlanjutan serangan. Bukankah menyedihkan ketika kau mesti dipenjarakan hanya karena terbukti melempar molotov pertama kali ke arah kantor polisi untuk serangan yang baru di mulai? Dengan menjadi anonimus, kau membawa pelacakan dan upaya menghentikan serangan yang di mulai menuju satu tahap yang jauh lebih sulit lagi bagi para penjahat tersebut.

Ketiga, bertindak anonimus adalah sikap cerdas yang menghindarkan dirimu dari pukulan balik yang disediakan oleh para musuh. Meski tetap saja sikap waspada mesti dikedepankan, namun menyembunyikan identitas adalah sebuah upaya untuk mulai mengajari diri belajar. Melihat kegagalan secara lebih seksama dan berupaya untuk tidak mengulangi kegagalan-kegagalan yang terjadi. Mengajarkan dirimu untuk bersabar dan menentukan saat yang tepat untuk memulai lagi serangan. Memberi dirimu pengalaman. Hal ini dapat menjadi bahan belajar yang mengasyikkan.

Keempat, menjadi anonimus juga adalah sebuah deklarasi identitas. Sebuah parodi atas homogenitas yang menjadi salah satu kampanye kapitalisme dan negara. Ia adalah pembalikan dengan muatan yang berbeda yang ditujukan untuk menghancurkan apa yang telah menghancurkanmu hingga kehilangan segalanya, termasuk dirimu sendiri.

Dalam beberapa metoda aksi langsung, menyembunyikan wajah menjadi sangat penting dan ini bukanlah soal menjadi pengecut. Sebaliknya, ini adalah deklarasi dari ketakutan yang menjadi kekuatan. Dipukul secara telak dan kontinyu tanpa tahu siapa pelakunya, selalu akan membuat musuh akan frustasi.

Aksi Langsung adalah Tindakan Provokator

Lagipula menjadi provokator bukanlah sesuatu yang memalukan. Karena bukanlah sesuatu yang memalukan jika seorang manusia melakukan serangan sebagai manifestasi emosi sekaligus perengkuhan kemerdekaan. Bukan juga sesuatu yang memalukan jika memilih sebagai manusia dan bukan sebagai komoditi.

Spekulasi mengenai provokator selalu digunakan oleh penguasa sebagai taktik untuk meredam potensi kejut di masyarakat. Hal ini juga sering dilegitimasi oleh kalangan menengah semisal para aktifis Kiri yang pengecut dan para spesialis bajingan yang dipanggil akademisi. Upaya untuk menjaga stabilisasi dan keamanan hanyalah mempunyai satu agenda tunggal. Memastikan sirkulasi transaksi komoditi dan roda ekonomi terus berjalan seperti biasanya.

Interupsi sejenis aksi langsung sangatlah berbahaya. Selain mengganggu proses akumulasi keuntungan, aksi langsung yang simultan memiliki prospek berbahaya sebagai upaya untuk mengeliminir kapital dan negara.

Aksi Langsung itu Berbahaya dan Dapat Menimbulkan Akibat Negatif untuk Orang Lain

Pendapat seperti di atas sering sekali terdengar. Bertendensi moral yang tentu saja menginginkan kita kembali berhenti dan kembali menggunakan cara-cara yang telah termediasi. Namun sekali lagi, itu hanya omong kosong. Satu-satunya akibat negatif dari aksi langsung adalah transformasi seorang budak menjadi manusia merdeka.

Aksi langsung adalah simbolisasi dari sekedar penolakan verbal yang diucapkan dengan praktik. Ia melampaui teks yang paling radikal sekalipun.

Orang-orang yang mempraktikkan Aksi Langsung Seharusnya Bekerja Menyiapkan Pembangunan Jejaring Politik

Entah mengapa pendapat itu sekali lagi terdengar seperti pidato para propagandis Kiri yang gemar tampil di atas panggung untuk mengkhotbahi semua orang tentang bagaimana memperjuangankan kebebasan. Lengkap dengan sejumlah panduan juga aturan.

Jejaring adalah sesuatu yang dibangun atas dasar kebutuhan yang muncul. Sebuah hubungan yang terbangun atas dasar di mana kedua pihak merasa saling membutuhkan. Sebuah relasi yang setara. Banyak dari para aktifis (ini terutama sekali terlihat pada kaum Kiri) yang terlalu sibuk memikirkan bagaimana mereformasi sistem dan mengambil alih dengan alasan demi kepentingan bersama. Meskipun sebenarnya telah sangat berlimpah bukti yang disodorkan oleh sejarah tentang bagaimana sebuah sistem sosial yang berbentuk piramida, tidak akan pernah bisa direformasi untuk menghasilkan kesetaraan dan kebebasan bagi semua orang. Satu-satunya jalan yang mungkin adalah dengan menghancurkannya, agar kemudian kita dapat melihat beragam pilihan yang berada di balik hal tersebut.

Jejaring seharusnya merupakan sebuah relasi alamiah. Meletakkannya dalam kerangka berpikir tua justru hanya akan menyebabkan terjadinya pengulangan kesalahan berkali-kali. Persoalannya juga adalah meletakkan kerangka relasi ini di luar persoalan politik, yang merupakan salah satu alat dari sistem besar yang berjalan hari ini. penting untuk disadari bahwa penghancuran sistem ekonomi yang koersif hari ini tidak bisa berjalan tunggal tanpa penghancuran keseluruhan aspek politik yang juga melingkupinya. Menjebakkan diri dalam tradisi ekonomi politik ala para Marxis ortodoks hanya akan menjauhkan kita dari akar masalah, dan kemudian kembali lagi pada tradisi kompromisme.

Aksi langsung merupakan sebuah langkah yang melampaui mistikisme yang ditawarkan oleh glamour politik dan pendar-pendar kesejahteraan. Ia adalah sebuah pernyataan sekaligus sebuah serangan yang kemudian membuka kembali upaya untuk menemukan kemanusiaan serta kebebasan. Dengan menyerang, seseorang telah melakukan penolakan secara mendalam terhadap mekanisasi serta komodifikasi hasrat hidup. Bersamaan dengan itu, aksi langsung adalah redefinisi dengan aksi penolakan terhadap reproduksi nilai dari pabrik-pabrik sosial di mana kita dibesarkan.

Aksi Langsung Hanya Dilakukan oleh Orang Miskin yang tak Beradab, Anak Muda Kers Kepala dan Orang Gila

Ini kebohongan yang benar-benar amatir. Kenyataan membuktikan bahwa individu-individu yang melakukan aksi langsung datang dari berbagai latar belakang. Bukan hanya keragaman warna kulit, pekerjaan serta strata ekonomi. Namun juga datang dari beragam latar belakang seksual. Setiap orang yang terlibat dalam berbagai jenis aksi langsung hanyalah homogen dalam satu hal: memiliki musuh yang sama. Yaitu negara dan kapitalisme.

Propaganda murahan seperti di atas tidak hanya digunakan oleh para birokrat penguasa atau juga para pemilik modal. Tapi juga digunakan sebagai senjata para moralis yang berpura-pura dengan menggunakan topeng revolusioner: kaum Kiri. Mengingat dengan berlangsungnya sebuah aksi langsung, terbuka berbagai kemungkinan yang selama ini terlihat tidak mungkin. Ketakutan mereka adalah hilangnya totalitas kontrol perbudakan yang selama ini menggaransikan perputaran dominasi dan koersi.

Berbagai taktik yang dipilih dari beragamnya jenis aksi langsung tidak layak untuk dijustifikasi dengan menggunakan sudut pandang dunia lama hari ini. Karena hal tersebut akan menjerumuskan seseorang ke dalam iklim pasifisme yang menyedihkan. Bukankah semua orang paham bahwa menunggu itu membosankan?

Aksi Langsung Tidak Pernah Menyelesaikan Apapun

Jika ada seseorang yang mengatakan hal seperti di atas, kau bisa langsung membungkam mulutnya karena jelas orang itu adalah pembohong. Kita dapat menengok sejarah panjang berbagai perlawan yang pernah terjadi di berbagai tempat sebagai bukti. Meski memang sangat penting untuk dipahami bahwa aksi langsung bukanlah hasil akhir. Ia bukanlah sebuah targetan yang mesti diletakkan dalam kerangka ukur. Sebaliknya, aksi langsung merupakan sebuah proses berkelanjutan yang dinamis dan tidak stabil. Dinamika yang berlangsung dalam setiap tindakan aksi langsung adalah perengkuhan itu sendiri.

Aksi langsung lebih berupa alat bantu yang dapat diganti kapan saja dan tidaklah mengikat. Itu mengapa dalam berbagai jenis aksi langsung, ikatan bebas dalam sebuah asosiasi setara menjadi salah satu opsi yang dipilih. Pengekangan bentuk, strategi dan metode menurut kerangka organisasional kuno sering membuat aksi langsung tidaklah mendapatkan tempat. Mengujicobakan aksi langsung juga bukan sebuah kesalahan. Menjadi sabar dan berharap perubahan itu dilakukan oleh orang terpilih, menurutku itu yang lebih layak disebut sebagai kesalahan.

Persenjatai Dirimu Dengan Sebuah Revolver! Mengerti?

Juan Levadura

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver. Lebih cepat lebih baik. Beli, pinjam, atau curi. Intinya adalah kau mesti mempersenjatai dirimu. Mungkin kau berpikir bahwa revolusi sosial akan berlangsung dengan pita-pita, seperti berlangsungnya sebuah karnaval?

Apakah kau berpikir para kapitalis akan melepaskan tanah dan pabrik-pabrik, seperti mereka melepaskan anak-anak perempuan mereka kepada para milyuner?

Apakah kau begitu bodoh hingga percaya pada kemungkinan dari harmonisasi antara para bos dan para pekerja?

Apakah kau tidak melihat bagaimana – setiap hari, di seluruh penjuru bumi – saat para pekerja menginginkan sedikit peningkatan, mereka segera dihadapi dengan tentara-tentara kaleng yang membawa senapan dan bayonet?

Apakah kau tidak melihat bagaimana, selama berlangsungnya mogok oleh para kamerad kita supir-supir trem, seluruh tentara segera bergerak melindungi mereka yang berkhianat?

Ya, jika semua itu akan terjadi ketika kita membuat komplain atau menuntut sebuah perubahan, apa yang akan terjadi saat kita menuntut hak untuk tanah, kehidupan dan kebebasan?

Coba pikirkan tentang hal ini.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver dan belajarlah bagaimana cara menggunakannya. Carilah target untuk mulai ditembaki. Buatlah gambar dari kepala Astorquiza, Zanartu, atau Gonzalo Bulnes sebagai target, atau gambar wajahmu jika kau menyukainya. Tembak dan menembaklah lebih sering.

Persiapkan dirimu untuk revolusi yang menjelang. Sarankan kamerad yang lain untuk melakukan hal yang sama. Siapapun yang bicara tentang “evolusi secara damai” dan “solusi-solusi harmonis” namun berada di pihak klas kapitalis dengan sedih mesti dikatakan bahwa mereka sedang menipumu.

Apakah kau tidak melihat bagaimana para pekerja di Rusia mempersenjatai diri mereka dalam rangka menumbangkan semua tirani?

Apakah kau tidak melihat bagaimana mereka hidup seperti apa yang mereka inginkan, menikmati setiap kenyamanan?

