Untuk Perjuangan Massa dan Subversi

Bagian Pertama

“Jika kau tidak membebaskan diri dari tali yang mengikatmu ketika kau masih hidup, apakah kau berpikir bahwa hantumu akan melakukannya setelah itu?” –Kabir

Pada titik ini, tidak ada yang tidak bersalah dan semua telah membuat pilihan mereka. Tidak ada satu orang pun yang tidak menentukan posisi. Orang-orang saling menguji satu sama lain, menguji tatanan masyarakat, menguji seberapa jauh mereka dapat melangkah. Melenturkan otot mereka, kemudian berbicara, sebelum bentrokan. Kau dapat melihat dalam cibiran seseorang yang menyalahkan imigran atau kaum muslimin dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang asing. Siapa yang akan bereaksi?

Tidak ada informasi lebih untuk disebarluaskan. Tidak ada strategi sekarang. Tidak ada pertemuan yang akan mengubah dunia. Hanya ada puisi dan pemberontakan. Terdapat penemuan dari sebuah gerombolan. Terdapat penemuan dari diri sendiri. Dan dalam sebuah penemuan, diperlukan serangan meskipun putus asa.

Tidak ada cetak biru untuk dunia masa depan. Kami tidak akan berjanji atau berpura-pura ada sesuatu. Apa pun yang bisa kita temukan sekarang akan terkontaminasi oleh penjara dimana kita hidup. Kami tidak memiliki struktur tetap atas apa yang akan terjadi ‘setelah’. Sama seperti bayi tidak bisa membayangkan apa yang ada di luar rahim sebelum dia dilahirkan, jadi kita harus berjuang melawan pembiusan ‘kenyamanan’ dari kegelapan ini dan melihat kebohongan apa yang terletak di luar semua yang kita tahu.

Kami menyerang karena kami harus, bukan karena kami mengharapkan sesuatu, bukan karena kami memiiki sebuah “rencana”, bahkan bukan karena kami membayangkan bahwa kami akan menang.

Terserah apapun yang akan dimenangkan, kita bisa menang setiap hari di sini, sekarang, dan itulah kemenangan otonomi kita, penolakan kita, inisiatif kita, serangan kita, persahabatan kita, projectual kita. Hari ini kita menang dengan berserah pada keinginan kita lebih dari pada ketakutan kita, dengan berserah pada keberanian lebih dari pada kenyamanan kita. Menyerah pada naluri untuk hidup daripada naluri untuk keamanan.

Apa yang berusaha kita pegang untuk terus masuk dalam sikap apatis kita, kepatuhan kita? Apa yang begitu berharga? Jika kita hanya memiliki satu kehidupan, maka mengapa kita membiarkan orang lain mendikte bagaimana kita harus hidup? Untuk hidup satu hari secara murni, cinta yang berkilauan dan amarah pasti lebih bernilai dari ribuan kali merangkak dengan lutut kita . Sebuah klise tentu saja, tapi satu yang pasti sudah dilupakan.

Hanya mereka yang dapat membebaskan diri dari rasa takut dan pengkondisian masyarakat modern yang akan dapat mengubah hidup mereka. Tak ada yang lebih dari itu. Hidup tidak dapat diketahui dalam totalitas itu, kebenaran hanya muncul ketika ditempa melalui kehendak bebas yang berani, sumber tak terbatas dan tidak bisa dihancurkan dari semua ide.

Ada dua kelas dari manusia – yang termasuk dan tidak. Sejarah manusia adalah perjuangan antara kelas-kelas yang berlawanan.

Di jantung individu terdapat kapasitas untuk melampaui semua batas yang dipaksakan oleh sistem otoriter, kemungkinan untuk mengubah realitas melalui tindakan karakter yang luar biasa. Untuk masyarakat bebas di masa depan, hari ini harus rata dengan tanah dan reperesentasinya harus jatuh dalam hujan peluru.

Kelanjutan sejarah dari kecenderungan anarkis komunis-nihilis hanya disebabkan oleh individu dan kekerasan massa melawan para penghisap.

Kami adalah individualis karena kami adalah manusia dan kami ingin melihat pembebasan masing-masing diri dan setiap individu untuk potensi mereka sepenuhnya.

Kami adalah nihilis karena kami sudah menyerah pada ‘harapan’ dan kami datang untuk berdamai dengan realisasi dari chaos physics, dalam kesadaran materia prima.

Kami anarkis karena