Selama lebih dari 100 tahun, kau memiliki kedamaian yang memikul segala jenis penghinaan, dan apa keuntungan yang telah kau terima dari para majikanmu? Kesedihan merupakan tempat tinggalmu dan kau mesti membayar agar beruntung, disinggahi penyakit yang akan membawa kematian datang lebih awal menjemput kau dan anak-anakmu, perang demi perang yang akan menyebabkan wabah kelaparan dan rasa sakit ke depan pintu rumahmu, dan semua sampah akan kau terima saat kau menuntut sedikit makanan dan keadilan untuk keluarga dan anak-anakmu. Semua, seluruh hal ini, adalah hadiah setimpal untuk semua usaha dan pengorbananmu.

Percayalah tentang hal itu.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver. Lebih cepat lebih baik. Beli, pinjam, atau curi. Intinya adalah kau mesti mepersenjatai dirimu. Saat telah sadar, klas pekerja bersenjata menuntut hak untuk hidup dan kebebasan, maka kau melihat bagaimana para penguasa dan tiran tumbang.

Saat kau berteriak di jalanan seperti para idiot, memohon untuk makanan dan keadilan, kau akan melihat bagaimana peluru-peluru menghujani kepalamu. Itulah yang akan terjadi. Dengan mempersenjatai dirimu dengan sebuah revolver dan menyarankan yang lain bersiap-siap untuk Revolusi, kau akan melihat kelahiran kembali fajar baru untuk dunia.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver.

* * *

Teks ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1921, di koran Serikat Buruh Roti Santiago yang bernama ‘El Comunista’ .Juan Levadura merupakan nama samaran dari seorang anarkis Chile yang kurang populer, Efrain Plaza Olmedo.

Malam-Malam Penuh Amarah

Filippo Argenti
(Tentang Kerusuhan di Perancis Akhir 2005[*])

Ada yang mengetuk dan terus mengetuk tak sabar di pintu kami. Cepat atau lambat kami harus membukanya… Banyak yang tetap bersembunyi, tidak hanya para pengecut, tetapi juga mereka yang terlalu tenang atau terlalu merasa baik-baik saja. Mereka tidak ingin terlibat. Tetapi mereka telah terlibat sebagaimana arus terus menerus membawa mereka dan kedip-kedipan mata mereka sama sekali tak berguna. Bahkan bahasa menjadi tak berguna secara menyedihkan, bahasa terlahir dari dunia lama, dengan dikorbankannya yang lama, maka imaji-imaji lama akan tergantikan oleh era baru. Tak ada lagi yang tetap sama; kata-kata lama berjatuhan tumpang tindih karena semuanya tak dapat merayap pada sesuatu yang baru. Ada sebuah tegangan di mana tak ada lelucon, kritik dan kebijaksanaan yang dapat meraihnya. Era borjuis mulai berakhir. Tak seorangpun yang tahu apa yang hadir. Kebanyakan memiliki pandangan yang gelap dan dengan demikian mereka dilecehkan. Massa juga masih memiliki sebuah sensasi kegelapan atasnya tetapi mereka tak mampu mengekspresikan diri mereka dan (juga) masih tertindas. Yang Tua dan yang Baru, oposisi yang tak terdamaikan antara apa yang ada saat ini dan apa yang akan terjadi kemudian, terus saling bertempur, dan bersenjata lengkap mereka berdua melemparkan diri mereka melawan satu sama lain. Debur ombak menghantam bumi. Ini semua bukan hanya persoalan ekonomi; ini semua bukanlah sekedar sebuah pertanyaan tentang makan, minum dan menghasilkan uang. Ini bukanlah sekedar permasalahan bagaimana kemakmuran didistribusikan, tentang siapa yang akan bekerja dan siapa yang akan tereksploitasi. Tidak, apa yang terjadi saat ini benar-benar berbeda: ini adalah segalanya.
(Kurt Tucholsky, Weltbűhne, 11 Maret 1920)

Introduksi
Tulisan ini adalah sebuah kontribusi untuk memahami peristiwa-peristiwa pemberontakan di Perancis beberapa saat yang lalu. Tak perlu dikatakan lagi bahwa ini bukanlah karya sosiologis ataupun teoritis. Pemberontakan hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki kebutuhan yang sama dengan para pemberontak, yaitu dengan berkata dari sudut pandang mereka yang merasa menjadi bagian dari pemberontakan. Setelah disusunnya kronologi, pada faktanya, halaman-halaman tersebut justru menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana even-even di bulan November di Perancis tersebut berkaitan dengan kita semua, dan bagaimana kita memiliki jawaban-jawaban yang mungkin dilontarkan.

Kami akan berusaha untuk menggarisbawahi beberapa poin dalam introduksi singkat ini.

Apabila kita melihat pada berbagai teori revolusioner yang disirkulasikan di Perancis, Italia dan Amerika Serikat dalam tahun-tahun terakhir, kita dapat melihat bahwa kerusuhan-kerusuhan tersebut tidaklah benar-benar tak terprediksikan. Beberapa kawan berbicara mengenai perang sipil, mengenai ledakan-ledakan yang sulit untuk diidentifikasi di mana kapital dikonsentrasikan dan mengontrol mereka yang tertindas. Bukan kebetulan bahwa tesis-tesis abad lampau mengenai barbarian, kolapsnya harapan mereka yang tereksploitasi dan ambivalensi konsep nihilisme, dan lain sebagainya, ramai diketengahkan. Beberapa konsep mengekspresikan, bahkan dalam cara yang embrionik dan membingungkan, kebutuhan-kebutuhan untuk melangkah melampaui individualitas. Dalam konteks ini, terletak sebuah relasi langsung antara kerusuhan-kerusuhan tersebut dengan teori-teori revolusioner. Dari jauh ini tampak sebagai sebuah dialog. Sekedar memusuhi polisi atau melakukan aksi solidaritas bagi mereka yang tertangkap jelas sama sekali tidak cukup. Berdasarkan pengamatan, kerusuhan-kerusuhan itu sendiri adalah sebuah anjuran teoritis, sebuah refleksi tentang dunia. Tapi apa yang dikatakannya? Jelas bukan persoalan bahwa para insurgen ingin memanajemeni dunia ini, mengontrol produksi dan teknologi dari tingkatan akar rumput. Mereka tidak berbicara pada kita tentang multitude yang bekerja keras ataupun ‘demonstrasi Zapatista’ yang diorganisir oleh para pekerja intelektual di Eropa. Kobaran api di Perancis telah meluluhlantakkan semua ilusi-ilusi sosial demokratis yang berusaha mengintegrasikan mereka yang miskin ke dalam masyarakat kapital.

Walter Benjamin bertanya pada dirinya sendiri tentang bagaimana di tahun 1830 para perusuh di Paris menembaki jam-jam yang terpampang di kota, di berbagai bagian kota dan tanpa aksi koordinasi; kini merupakan bagian kita untuk mempertanyakan mengapa para pemuda-pemudi yang liar tersebut membakari mobil. Dalam faktanya, apa yang direpresentasikan oleh mobil dalam masyarakat saat ini? Kita biarkan pertanyaan tersebut tak terjawab.

Apabila klaim analisa-analisa revolusioner besar yang maju dan mampu menjelaskan segalanya sehingga para proletarian hanya tinggal mengaplikasikannya dengan tepat itu kini telah tiada, ini artinya bahwa aksi revolusioner itu sendiri kini telah digambarkan dalam cara yang benar-benar berbeda. Bukannya mengemban misi memancangkan bendera di tempat pertama kali api diletupkan dan barikade didirikan, sekaranglah hadir kesempatan untuk membangun barikade dan meletupkan api di tempat lain, sebagai pengembangan pemberontakan, bukan sebagai sebuah alur politis. Pada faktanya, keluhan-keluhan terhadap kurangnya program-program politis di pihak para insurgen hanya keluar dari mulut mereka yang menyedihkan.

Untuk mengembangkan pemberontakan, bagaimanapun juga, tidak hanya sekedar berarti menempatkan diri pada level tindak-tindak praktis dan melipatgandakannya (mobil-mobil dibakar, maka kita akan membakar mobil juga), melainkan berarti juga memutuskan apa yang harus diserang, dan bagaimana, mendorong signifikansi universal bagi pemberontakan.

Pada saat yang sama, berupaya mentransformasikan kaum muda yang marah dari pinggiran-pinggiran kota ke dalam subyek-subyek revolusioner baru akan menjadi sebuah upaya yang juga cukup menyedihkan. Berpikir bahwa para mahasiswa telah menerima tongkat marathon dari para insurgen November jelas adalah sesuatu yang lebih baik. Tetapi toh ini semua tidak sesederhana kelihatannya. Bahkan walaupun telah banyak slogan-slogan kebebasan dikumandangkan dalam demonstrasi-demonstrasi dan rapat-rapat di bulan Maret dan April untuk mendukung para pemberontak yang ditahan sejak November (yang sebagian besarnya masih di bawah umur), hanya sedikit yang benar-benar mampu melakukan sesuatu lebih dari sekedar kata-kata. Persoalan ini menjadi rumit. Selama demonstrasi pada 23 Maret di Paris, misalnya, beberapa ratus “kaum muda pinggiran” menyerang mahasiswa, merampok uang dan ponsel, memukuli dan menghina mereka. Bahkan lebih jauhnya lagi, mereka juga menyerang siapapun yang berusaha melarikan diri dari polisi di tengah serangan dan bentrokan dengan polisi. Fakta-fakta tersebut tak dapat dikesampingkan begitu saja. Identitas-identitas teritorial, keterikatan dengan komoditi, ketidaksukaan pada para mahasiswa “mapan”, dan lain sebagainya, adalah dampak-dampak dari berbagai masalah yang akan muncul dalam konflik-konflik sosial baru, yang lahir dari sebuah masyarakat yang busuk. Tak ada ideologi pemberontakan yang akan mampu menghapuskan hal-hal tersebut.

Dalam upaya untuk mempelajari relasi antara berbagai kerusuhan pada November dan gerakan-gerakan yang muncul di sepanjang Perancis dalam protes menentang CPE, amatlah penting untuk mengaitkan berbagai kisah, testimonial dan teks-teks. Ini alasannya mengapa kami menyusun tulisan ini. Apabila kita ingin menghindari penyederhanaan ala jurnalistik dan retorika-retorikanya yang ambivalen, kita harus memperhatikan apa yang diungkapkan oleh elemen-elemen hidup yang bergabung langsung dalam pemberontakan. Sementara ini kita sekedar menghadirkan beberapa fakta yang patut digarisbawahi.

Pertama-tama kami ingin menglarifikasi sebuah poin dangkal yang sering diungkapkan oleh media-media massa resmi yang menyatakan bahwa: ekspresi “orang-orang pinggiran” tidak bermakna apapun. Pertama, daerah pinggiran Paris sendiri memiliki lebih dari 9 juta penduduk. Sementara di kawasan perkotaannya, juga terlibat dalam kerusuhan. Banyak “kaum muda pinggiran” bersekolah di kota. Dengan begitu, sejumlah besar kaum muda dan mereka yang sudah tak begitu muda lagi, yang terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi, blokade dan bentrokan-bentrokan jalanan bulan Maret dan April adalah mereka yang menyulut api di Perancis dalam musim gugur sebelumnya. Menurut sumber-sumber yang dapat dipercaya, sejumlah besar orang yang sebelumnya terlibat dalam kerusuhan November kembali terlibat di tengah jutaan orang yang berpartisipasi dalam gerakan melawan CPE. Banyak “kaum muda pinggiran” yang sesungguhnya memiliki perilaku damai, sementara anak-anak muda yang lebih “mapan” justru memiliki kecenderungan lebih kuat dalam melakukan aksi-aksi kekerasan. Data statistik yang menjelaskan bahwa pemberontakan tersebut berdasarkan pada persoalan ekonomi semata, hanya berguna bagi para sosiologis. Di beberapa kota-kota lainnya (seperti Rennes sebagai contohnya) terbangun pertemuan yang efektif antara para mahasiswa dengan para “kriminal”, yang menyebabkan Sarkozy beserta seluruh jajarannya benar-benar khawatir. Tetapi di Paris hal demikian tidak banyak terjadi. Jelas, ada alasan-alasan tertentu di balik hal tersebut. Banyak “kaum muda pinggiran” mengalami kesulitan untuk hadir di demonstrasi-demonstrasi di pusat kota: apabila tidak dihentikan sebelum memasuki kereta, mereka dipukuli oleh polisi-polisi anti huru-hara sesegera mereka keluar dari stasiun-stasiun kereta. Apabila mereka berhasil mencapai lokasi-lokasi demonstrasi, mereka dilarang ikut terlibat oleh barisan keamanan dari para organisator demonstrasi. Hal-hal seperti inilah yang sering pemicu konflik. Lebih jauhnya lagi, mereka yang lebih muda, yang tidak berpengalaman dalam bentrokan langsung dengan polisi, terisolasi selama aksi penjarahan dan pembakaran, sehingga konsekuensinya mereka menjadi target penangkapan yang mudah. Tentu saja hal ini tidak lantas jadi membenarkan kebencian mereka terhadap para mahasiswa pelaku aksi demonstrasi, tetapi hal-hal demikian memperlihatkan perbedaan situasi sosial dan gaya hidup. Mereka yang sering mengalami perlakuan kekerasan dari brigade anti-kriminalitas, yang seringkali dipukuli di jalanan atau di pos-pos polisi, terheran-heran saat melihat bagaimana barisan-barisan demonstrasi dapat tetap berjalan di bawah kawalan polisi. Dengan kata lain, tanpa bermaksud membuat penyederhanaan dan beberapa pengecualian, kami dapat katakan bahwa pada kenyataannya banyak anak-anak muda yang liar di Perancis mendapati diri mereka seorang diri di tengah pola perjuangan yang tak dapat mereka pahami seperti kompromi dengan polisi yang selalu bertindak keras terhadap mereka dalam kehidupan sehari-hari (semenjak November, selain mereka memilih aksi-aksi pembakaran, terjadi juga sejumlah tindak pencurian dengan kekerasan, di mana geng-geng anak muda menyerang mobil-mobil keamanan dengan tongkat-tongkat baseball). Bagi para revolusioner yang secara terbuka menyatakan diri berada di pihak para insurgen dalam melawan aparatus negara, mereka tetap tidak merasa mudah untuk dapat memahami situasi, bahkan juga dalam momen-momen di mana perjuangan para insurgen telah terbukti semakin radikal.

Sebuah contoh akan dapat menglarifikasi hal ini. Pada awalnya perjuangan terpusat pada masalah CPE semata, tetapi lantas disadari bahwa kebijakan tersebut tidak hanya bermula dari sebuah kontrak tertentu saja, secara luas kebijakan tersebut adalah sebuah produk dari sebuah sistem sosial yang menyeluruh dan tak dapat direformasi. Bahkan saat gerakan protes pada akhirnya menyadari target khususnya (yang bukan lagi sekedar soal kebijakan CPE), mereka masih tetap bertindak defensif. Tidak mudah bagi mereka untuk melangkah lebih jauh. Slogan utama gerakan protes tersebut, yang awalnya hanya diajukan oleh sebagian kecil kelompok yang terlibat dalam gerakan, pada akhirnya dianggap sebagai slogan formal mereka (setelah melalui berbagai keputusan dalam rapat-rapat mahasiswa) adalah: “Mari blokade semuanya”. Begitulah. Stasiun-stasiun, jalan-jalan utama, universitas-universitas, garasi-garasi bus dan jalan-jalan yang dapat dilalui kendaraan bermotor: laju manusia dan barang secara masif terinterupsi, sehingga menghadirkan atmosfir yang pada gilirannya mendorong keterlibatan popular. Mereka yang tak siap bertempur melawan polisi memilih pola aksi mereka dalam membangun barikade-barikade jalanan, mengikuti arus keriangan aksi yang menjadi karakteristik semua jenis gerakan popular yang nyata. Sementara mereka yang paling keras adalah mereka yang kehidupan sehari-harinya selalu berurusan dengan kekerasan polisi dan penjara, dengan tembok-tembok kota dan pusat-pusat perbelanjaan, di tengah gerakan anti-CPE, tidak hanya ingin memblokade semuanya melainkan juga tout niquer (menghancurkan segalanya). Retorika revolusioner yang disuntiki keberanian dan kapasitas berorganisasi, jelas mengesampingkan peran dan diri mereka, sehingga lantas menghasilkan semakin banyak api yang berkobar dan toko yang dijarah. Toh bagaimanapun juga, jalan memang telah terbuka lebar untuk mengkritisi tatanan masyarakat yang eksis saat ini.

Demikianlah, artikel ini adalah sebuah kontribusi kecil bagi kebutuhan untuk mengadopsi pengalaman-pengalaman perjuangan yang berbeda dari pola perjuangan tradisional di konteks urban, agar kemudian dapat didiskusikan dan juga diperkenalkan. Apa yang terjadi di Perancis adalah sebuah “gudang senjata” yang dapat mempertajam ide-ide (dan tentu praktek darinya) dalam upaya meruntuhkan seluruh tatanan masyarakat beserta nilai-nilai yang menopangnya.

MALAM-MALAM PENUH AMARAH

Malam pertama: 27–28 Oktober
Dua orang remaja, Ziad (17) dan Bouna (15) meninggal karena sengatan listrik sampai mati setelah mereka berusaha bersembunyi di sebuah gardu listrik untuk menghindari kejaran polisi di Clichy-sous-Bois (Seine-Saint-Denise). Seorang remaja lain, Metin, terluka secara misterius. Pada mulanya jajaran kepolisian dan juru bicara Kementerian Dalam Negeri tidak mengakui bahwa para remaja tersebut sedang berada dalam kejaran polisi. Pernyataan resmi kedua yang dirilis kemudian menyatakan bahwa ada kemungkinan para remaja tersebut melakukan pencurian di sebuah lapangan dan sedang melarikan diri. Versi ini tidak dikonfirmasikan oleh remaja yang masih hidup, merunut apa yang dikatakan oleh para penyidiknya, “tidak ingat apapun juga”. Juri penyidik lokal mengajukan klaim bahwa para remaja tersebut “bukanlah kriminal” sebagaimana mereka tidak memiliki catatan polisi. Selanjutnya dikonfirmasikan juga olehnya bahwa mereka sedang melarikan diri sebuah pemeriksaan rutin dan karenanya mereka tidak melakukan pencurian apapun. Mereka melarikan diri, yang juga diikuti oleh anak-anak remaja lainnya, dikarenakan beberapa dari mereka tidak memiliki dokumen identitas, termasuk Metin. Sebagaimana kabar tersebut mulai menyebar, “sejumlah geng-geng anak muda yang tak terkontrol” (mengutip dari istilah yang digunakan oleh juru bicara barisan pemadam kebakaran) tersulut kemarahannya. Mereka melempari para pemadam kebakaran, yang sesungguhnya datang untuk membantu para remaja yang terkena listrik tersebut, dengan batu; kemudian mereka menghancurkan beberapa halte bus, membakar 23 mobil (termasuk mobil-mobil polisi dan kendaraan dinas) kemudian mengganti haluan dengan menyerang sebuah toko komersial, sebuah sekolah, sebuah kantor pos dan balaikota. 300 polisi dikerahkan untuk berurusan dengan kemarahan anak-anak muda tersebut selama beberapa jam.

Malam kedua: 28–29 Oktober
Sekitar 400 anak muda menyerang polisi dengan molotov dan batu di Chêne-Pointu (di mana Ziad dan Bouna tinggal). Sejumlah tembakan ditujukan pada sebuah kendaraan CRS (brigade Anti Huru-Hara Perancis). Dalam malam tersebut sejumlah polisi dan jurnalis terluka, sementara sekitar 30 mobil dibakar dan digulingkan. 19 orang ditangkap, 14 orang diajukan ke pengadilan. Kepolisian meminta tambahan personil dengan alasan sebagai polisi mereka juga ditembaki. Sarkozy memutuskan agar semua mobil polisi dilengkapi dengan kamera video.

Malam ketiga: 29–30 Oktober
Hari Sabtu di mana sekitar 500 orang di Clichy-sous-Bois mengorganisir sebuah aksi demonstrasi damai untuk mengenang kedua remaja yang meninggal karena listrik. Beberapa demonstran mengenakan kaos putih bertuliskan kedua nama remaja tersebut ditambahi tulisan “mati sia-sia”. Dalam malam tersebut juga beberapa mobil dijungkirbalikkan dan dibakar, tetapi tak ada bentrokan dengan polisi. Sejumlah pemuda yang membawa palu dan kaleng-kaleng bensin ditangkap.

Malam keempat: 30–31 Oktober
Di area Forestière terjadi pelemparan terhadap polisi. CRS menembakkan sebuah gas air mata ke dalam sebuah mesjid di mana sekelompok perempuan sedang bersembahyang. Sesegera mereka berlarian meninggalkan mesjid, mereka dilecehkan oleh para polisi, “Pulang kalian para pelacur dan urus anak-anakmu.” Sebagai hasilnya terjadi perkelahian dengan polisi di mana 6 polisi terluka dan 11 orang ditangkap.

Malam kelima: 31 Oktober – 1 November
Pada siang hari orang tua dari kedua remaja yang meninggal menolak untuk bertemu dengan Sekretaris Dalam Negeri, Sarkozy, karena menyebut anak-anak muda pinggiran sebagai “sampah”. Di waktu yang sama, 3 orang pemuda (seorang Perancis, seorang Maroko tanpa dokumen resmi dan seorang pengungsi dari Cote d’Ivore) yang ditangkap beberapa hari sebelumnya di Clichy-sous-Bois, dijatuhi hukuman 8 bulan penjara karena telah menyerang polisi. Sementara 5 pemuda lain tetap ditahan dan menunggu putusan hukuman. “Kalian mengurung kami tanpa bukti,” seru mereka saat mereka mendengar kabar bahwa mereka akan tetap ditahan. Sekelompok orang-orang dewasa mengorganisir unit-unit layanan sosial muslim dalam upaya untuk menghindari meningkatnya suhu kekerasan. Para insurgen muda menolak mengikuti anjuran mereka dan kembali menyerang polisi dengan batu dan molotov. Lebih banyak lagi mobil yang dibakar: barisan pemadam kebakaran dan polisi selalu disambut kehadirannya dengan lemparan batu dari sepanjang pinggiran jalan dan pemukiman yang mereka lalui. Polisi membalas dengan gas air mata dan peluru karet. Garasi kendaraan polisi metropolitan di Montfermeil, dekat Clichy-sous-Bois juga dibakar dan beberapa kebakaran juga disulut di beberapa daerah sekitarnya, menghasilkan seluruhnya sekitar seratus mobil hancur terbakar.

Malam keenam: 1–2 November
Kekacauan meluas ke seluruh Perancis. Di beberapa daerah pinggiran kota Paris tidak hanya terjadi juga pembakaran mobil melainkan juga pertempuran melawan polisi dan penyerangan terhadap sebuah pos polisi, sebuah toko komersial. Beberapa mobil dibakar di luar area Bobigny. Di beberapa daerah lain (Hauts-de-Seine dan Aulnay-sois-Bois, keduanya di daerah utara) molotov-molotov dilemparkan ke pos-pos polisi. 3 orang jurnalis France 2, stasiun televisi negara, terpaksa meninggalkan mobil mereka yang dibakar di hadapan sejumlah insurgen. Beberapa polisi terluka, seorang pemadam kebakaran menderita luka bakar tingkat dua akibat terkena lemparan molotov tepat di wajahnya. Sebuah showroom mobil Renault, beberapa sekolah dan sebuah bank (di Sevran) juga dibakar. CRS dan polisi ditembaki di La Courneuve dan Saint-Denis. Di La Courneuve juga, botol-botol molotov dilemparkan ke situs Eurocopter, sementara di Clichy-sous-Bois sebuah stasiun pemadam kebakaran diserang. Sebuah lintasan jalur kereta lintas daerah (Rer) ditutup akibat lemparan batu yang tak berkesudahan pada setiap kereta yang lewat. Sarkozy menyatakan bahwa seluruh aksi kekerasan ini “bukan aksi spontan” melainkan “telah terencana dengan baik. Kami berusaha menemukan siapa dalang semua ini.”

Malam kedelapan: 3–4 November
Perhitungan kasar memperkirakan dalam semalam saja sekitar 900 kendaraan telah dibakar di seluruh Perancis, 519 di Ile-de-France (sebuah area di Paris) dan 250 di Seine-Saint-Denis saja. 5 orang polisi terluka akibat dilempari. 7 mobil di bakar di tengah kota Paris. Tapi tak ada perkelahian langsung melawan polisi terjadi. Harian Le Nouvel Observateur menyatakan bahwa akibat terjadinya perkelahian dan penahanan yang terjadi beberapa hari sebelumnya, para “sampah” memilih untuk beraksi di luar teritori mereka. Koran tersebut juga memberitakan bahwa sasaran penyerangan sebagian besar adalah simbol-simbol kekuasaan, termasuk di dalamnya bisnis-bisnis privat. Dalam faktanya, banyak bangunan publik lain juga diserang, khususnya sekolah, di samping bangunan pemerintah dan pos-pos polisi (yang selalu dengan menggunakan molotov). Di Val d’Oise di mana 105 mobil dibakar, sebuah supermarket dijarah. Di Seine-Saint-Denis sebuah toko alat olahraga dijarah. Transportasi publik ditangkap di beberapa area atas alasan keamanan. Sebuah kobaran api yang besar muncul di sebuah depot karpet di Aulnay-sous-Bois. Beberapa depot lain juga dibakar di beberapa daerah lain. Beberapa molotov dilemparkan ke gedung pengadilan di Bobigny. Kembali kendaraan-kendaraan CRS ditembaki di Neuilly-sur-Marne. Seorang ketua komunis di Stains menyaksikan sendiri mobilnya dibakar saat ia sedang berusaha melakukan persuasi dengan sekelompok pemuda. Banyak bus juga dibakar: di Trappes (Yvelines) 27 bus terbakar habis akibat api yang diletupkan di sebuah garasi bus. Dalam malam ini saja, sekitar 250 orang yang ditangkap oleh polisi di seluruh Perancis. Di Sevran seorang perempuan cacat terluka dalam aksi pembakaran sebuah bus RATP. Jaksa Cordet menyatakan, “Geng-geng besar menghilang sebagaimana kekerasan kini dilakukan oleh sejumlah besar grup-grup kecil yang bergerak dengan sangat cepat.” Sarkozy menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah keras. Marine Le Pen, anak perempuan Jean Marie Le Pen yang menjabat sebagai wakil ketua partai neo-fasis Front National, meminta pemerintah untuk memberlakukan tindakan darurat sipil. Philippe de Viliers juga meminta agar diberlakukan “reaksi yang kuat oleh pemerintah untuk menindak apa yang tampaknya seperti perang etnis sipil.”

Malam kesembilan: 4–5 November
754 mobil dibakar dan 203 orang ditangkap oleh polisi di seluruh Perancis. Sepanjang sore hari sejumlah besar mobil dibakar di area parkir bawah tanah di Bobigny: sebagian besar mobil milik departemen pengadilan ada di area tersebut. Sebuah garasi bus di Aisne dibakar: dua kendaraan benar-benar hancur sementara dua lainnya mengalami kerusakan serius. Toko Renault kembali diserang. Sebuah molotov dilemparkan pada sebuah pos polisi di Paris (di Place des Fêtes). Sebuah gedung pengadilan dirusak kemudian dibakar di Ile-de-France. Sejumlah besar sekolah juga dirusak dan dibakar. Api berkobar besar di depot tekstil di Aubervilliers; sebuah toko mobil dan supermarket dibakar di Montreuil; sebuah sekolah perawat dibakar di La Courneuve. Di Seine-Maritime sekelompok orang tak dikenal menghentikan sebuah bus dan membakarnya setelah meminta para penumpangnya untuk keluar. Beberapa ratus orang mengorganisir demonstrasi menyerukan agar kekerasan dihentikan. Sepanjang malam area Paris dikontrol ketat oleh polisi dengan helikopter yang dilengkapi dengan lampu sorot dan kamera video; sementara sekitar 2300 opsir polisi disiapkan disamping mereka yang memang sedang bertugas. Jaksa ketua di Paris, Ives Bot mendeklarasikan pada Eropa 1 bahwa “kekerasan tersebut terorganisir”.

Romano Prodi menyatakan bahwa beberapa ledakan kekerasan yang serupa juga mulai hadir di Italia.

Malam kesepuluh: 5–6 November
1.295 mobil dibakar; 741 di Ile-de-France dan 312 orang ditangkap oleh polisi. Berbagai benda (batu, roda sepeda dan trolley) dilemparkan ke arah polisi dari bangunan-bangunan di Yvelines. Sebuah upaya pembakaran dilakukan di depot minyak. Kaca-kaca jendela sebuah restoran McDonald’s dipecahkan dengan sebuah mobil yang digunakan sebagai alat penabrak di Corbeil-Essonne. Sebuah toko dibakar habis. Di Grigny, sebelah selatan Paris, dua buah sekolah dibakar dan sekitar 200 perusuh terlibat perkelahian dengan polisi dan beberapa peluru dari senapan rakitan ditembakkan pada polisi: sejumlah polisi terluka, 2 di antaranya dalam kondisi kritis. Di Evreux, Normandy, sekitar 60 kendaraan dibakar beserta sejumlah toko komersial, sebuah kantor pos, gedung pengadilan dan dua buah sekolah; sejumlah opsir polisi terluka dalam bentrokan. Di Noisy-le-Grand sebuah gedung sekolah besar dan banyak mobil dibakar. Sabotase dan percikan api muncul di pabrik alat-alat listrik milik EDF di Grand Vallauris (daerah Maritime Alps). Seorang jurnalis Korea dari TV Kbs diserang di Aubervilliers. 13 mobil dibakar di Paris; 30 orang ditangkap, 11 di antaranya tertangkap saat sedang berusaha melakukan pembakaran. Api juga timbul di area-area Perancis yang selama ini relatif tenang (Bretagne, Alsace, Lorraine, Auvergne, Limousin dan Cote d’Azur): sebagian besar akibat mobil-mobil yang dibakar dengan menggunakan molotov yang dilemparkan oleh sejumlah grup kecil yang bergerak cepat, yang hadir di sela-sela patroli helikopter. Beberapa garasi bus dibakar di sejumlah tempat. Walaupun tak terjadi bentrokan langsung dengan polisi, di beberapa tempat polisi mendapati diri mereka dilempari batu saat sedang lewat. Botol-botol berpeledak juga dilemparkan pada polisi dan barisan pemadam kebakaran di Loire. Dua orang polisi terluka diikuti oleh ledakan tabung gas di Grenoble. Sejumlah 150 botol molotov ditemukan di sebuah depot di Evry.

Malam kesebelas: 6–7 November
Ini adalah puncak pemberontakan: 1.408 mobil dibakar, 395 orang ditangkap oleh polisi (83 orang telah ditahan semenjak awal kerusuhan) dan sejumlah besar polisi terluka. Menurut koran Libération, “Ini adalah sebuah gerilya kota jenis baru, yang bergerak dengan sangat gencar dan membakar, menghancurkan, menyerang, menghindari bentrokan langsung dengan polisi dan mampu menggunakan segala macam bentuk komunikasi modern.” Bentrokan pertama hadir di sebuah “area yang panas” di Toulouse, di mana para perusuh terlibat bentrokan dengan polisi. Sebuah molotov dilemparkan ke situs elektrik MP Pierre Lellouche di Paris. Sejumlah besar mobil dibakar di Rouen di mana sebuah mobil juga digunakan sebagai alat penghantam untuk menghancurkan pos polisi; metoda yang sama juga digunakan untuk menyerang pos polisi di Perpignan. Sebuah sekolah perawat dibakar di Saint-Etienne di mana transportasi publik diberhentikan atas alasan keamanan. Sebuah situs stasiun televisi di Asnière-sur-Seine (Haute-de-Seine) dihancurkan oleh api. Api juga berkobar di Lyon (di mana terjadi bentrokan yang berlangsung selama 3 malam sebelum pemberontakan bermula, akibat seorang pemuda Arab dipukuli oleh polisi), Lille, Orléans, Nice, Bordeaux, Strasburg, dan kota lainnya. Seorang anak berusia 13 bulan terluka di kepala di tengah penyerangan sebuah bus di Colombes. Di Rosny-sous-Bois sebuah tempat rekreasi anak muda diserang, sebuah toko sepeda motor juga diserang di Aubervilliers, sebuah sekolah perawat di Saint-Maurice, sebuah kantor pertambangan di Trappes dan sebuah depot farmasi di Sur. Molotov dilemparkan ke sebuah gereja di Sète tapi tidak menghancurkan apapun. Seorang lelaki berusia 61 tahun meninggal dunia setelah diserang karena ia berusaha melindungi mobilnya. Komite Organisasi-Organisasi Islam Perancis mengajukan sebuah fatwa melawan tindak-tindak kekerasan yang terus berlangsung. Mayor di Raincy mengorganisir unit-unit keamanan sipil untuk berpatroli di kotanya. Sekretaris Keadilan Pascal Clemet mendeklarasikan, “Akhir minggu lalu ini semua hanyalah kekerasan urban. Kini ini adalah pemberontakan.” Skorzy menyatakan bahwa para Mayor dan Jaksa diperbolehkan untuk memberlakukan kembali jam malam dan sebuah hukum darurat sipil seperti yang diterapkan di Aljazair pada 3 April 1955 (saat negara tersebut masih berada di bawah koloni Perancis). Sarkozy juga menyatakan bahwa penggeledahan yang masif akan diberlakukan di mana keberadaan senjata dicurigai. De Villiers berkata bahwa tentara seharusnya mulai mengintervensi dan seluruh imigran harus ditangkap. Sementara 3 orang “blogger” ditangkap (dua dari Paris dan satu dari Aix-en-Provence) atas tuduhan telah mendorong, melalui internet, penyerangan terhadap polisi.

Malam keduabelas: 8–9 November
1.173 mobil dibakar, 12 polisi terluka, 330 orang ditangkap dan 226 kota di Perancis terlibat dalam berbagai kerusuhan yang menyerang gedung-gedung publik, sekolah dan bus-bus; dua orang jurnalis Italia diserang di Clichy-sous-Bois. Para perusuh menghentikan sebuah bus di Toulouse, mempersilakan para penumpang turun, kemudian membakar bus tersebut. Seorang reporter harian Hal, del Popolo, menyebarkan kabar bahwa seorang anak lelaki mengalami luka serius di salah satu tangannya saat ia berusaha melemparkan kembali sebuah tabung gas air mata. Kerusuhan mulai berhenti di kawasan Paris tetapi terus berlanjut di kota-kota provinsi. Organisasi-organisasi muslim sekali lagi menyatakan kemarahannya atas kekerasan yang terjadi. Di beberapa area, penjualan bensin dan tabung gas kecil dilarang dilakukan apabila sang pembeli masih di bawah umur. Sebuah bus meledak di Bordeaux setelah dilempari molotov. Di jalur kereta bawah tanah Lyon lalu lintas kereta diberhentikan setelah terjadi beberapa kecelakaan dan pelemparan molotov yang tiada henti terhadap jalur-jalur kereta, di tempat tersebut sebuah depot berisi 9 bus hancur. Seorang lelaki berusia 53 tahun terluka setelah menjadi sasaran pelemparan sebuah benda dari atas gedung. Michel Gaudin, kepala polisi nasional, mendeklarasikan bahwa para perusuh diilhami oleh sebuah “kehendak yang nyata-nyata anti-institusional”.

Beberapa episode kecil aksi gerilya kota hadir di Brussels (di mana beberapa mobil dibakar) dan juga di Luxemburg. 3 mobil juga dibakar dan kaca jendela sebuah toko dihancurkan di area Cagliari (Sardinia, Italia), di mana beberapa hari sebelumnya beberapa mobil juga dibakar.

Malam ketigabelas: 8–9 November
Selama sesi pertanyaan dalam sidang parlementer, Sarkozy menyatakan bahwa ia menuntut agar seluruh Jaksa, “mendeportasi setiap orang asing, baik secara resmi atau tak resmi, yang sedang ditahan, termasuk mereka yang telah memiliki ijin tinggal. Seseorang masih dapat memiliki ijin tinggal minimum satu malam hanya bagi yang tidak memprovokasi kekerasan urban.” Di hari yang sama sebuah undang-undang baru yang menyatakan negara dalam keadaan darurat diberlakukan di Perancis setelah disiarkan dimulai pada “9 November 2005”. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa:

“orang-orang dan kendaraan dilarang untuk berada di jalan-jalan tertentu dalam waktu-waktu tertentu;
area-area keamanan diciptakan di mana aturan mengenai perilaku diberlakukan;
dilarang tinggal di beberapa kawasan tertentu;
rapat-rapat yang mencurigakan dilarang;
orang-orang tertentu berada di bawah tahanan rumah;
penggeledahan diperbolehkan untuk dilakukan baik di siang hari maupun di malam hari;
stasiun radio, pertunjukan-pertunjukan film, teater dan pers berada di bawah kontrol ketat;
semua jenis senjata dan amunisi harus diserahkan ke pos-pos polisi.”

Pada senja harinya, Sarkozy mengirimkan sebuah telegram pada para Jaksa, meminta mereka agar segera mendeportasi semua orang asing yang sempat ditangkap selama episode kekerasan urban berlangsung, termasuk mereka yang mengantongi ijin tinggal. 120 anak muda mengalami perlakuan ini, mayoritas dari mereka memiliki ijin tinggal. Berbagai asosiasi HAM, partai Komunis dan partai Hijau secara terbuka menyatakan penentangannya terhadap tuduhan ganda tersebut (pendeportasian orang-orang asing biasa yang terlibat tuduhan-tuduhan lain). Sarkozy merespon bahwa hal tersebut bukanlah tuduhan ganda, melainkan sekedar deportasi biasa, yaitu pendeportasian langsung bagi mereka tanpa perlu pengadilan terlebih dahulu. Sarkozy memobilisir 11.500 polisi. Sebagai hasilnya, serangan-serangan memang menurun: hanya 617 mobil yang dibakar dan 280 orang yang ditangkap polisi (kini telah 1.830 orang yang ditahan semenjak awal kerusuhan, sekitar seratus sudah diajukan di pengadilan). Sekolah-sekolah dihancurkan oleh api di La Courneuve dan di Villeneuve-d’Ascq. Dua buah toko dijarah dan kemudian dibakar di Arras, di mana sebuah pusat rekreasi dan bisnis juga dibakar. Sebuah situs koran lokal diserang dan dibakar di Brasse. Beberapa jurnalis Russia diserang di Lyon, di mana transport bawah tanah masih berhenti akibat serangan yang hadir di malam-malam sebelumnya. Lalu lintas malam juga masih berhenti di beberapa kota termasuk Grenoble. Di daerah pinggiran di Toulouse botol-botol molotov dan batu dilemparkan pada polisi. Di Lille, balaikota diserang. Sebuah upaya penjarahan di supermarket di Marseille digagalkan. Seorang rapper, Magyd Cherfi, menggambarkan para pemberontak sebagai “anak-anak muda depresi yang tak percaya apapun.”

17 mobil dibakar di beberapa kota di Belgia. 11 mobil dibakar di Jerman (Berlin dan Cologne) di mana beberapa molotov dilemparkan pada sebuah sekolah di Altenburg. Beberapa mobil juga dibakar di Lisbon. Di Montreal (Kanada) sejumlah anarkis mengorganisir sebuah demonstrasi di luar konsulat Perancis sebagai sebuah aksi solidaritas bagi para perusuh Perancis.

Malam keempatbelas: 9–10 November
Kehakiman melancarkan sebuah investigasi atas sebuah “upaya pembunuhan” setelah terjadi penembakan oleh peluru-peluru karet terhadap polisi di Grigny. Sejumlah besar prosedur pengadilan telah diberlakukan semenjak 9 November. 482 mobil dibakar di 152 kota yang berbeda dan 203 orang ditangkap oleh polisi (jumlah keseluruhan menjadi 2.033 semenjak awal kerusuhan). Di Sens seorang polisi dan petugas pemadam kebakaran terluka akibat lemparan batu. Sebuah pos polisi, 3 sekolah dan sebuah balaikota menjadi target pembakaran. 6 area menerapkan jam malam. Beberapa kecelakaan terjadi di Paris. Pemberhentian transportasi bawah tanah malam di Lyon dinyatakan akan diberlakukan hingga hari Minggu. Kehakiman melarang penjualan dan sirkulasi kaleng-kaleng bensin di Bordeaux. Aturan serupa diterapkan di Loiret dan Marseille. Toulouse, Lille, Marseille dan Strasbourg adalah kota-kota yang paling banyak terlibat dengan masalah-masalah tersebut. Jajaran kepolisian nasional Perancis melarang semua aksi demonstrasi publik semenjak pukul 10 malam pada hari Sabtu, 10 November hingga pukul 10 pagi keesokan harinya. Ada kecemasan bahwa kekerasan akan hadir di pusat kota selama akhir minggu.

Kerusuhan juga muncul di kawasan pinggiran di Brussels dan beberapa kota Belgia, tapi tanpa bentrokan langsung dengan polisi.

Malam kelimabelas: 10–11 November
Sebagaimana beberapa kecelakaan semakin menurun, 463 mobil yang dibakar (111 terjadi di Ile-de-France) dan 201 orang ditangkap. Beberapa mobil polisi yang diparkir di pinggiran gedung pengadilan dibakar di Bordeaux. Seorang polisi ditahan dan 4 lainnya masih dalam pemeriksaan sehubungan dengan tuduhan atas penyerangan terhadap seorang lelaki di La Courneuve. Total 8 orang polisi kini berada di bawah pemeriksaan setelah penayangan beberapa karya dokumenter oleh stasiun televisi France 2. Seorang lelaki lain ditangkap karena menyulut tindak kekerasan melalui internet: ia terancam hukuman penjara selama 1–7 tahun. Transportasi dan penjualan kaleng-kaleng bensin dilarang di Paris. Jean-Marie Le Pen, secara ironis memberi selamat pada Villepin dan Sarkozy karena telah mengajukan beberapa slogan yang sama. Hadir dalam tayangan di France 2, Sarkozy mendeklarasikan bahwa diberlakukan pembedaan antara anak-anak muda pinggiran yang miskin dengan para “sampah” yang bertanggung jawab atas berbagai tindak kekerasan. Ia juga menyatakan bahwa “anak-anak para imigran Afrika hanya menghadirkan lebih banyak masalah daripada para imigran Swedia, Denmark atau Hungaria karena kultur, latar belakang sosial mereka dan poligami menghadirkan banyak masalah.”

Sekitar 400 orang anarkis menyerang Institut Perancis di Athena (Yunani) sebagai sebuah aksi solidaritas bagi para perusuh Perancis: jendela-jendela gedung dihancurkan dan sebuah slogan ditulis di bawahnya: “Mereka yang menabur tentara menuai perang sosial di Paris, Athena dan di semua tempat.” Jendela Institus Perancis juga dihancurkan di Saloniki dan leaflet-leaflet ditinggalkan di lokasi kejadian menyatakan bahwa “para insurgen memang benar”. 6 mobil dibakar di Belgia di mana “beberapa kasus yang terisolasi” hadir, termasuk upaya pembakaran sekolah.

Malam keenambelas: 11–12 November
502 mobil dibakar (86 di Ile-de-France) dan 206 orang ditangkap (total 2.440 orang semenjak awal kerusuhan). Jumlah serangan menurun di beberapa kota sebagaimana hanya terjadi 5 atau 6 aksi pembakaran. Titik-titik panas masih terjadi di Lille, Lyon, Strasbourg dan Toulouse. Di Saint-Quentin (Aisne) seorang polisi terluka serius (luka bakar tingkat dua) setelah ledakan dari sebuah bahan peledak menghancurkan tempat duduk depan mobilnya. Mobilnya terbakar. 6 botol molotov dilemparkan ke halaman sebuah pos polisi di Maison-Alfort (Val-de-Marne). Dua bahan peledak dilemparkan ke sebuah mesjid di Carpentras (Vaucluse). 2 buah toko dibakar di Yvelines dan sebuah sekolah perawat dibakar di Seine-et-Marne. Sebuah helikopter berhasil menggagalkan upaya pembakaran sebuah sekolah di Sevran dan 9 orang ditangkap. Di Amiens (Somme), di mana jam malam diberlakukan, beberapa gardu listrik EDF disabotase dan beberapa bentrokan dengan polisi terjadi. Di Alsace barisan pemadam kebakaran disambut dengan lemparan batu; para penyerang muda menghilang begitu polisi muncul. Pada sore harinya di pusat kota Lyon sejumlah anak muda terlibat bentrokan dengan polisi: beberapa toko dihancurkan, dijarah dan dibakar; seperti biasa barisan pemadam kebakaran yang datang disambut dengan lemparan batu. Di Angoulême 3 orang berusaha membakar gardu listrik EDF; polisi yang mengejar mereka menjadi sasaran pelemparan batu dari atap-atap rumah di sekeliling tempat tersebut. Di Lyon sebuah skuter dibakar di dekat mesin ATM yang menimbulkan kerusakan parah pada mesin.

Di Belgia 15 mobil dibakar, 8 di Brussels, sehingga total 60 mobil hancur semenjak awal kerusuhan di negara tersebut. Polisi menyatakan bahwa hal tersebut tidak berkaitan dengan yang terjadi di Perancis. Di sepanjang sore dan malam hari sejumlah motor dibakar di Bologna (Italia) di mana slogan-slogan ditulis di dekatnya: “Bologne seperti Paris” dan “Pemberontakan adalah keharusan, solidaritas bagi para perusuh dari Paris”. Aksi solidaritas bagi para perusuh Perancis jga hadir di Istambul di mana sebuah demonstrasi yang mendukung “perjuangan yang terlegitimasi” bagi para penduduk daerah pinggiran Perancis, diorganisir oleh Federasi bagi Hak-Hak Fundamental di luar konsulat Perancis. Sebuah demonstrasi di luar konsulat Perancis lain digelar di Barcelona, di mana beberapa bentrokan terjadi dan 5 orang ditahan saat demonstrasi berakhir. Salah seorang demonstran menulis di Indymedia, “Semua ini adalah ekspresi solidaritas mereka dalam sebuah cara damai. Tampaknya darurat sipil juga diberlakukan di trotoar di luar konsulat-konsulat Perancis.”

Malam kedelapanbelas: 13–14 November
Jumlah serangan menurun: 271 mobil dibakar (62 di Ile-de-France) dan 112 orangd itangkap; 5 polisi terluka, 2 di antaranya akibat praktek umum, yaitu ledakan botol berisi bensin yang diletakkan di dekat mobil. Sebuah mobil yang terbakar didorong ke sekolah perawat di Toulouse dan menghancurkan sebagian gedung tersebut. Di Lyon 15 mobil dibakar, sebuah sekolah dibakar dan sekolah lain diserang dengan sebuah mobil terbakar yang didorong sebagai alat penghancur. Beberapa kejadian juga hadir di Strasbourg. Pemerintah Perancis memutuskan untuk memperpanjang masa darurat sipil selama 3 bulan berikutnya. Kabar yang menyebar pada pukul 12 siang mengatakan bahwa polisi melakukan 8 operasi di beberapa daerah yang berbeda untuk mengidentifikasi dan menahan para pelaku kekerasan. Sebagai hasilnya 503 orang ditangkap (107 orang di antaranya masih di bawah umur). Semenjak awal kerusuhan 2.652 ditangkap, 375 ditahan setelah diadili dan 213 masih menunggu pengadilan. 622 lainnya dipanggil ke pengadilan, 112 yang harus dipanggil kembali. 120 orang asing mengalami ancaman deportasi. Pengadilan melakukan investigasi lanjutan untuk melakukan penangkapan-penangkapan berikutnya. Dalam beberapa kasus ditemukan bahwa beberapa imam terlibat aksi penyerangan. Aturan-aturan lain mulai diberlakukan di area publik. Di Toulouse: hukuman 5 bulan karena membakar tong sampah; 3 bulan karena memperlihatkan pantat pada polisi; 2 bulan karena melontarkan hinaan pada petugas publik pemerintah. Di Lyon: hukuman 2 bulan karena duduk di bar di mana 2 anak kecil bersembunyi dari kejaran polisi; 2 bulan diberikan bagi seorang lelaki muda karena duduk di pinggiran jalan saat terjadi bentrokan dengan polisi; 3 bulan karena membakar sampah; 2 bulan karena melempar batu; 4 bulan karena menyalakan alarm palsu atas bom di sebuah bandara.

Malam kesembilanbelas: 14–15 November
215 mobil dibakar (60 di Ile-de-France) dan 42 orang ditangkap. Seorang polisi terluka. 3 molotov dilemparkan ke sebuah mesjid di Saint-Chamond (Loire). Sebuah pusat rekreasi dibakar di Bruges dan beberapa mobil dibakar di Paris.

Malam keduapuluh: 15–16 November
163 mobil dibakar (27 di Ile-de-France) dan 50 orang ditangkap. “Situasi yang nyaris kembali normal,” ujar Sarkozy. Seorang polisi terluka saat berusaha menengahi sekelompok anak-anak muda yang melemparkan botol-botol berisi larutan asam ke balaikota di Pont-Evêque (Isère). Di Grenoble sebuah sekolah dan pusat pendidikan dibakar. Di Drome mobil yang terbakar digunakan sebagai alat penghancur pada sebuah pos polisi dan molotov-molotov dilemparkan ke arah gereja. Garasi-garasi mobil dibakar di kawasan Rodano dan Marna. Sebuah jebakan disiapkan bagi polisi dan barisan pemadam kebakaran di Point-a-Pitre: setelah membakar beberapa mobil, di balik barikade yang telah disiapkan, sekelompok orang menembaki polisi yang kemudian juga balas menembak. Tak ada yang terluka. Total 126 polisi terluka, 2.888 ditangkap di mana 593 di antaranya ditahan, 8.973 mobil hancur.

Malam keduapuluhsatu: 16–17 November
98 mobil dibakar dan 33 orang ditangkap karena membawa alat-alat yang dapat terbakar dan karena telah melanggar jam malam. Kurang dari 100 mobil dibakar di seluruh Perancis mulai dianggap normal (setelahnya hanya sekitar 90 mobil saja yang dibakar dalam semalam yang semakin lama semakin menurun hingga berakhir). Perdana Menteri Villepin menyatakan bahwa “ada sebuah ancaman serius terorisme di Perancis” dan karenanya “pengawasan harus dilakukan secara permanen”. Secara umum dapat dikatakan kerusuhan mulai berakhir.

Kronologi ini tidak berusaha untuk memberikan sebuah catatan obyektif dari even-even yang terjadi di Perancis selama pemberontakan para “sampah” antara akhir Oktober dan minggu awal November 2005; tidak hanya karena sumber-sumber dikumpulkan dari media yang ada (koran-koran, agensi-agensi berita, laporan polisi, situs di internet dan blog, yang kadangkala adalah benar-benar berdasarkan pada memori kolektif), melainkan juga karenasebuah kronologi tidak banyak dapat mempresentasikan sesuatu dari even-even yang telah lewat segaris dengan even-even yang sesungguhnya mungkin masih terjadi saat ini.

Beberapa Ledakan Kemarahan yang Mirip, yang Hadir selama Dekade ‘90-an
Semenjak hukuman mati dihapuskan di Perancis pada 1981, hingga tahun 2001 tetap teradapat 175 kasus kematian yang secara langsung atau tak langsung diprovokasi oleh polisi negara. Di sejumlah kejadian, kematian seperti ini meletupkan ledakan kemarahan melawan represi polisi yang dilakukan dalam konteks harian. Beberapa ledakan adalah sebuah testimoni tentang betapa brutalnya sistem sosial ini secara keseluruhan.

6–9 Oktober 1990
Thomas Claudio meninggal setelah motor yang dikendarainya ditabrak oleh sebuah mobil polisi yang sedang mengejarnya. Polisi menyatakan bahwa hal ini adalah murni sebuah “kecelakaan”. Bentrokan penuh kekerasan melawan polisi meledak pasca kejadian, toko-toko komersial dijarah dan dibakar.

31 Agustus, 3 September 1995
Bentrokan-bentrokan antara polisi dan anak-anak muda meledak di Nanterre (cité de Fontanelle) setelah seorang lelaki berusia 25 tahun asal Afrika Utara secara misterius terhantam msin pengaduk semen saat ia sedang terburu-buru ke tempat di mana saudaranya sedang ditangkap oleh polisi.

25–26 Mei 1996
Sekelompok anak muda menjarah toko-toko komersial dan membakar kendaraan-kendaraan di Saint-Jean, Château Roux, setelah seorang anak muda meninggal dalam kecelakaan mobil saat ia sedang dalam pengejaran polisi.

November 1996
Di Rabaterie (St Pierre des Corps, Tours) Mohamed Boucetta (23 tahun) meninggal karena ditembak di kepala. Saat pembunuhnya dibebaskan atas intervensi personal dari Le Pen, sebuah kerusuhan selama 15 hari meledak dengan penuh bentrokan melawan polisi, pembakaran mobil, toko-toko dan bangunan publik.

12–21 Desember 1997
Bentrokan antara polisi dan anak-anak muda terjadi di Dammarie-les-Lys, di mana seorang remaja lelaki berusia 16 tahun asal Afrika Utara dibunuh oleh polisi di trotoar di mana Fontainebleau tinggal. Tak seorang polisi ditahan ataupun diajukan ke pengadilan.

13–16 Desember 1998
Menyusul dibunuhnya remaja usia 17 tahun bernama Habib oleh seorang polisi saat sedang berusaha mencuri sebuah mobil, bentrokan penuh kekerasan meledak antara polisi dan anak-anak muda di area Mirail (Toulouse). Lebih dari seratus mobil dibakar. Tiga tahun kemudian, sang polisi pelaku pembunuhan, yang sebelumnya tetap bebas, diganjar hukuman 3 tahun penjara.

12–22 September 2000
Di dua area di Essonne, di Grande Borne, Grigny dan Tarterets, Corbeil-Essonnes, bentrokan melawan polisi terjadi setelah seorang remaja 19 tahun dibunuh saat berusaha melarikan diri setelah ia mencuri sebuah motor.

4–6 Juli 2001
Bentrokan-bentrokan terjadi di Borny, Metz, setelah dua orang remaja meninggal karena kecelakaan mobil.

13–14 Oktober 2001
Kekerasan urban meledak di Thonon-les-Baines (Haute Savoie) setelah empat orang meninggal “misterius” saat berusaha untuk melarikan diri dari identifikasi polisi.

26–31 Desember 2001
Bentrokan-bentrokan dengan polisi terjadi di Vitry-de-Seine (Val-de-Marne) setelah seorang lelaki terbunuh saat berusaha merampok sebuah bank di Neuilly-sur-Marne (Seine-Saint-Denis).

3–7 Januari 2002
Sejumlah mobil dibakar di Mureaux (Yvelines) setelah Moussa (17 tahun) meninggal karena ditembak di kepala oleh polisi saat berusaha menghindari pemeriksaan polisi.

25–26 Februari 2002
Setelah seorang lelaki meninggal karena overdosis di halaman sebuah pos polisi di Evreux, sekelompok anak-anak muda bertopeng memerangi polisi, membakar mobil dan menghancurkan jendela-jendela toko.

18–19 Oktober 2001
Seorang remaja berusia 17 tahun tenggelam saat berusaha menyelam karena menghindari kejaran polisi karena aksi perampokan. Sekelompok anak-anak muda bersenjatakan tongkat baseball menyerang polisi di Hautepierre (Strasbourg) dan membakari mobil-mobil. 25 mobil terbakar, 3 petugas pemadam kebakaran terluka, sebuah sekolah dihancurkan oleh sebuah bahan peledak dan sebuah gedung pengadilan dibakar.

3 Maret 2003
Kerusuhan meledak setelah seorang pencuri meninggal saat berusaha menghindari kejaran polisi.

12–14 Januari 2004
Seorang remaja berusia 17 tahun meninggal setelah ia terjatuh dari motor curian saat sedang berada dalam kejaran polisi. Bentrokan antara polisi dan anak-anak muda terjadi, sejumlah mobil dibakar dan sebuah mobil terbakar diluncurkan dijadikan alat perusak ke sebuah pos polisi.

Hasil Sementara dari Kerusuhan Akhir Tahun 2005
9.190 mobil hancur terbakar (jumlah yang dilansir oleh Sekretaris Dalam Negeri Perancis)
Sejumlah bangunan publik dan toko-toko komersial dijarah atau dihancurkan; sejumlah besar pos polisi diserang; sebuah mesjid, sebuah gereja dan sebuah sinagog juga diserang.
Sekitar 300 kota terlibat dalam pemberontakan.
Jam malam diberlakukan di 25 area.
3 orang meninggal: Ziad dan Bouna, yang meninggal karena tersetrum listrik pada 27 Oktober; dan seorang lelaki 61 tahun yang tewas karena melindungi mobilnya pada 7 November.
Sejumlah penduduk sipil terluka.
Sekitar 12.000 polisi dimobilisir, 126 di antaranya terluka, 8 dibawah penyelidikan karena dianggap telah melakukan kekerasan berlebihan selama terjadi kerusuhan.
Badan insuransi mengklaim kerugian sekitar 200 juta euro.
2.921 orang ditangkap (sepertiganya adalah anak di bawah umur di mana yang termuda berusia 10 tahun) dan 590 ditahan (107 di antaranya adalah anak di bawah umur). 375 orang dewasa ditahan tanpa pengadilan. Penangkapan jarang dilakukan saat seseorang tertangkap basah terlibat dalam kerusuhan, sebagian besar penangkapan dilakukan saat dilakukan operasi polisi dari rumah ke rumah. Pembelaan yang berpihak pada terdakwa jarang dilakukan semenjak pengadilanlah yang menunjuk para pembela.
Sejumlah 1.540 orang yang dicurigai ditangkap, diinterogasi dan ditahan beberapa hari setelah kerusuhan berakhir: dari total sejumlah 4.500 orang yang dicurigai terlibat kerusuhan dan diinterogasi, lebih dari seperempatnya ditangkap pasca kerusuhan.
Di hari-hari pertama Desember, 786 orang masih ditahan, 83 di antaranya adalah orang asing.
Pada 4 Desember, Sarkozy mendeportasi 7 orang asing pertama.

Para “Sampah”
Tidak semua pemberontakan hadir tak terprediksikan. Tentu saja tidak diperlukan seorang Nostradamus untuk memprediksikan momen-momen khusus dari ledakan pemberontakan, tapi pada faktanya pemberontakan hadir mengejutkan bagi mereka yang sama sekali tak pernah berpikir tentang betapa bobroknya dunia yang kita tinggali saat ini. Hal tersebut terjadi demikian bukan karena sekedar engkau tahu bahwa beberapa peristiwa sejenis terjadi di Perancis secara berkala dengan praktek dan ritual yang sama (di mana terjadi bentrokan dengan polisi dan pembakaran mobil). Pemberontakan adalah produk yang terelakkan dari sistem sosial saat ini. Saat sebuah pemberontakan meledak, engkau tak dapat lagi bertanya pada dirimu sendiri, “Bagaimana ini semua bisa terjadi?” melainkan “Bagaimana bisa hal ini tidak terjadi di mana-mana dan sepanjang waktu?”. Tetapi setiap kali sebuah pemberontakan meledak, operasi pertama yang dilakukan adalah upaya untuk mengategorikan pemberontakan tersebut. Seseorang akan segera berpikir, siapakah para pemberontak itu, dari mana mereka datang dan apa yang mereka inginkan. Riset tersebut segera mencari nama, identitas dan kategorinya yang dianggap tepat: apakah mereka ini orang asing, imigran… tidak! Mereka orang-orang Perancis… benar, orang-orang Perancis, tetapi generasi kedua Perancis, kelas kedua Perancis, anak-anak para imigran, yang tak diterima secara sosial, yang termarjinalkan… Beberapa kecewa karena teori “fundamentalisme” Islam tidak dapat diterapkan dalam kasus ini: jelas bahwa mereka bukanlah mereka yang sering pergi ke mesjid (keberadaan fakta bahwa beberapa imam terlibat dalam hal ini sama sekali tidak membantu). Koran-koran sayap Kanan (seperti misalnya Le Figaro) berusaha untuk menciptakan amalgam untuk stigmatisasi publik, sekali mereka menulis tentang Intifada gaya Palestina, fundamentalisme Islam, terorisme, dsb. Pengeliruan ini, bagaimanapun juga, sama sekali tidak tepat sebagaimana setiap perjuangan selalu mampu memperlihatkan dirinya sendiri dengan karakteristiknya sendiri.

Kategori-kategori sosial digunakan untuk mendefinisikan, mengidentifikasi, pendeknya untuk memberi batasan-batasan bagi pemberontakan agar tetap berada dalam ruang konseptual yang telah ditentukan. Sekali saja sebuah identitas diterapkan bagi para perusuh—yang paling sering digunakan adalah “mereka yang tersisih secara sosial”, nama bagi mereka yang miskin—sejumlah teori akan digunakan untuk mengintervensi: dari polisi dan dari mereka yang berorientasi pada kemakmuran dan ketentraman sosial. Mereka adalah sindrom sekuritas: sekuritas publik dan sekuritas sosial. Semua ini memperlihatkan dengan jelas fakta bahwa apabila memang subversi dan pemberontakan adalah sebuah konsekwensi langsung dari sistem dominasi, maka penghapusan sistem tersebut hanya dapat terjadi melalui penghapusan dominasi, yaitu melalui subversi.

Bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi, baik dalam skala lokal atau global, fenomena tersebut. Kemiskinan, ketidakberhargaan hidup, struktur urban di semua metropolitan di seluruh dunia (dari Los Angeles hingga Bogota, dari Aljazair hingga Perancis), upaya-upaya untuk menutup batas-batas di benteng Eropa, semua hanyalah beberapa contoh dari fraktal struktural tersebut. Retorika sekuritas, tentang perlunya polisi dan pengadilan demi alasan sosial, mungkin memang dapat diterima oleh beberapa orang, tetapi jelas tak dapat diterima oleh mereka yang setiap harinya mengalami marjnalisasi sosial langsung pada hidup mereka atau juga oleh mereka yang tahu bahwa berbagai ledakan baru telah menanti di setiap sudut, dan khususnya, oleh mereka yang merasa bahwa sebuah potensi pemberontakan yang sulit dipadamkan dalam diri mereka. Semua ini jelas merupakan sebuah kekuatan magnetis dari pemberontakan yang selalu menjadi target dari proses identifikasi.

Pada faktanya, proses identifikasi ini, disamping menghadirkan fenomena struktural dari tatanan sosial saat ini, bertujuan untuk memilah-milah dan memecah belah para pemberontak dari satu sama lainnya—yang mana pada saat yang sama juga memilah mereka dari diri mereka sendiri dan dari potensi aktif mereka. Dengan kata lain, mereka yang tersisih secara sosial memiliki “hak” untuk memberontak sebagaimana kemarahan, kekecewaan dan perasaan ketidakadilan secara struktural adalah milik mereka. Tetapi kamu, siapa dirimu yang hidup mapan dan menikmati kemakmuran yang dijamin oleh masyarakat, lantas hendak turut terlibat dalam pemberontakan? Di ghetto-ghetto sepanjang kota, di perkampungan kumuh di Paris dan pinggiran di manapun juga di dunia, hidup tercerabut dari akarnya, kosong, dikelilingi ketat oleh alienasi sosial, material dan eksistensial, penuh depresi dan kebosanan metafisik. Tetapi hidupmu? Hidupmu makmur dan nyaman, penuh berbagai kemungikinan dan perspektif, mapan dan penuh hasrat. Hidupmu? Hidup kita? Maaf, tapi apa yang sedang kita bicarakan di sini?

Pada faktanya, segaris dengan penindasan dalam segala bidang, yang juga menjadikan pemberontakan tak terelakkan, semua orang menjadi target. Logika biner oposisi menginterpretasikan kenyataan dengan sangat hitam putih, logika ini tak mampu lagi memahami perkembangan pemberontakan yang menempuh jalan sejauh ini, tak mampu memahami ledakan-ledakan yang mungkin belum terjadi. Memilah-milah anak-anak muda pinggiran dari anak muda secara keseluruhan, lantas memilah-milah kekerasan yang terjadi, berarti juga berusaha untuk memisahkan setiap potensi pemberontakan dari apapun yang mampu membuatnya meledak. Inilah logika di balik intervensi keadaan darurat. Lebih jauhnya lagi, menerima pendivisian ideologi ini artinya memperlemah perspektif praktis. Seperti juga semua pemberontakan yang terjadi, apa yang terjadi di Perancis sesungguhnya juga berbicara tentang setiap orang di bawah sistem yang sama. Aksi-aksinya jelas merupakan sebuah dorongan bagi gerakan-gerakan potensial di mana-mana. Karenanya, tak lagi penting untuk memahami siapakah mereka dan apa latarbelakang mereka, melainkan lebih baik memahami siapa dirimu dan apa yang dapat engkau lakukan.

Beberapa (khususnya dari kubu sayap Kiri) memang banyak mengeluhkan tentang kurangnya kesadaran akan kelas yang revolusioner dari para perusuh, dan karenanya mereka mengambil jarak dari pemberontakan karena mereka tak melihat perspektif revolusioner yang akan hadir setelahnya; mereka hanya berkata-kata tentang fenomena barbarian yang tak memiliki proyeksi politis dan mereka akan hanya menghabiskan waktunya untuk berkata-kata dan mengeluh tanpa sekalipun berupaya memperluas pemberontakan. Beberapa juga biasanya akan menghadirkan diri mereka sebagai “tim advokasi”, pengorganisir pemberontakan. Tetapi seharusnya, mereka tidaklah hadir untuk memberi pelajaran bagi para pemberontak, melainkan diri merekalah yang harus belajar dari para perusuh Perancis tersebut. Para advokator biasanya hanya muncul untuk menetralisir impuls pemberontakan dan kemudian mengintegrasikannya kembali ke dalam sistem: dengan mengajarkan para “barbarian” untuk mengenal proses hukum, HAM, bagaimana melayangkan surat protes pada anggota legislatif, mengritisi sistem untuk kemudian turut menyempurnakannya, untuk memanfaatkan peran media massa, intinya, belajar untuk menerima sistem representasi dan mediasi. Para “sampah” yang namanya sedemikian buruk di tengah kalangan yang memiliki “kesadaran kelas revolusioner”, sesungguhnya justru memiliki kesadaran taktis dan praksis tersendiri, bahkan kadang terlalu sadar untuk sekedar praksis. Apabila para perusuh Perancis tidak melangkah lebih jauh menuju revolusi (ya, tetapi siapakah yang revolusioner saat ini?), setidaknya jalan yang mereka tempuh membuka berbagai kemungkinan untuk dieksperimentasikan. Tanpa perlu menunggu seorang “pemandu revolusioner” atau siapapun untuk memberi mereka advokasi dan mengajarkan apa yang harus dilakukan, secara kontras mereka merealisasikan dengan efektif dengan cara mereka sendiri tentang bagaimana melakukan sesuatu; mereka membiarkan kemarahan mereka meledak dalam sebuah serial letupan yang impresif tanpa merasa perlu untuk mewakilkannya pada siapapun juga. Ledakan sebuah kekuatan vital yang telah direpresi sekian lama adalah sebuah ledakan kemarahan yang akan mengesampingkan setiap bentuk dasar yang menopang masyarakat modern: ketergantungan akan sistem delegasi dan representasi.

Fenomenologi Kemarahan Nihilistik
Kemarahan adalah sebuah ekspresi yang direpresi di bawah sistem sosial dewasa ini. Tidak ada kanal untuk menyalurkan kemarahan, kita selalu dilatih untuk mengekspresikannya ke dalam bentuk-bentuk yang netral dan tak akan merusak sistem. Tetapi perepresiannya adalah juga sebuah jalan yang secara kontras justru membuka sebuah cakrawala baru yang dikarakteristikkan sebagai penghancuran universal. Sebagaimana saat engkau berada di puncak kemarahan maka engkau akan mencari apapun di sekelilingmu untuk dihancurkan, melempar sesuatu ke tembok atau bahkan menghancurkan tembok itu sendiri; tubuh dirasa menjadi sebuah alat penghancur. Apapun akan dapat dihancurkan. Kemarahan, selanjutnya, memanifestasikan dirinya sebagai sebuah cakrawala nihilistik. Sebagaimana mereka tak menghasrati apapun lagi dari diri mereka sendiri, para “sampah” tersebut memutuskan untuk tak menghasrati apapun karena memang tak ada lagi apapun yang mereka rasa perlu direalisasikan.

Tetapi nihilisme merepresentasikan dirinya sendiri dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Sistem sosial dewasa ini adalah juga nihilistik dan para penduduk yang berada di bawahnya adalah juga para nihilis yang tak sadar sebagaimana mereka menerima saja berbagai bentuk perbudakaan dengan sukarela dan menghidupi hidup mereka setiap hari tanpa hasrat hidup. Sebagaimana mereka menghisap pelajaran dari sistem ekonomi dan nilai-nilai imajiner tentang konsumsi, hidup mereka hanya berlandaskan pada kalkulasi ongkos produksi dan laba yang dapat diraup, memilah antara cara dan tujuan dan berkutat pada harapan ulisif bahwa hari esok akan menjadi lebih baik. Operasi nihilistik dari sistem dominasi ini mengartikulasikan dirinya dalam dua pola gerakan: di satu sisi yaitu yang merusak, mengalienasi dan merampok, sementara di sisi lain mendandani, menciptakan ilusi dan membutakan manusia. Tetapi ketiadaan yang dihasilkan melalui dua pola operasional tersebut menemukan substansinya hanya apabila gerakannya yang kedua (pemuasan palsu yang ilusif) tidak lagi dapat beroperasi: saat sekolah, kerja dan berbagai institusi dari masyarakat beradab yang spektakular tak lagi dapat menancapkan eksistensi ilusifnya, yang sebagai konsekwensinya, akan dilihat sebagai sumber-sumber penderitaan hidup di bawah masyarakat modern.

Saat beberapa letupan terjadi, sebagai hasil dari tidak beroperasinya gerakan kedua tersebut, dengan membabi buta, saat hal-hal tersebut menghasilkan kematian tak berarti, semua hal tersebut dapat meledakkan kemarahan nihilistik: sebagaimana mereka melihat bahwa sekeliling mereka tak lagi memiliki arti dan merusak hidup mereka, maka individu-individu tak bernama memutuskan untuk membawa semua hal tersebut pada tempatnya semula: ketiadaan. Kemarahan nihilistik menginginkan ketiadaan dan merealisasikan dengan sempurna bagaimana segala sesuatu di sekeliling mereka harus kembali pada ketiadaan. Ledakan kemarahan nihilistik, yang membebaskan dan meledakkan hasrat-hasrat negatif dapat juga dilihat sebagai sesuatu yang murni bersenang-senang, yang dihasilkan dari ketiadaan kesenangan atas eksistensi mereka sehari-hari, tetapi jelas hasrat bersenang-senang tersebut menjadi sebuah euforia destruktif.

Di tengah proletarisasi setiap kehidupan dan juga setiap orang di bawah sistem saat ini, perjuangan apa yang masih mungkin dilakukan? Kami meminta maaf pada para ahli yang melihat bahwa semua ini adalah sebuah kemajuan peradaban manusia, tetapi kami melihat bahwa perjuangan yang harus dilakukan juga termasuk melakukan penghancuran total terhadap apapun yang ada di sekeliling kita. Suatu masa, seseorang pernah berkata, “Nihilis, kalian butuh satu langkah lagi untuk menjadi revolusioner”: sebuah langkah pendek yang mentransformasikan ketidakinginan atas apapun menjadi menginginkan segalanya. Tetapi kami sekaligus juga berkata, “Revolusioner, kalian butuh satu langkah lagi untuk menjadi nihilis”—dibutuhkan sedikit keberanian untuk berurusan dengan kemarahan yang terpendam. Tetapi ke mana ini semua akan membawa kita? Orang-orang berkata bahwa kita tak mengarah ke manapun juga dengan cara seperti ini. Tetapi, lagipula ke mana engkau pikir engkau akan mengarah?

Euforia destruktif dari kemarahan nihilistik menemukan bentuk utama ekspresinya dari elemen-elemen yang merepresentasikan kemarahan: api. Molotov dan bahan peledak dilihat seperti sebuah anak panah, yang mana simbol-simbol dan struktur kekuasaan dari sistem ini menjadi sasarannya: pos polisi, balaikota, pengadilan, bank, toko, pusat perbelanjaan, sekolah dan mobil.

Beberapa target penghancuran teramat mengganggu masyarakat. Mengapa sekolah juga menjadi sasaran pembakaran, bukankah sekolah dapat membawa masyarakat menuju emansipasi dan integrasi sosial? Bukankah pendidikan bagi semua orang adalah kemajuan bagi perkembangan kemanusiaan? Mungkin, tapi bukankah juga benar, dan tidakkah juga tak dapat disangkal, bahwa semakin modern sekolah semakin pula ia menjadi penjara (dalam masyarakat penjara, maka sekolah dan penjara menjadi satu kesatuan yang utuh), di mana kita dilatih untuk patuh, mengubur kesadaran individu kita sebagai manusia, sehingga wajar muncul sebuah fenomena bahwa keindahan terjadi seperti sebuah sekolah yang terbakar. Lagipula, sistem sekolah modern berdasarkan pada penghapusan arti—dengan kata lain, sekolah adalah alat untuk mempersiapkan murid-muridnya agar dapat bekerja demi upah, bukan demi hidup; kehidupan sendiri telah tertransformasikan menjadi sekedar reproduksi kerja upahan—dan karenanya sekolah tak lagi memiliki arti bagi para pelaku aksi pembakaran, sehingga mereka memberinya arti yang sesungguhnya bagi sekolah: ketiadaan. Saat sekolah tak lagi memiliki arti yang memperkaya kehidupan yang pedagogis, saat sekolah tak memiliki kegunaan lain selain fetish, maka seperti halnya fetish lain yang hanya layak untuk dibakar, maka sekolahpun menjadi layak untuk dibakar.

Orang-orang juga bertanya-tanya seputar pembakaran mobil: mengapa membakari mobil-mobil bahkan juga mobil tetangga mereka sendiri saat pada akhirnya mereka semua juga terpaksa menjadi target dari pemberlakuan keadaan darurat oleh negara? Pertama-tama, mayoritas mobil yang dibakar adalah mobil-mobil yang secara langsung atau tak langsung menjadi milik institusi; kedua, para “sampah” tidaklah tinggal di sebuah teritori yang spesifik yang merepresentasikan realitas manusia yang homogen. Di satu sisi, para perusuh tahu bahwa mereka dapat mengandalkan dukungan dan solidaritas aktif dari banyak penduduk dari satu area (tanpa solidaritas tentu saja tak mungkin pemberontakan terjadi selama lebih dari dua puluh hari), di sisi lain mereka juga tahu siapa pemilik mobil yang mereka bakar. Dalam setiap pemberontakan, selalu terdapat juga para pendukung status-quo, para pendukung dialog dan perdamaian buta, para informan dan pengambilkeuntungan, kolaborator dan berbagai karakter jahat, yang tidak berbagi visi dan posisi yang sama dengan para perusuh. Para anak muda tidak menoleransi setiap bentuk netralitas, dialog atau kompromi dengan institusi (sesuatu yang juga dianggap banyak orang menjadi “masalah utama” di tengah gerakan anti-CPE pada bulan Maret dan April 2006, khususnya di Paris).

Dengan kata lain, tetangga tidak selalu berarti kawan atau orang yang dapat dipercaya. Pemberontakan tidaklah dapat dihasilkan hanya apabila kita berkutat dalam level simbolis melainkan dalam perjuangan dan ranah pertempuran yang konkrit. Mobil-mobil dibakar tidak sekedar karena sebuah kenikmatan saat melihat api menyala, melainkan juga terutama hal tersebut sesuai dengan sebuah pandangan-pandangan strategis dan teritorial. Hanya dalam perspektif konflik nyata (dan bukan dalam representasi ataupun penerjemahan sosiologis) maka nilai praksis dari pemberontakan tersebut dapat dipahami. Menyalakan api pada mobil-mobil juga merupakan sebuah cara yang efektif untuk membangun barikade secara gencar, sekaligus cara yang baik untuk memancing polisi agar hadir di area-area tertentu, di mana mereka kemudian diserang dengan lemparan batu dan molotov, dan darinya pula para perusuh dapat melarikan diri dengan relatif mudah, untuk kemudian saling bertemu kembali di satu tempat lain dan memulai kembali permainan (sebuah dinamika yang banyak dilakukan saat menyabotase gardu-gardu listrik yang membuka malam-malam awal pemberontakan).

Fakta bahwa pola pandang seperti yang dipaparkan di atas tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius oleh kebanyakan orang (termasuk kelompok-kelompok Kiri) jelas cukup mengejutkan. Poin terpenting yang harus dipahami, bagaimanapun juga, adalah pentingnya teritori sebagai ranah pertempuran untuk semua konflik yang hadir saat ini dan yang akan datang. Dalam sebuah masyarakat yang mendasarkan dirinya pada sirkulasi uang, informasi, orang-orang dan barang-barang, manajemen teritori menjadi satu hal penting dalam operasi-operasi yang dilakukan oleh kekuasaan. Sebagai contohnya, sirkulasi lalu lintas jalananlah yang telah perlahan-lahan membunuh kita semua dengan racun polusi, khususnya di area-area metropolitan di mana ruang-ruang urban direduksi menjadi tempat pemberhentian dan zona-zona layanan yang mengalienasikan semua orang. Realita yang asimetris, merendahkan martabat dan membunuh perlahan-lahan itulah yang benar-benar membunuh semangat kehidupan, di mana berbagai teritori dibuat lebih dan lebih sebagai lokasi yang tak akan dapat diakses dan dimasuki oleh mereka yang tak dapat dipaksa menjadi sebuah produk (dan karenanya mereka kemudian termarjinalkan).

Pada saat yang sama, teritori dan lalu lintas telah menjadi faktor-faktor strategis penting dalam perjuangan dewasa ini dan di masa depan, dengan penyebarluasan praktik-praktik seperti blokade jalanan dan sabotase, penemuan cara-cara hidup baru dalam teritori tertentu dan penghancuran apapun yang menghasilkan efek anti-kehidupan. Tentu saja kita tidak tahu apabila para pembakar mobil tersebut paham akan hal ini atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah kita ternyata memandang lebih kemarahan mereka. Tetapi apa yang pasti adalah bahwa di balik perilaku destruktif mereka yang negatif tersimpan sebuah perilaku positif dalam cara mereka membangun relasi hidup yang baru antar manusia, yang disamping hanya terus menerus mereproduksi bahasa dan gerak, mereka telah membawa kompleksitas dan solidaritas yang murni di tengah kerusuhan. Inilah sebuah perilaku positif yang tak dapat lagi direduksi melalui berbagai representasi yang berusaha diterapkan oleh kekuatan-kekuatan musuh, terhadap mereka yang konsekwensinya dianggap vandal, bodoh dan tak bermakna. Kami tidak mengelaborasi sebuah imaji neo-realis mereka yang termarjinalkan. Apa yang berusaha kami lakukan adalah, sekali lagi, mempertanyakan pada diri kita sendiri tentang apakah kita memang mampu untuk hidup di sebuah ruang dan teritori dengan cara yang berbeda sebagai sebuah upaya dalam merespon dan memperdalam perjuangan melawan dominasi, agar dapat diletupkan dalam keriangan dan radikalitas. Toh pada kenyataannya, mereka yang dianggap “sampah”, bodoh, tak berpendidikan, lumpen proletariat, adalah mereka juga yang memberi kita (yang sering dianggap lebih sadar kelas, berpendidikan dan progresif) sebuah pelajaran terbaik dalam melakukan insureksi urban beserta seluruh kritiknya atas masyarakat modern, dan bukankah kritik terbaik adalah melalui apa yang dilakukan, bukan sekedar dikatakan atau dituliskan?

Catatan:
[*] Karya aslinya berjudul Le notti della collera: Sulle recenti sommosse di Francia oleh Filippo Argenti. Tulisan tidak diterjemahkan langsung, melainkan diadaptasi dengan tidak meniadakan isi dan esensi, atas dasar persoalan transformasi bahasa yang rumit menuju bahasa Indonesia, dari translasi bahasa Inggris berjudul Nights of Rage: On the recent revolts in France oleh Barbara Stefanelli. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rikki Rikardo.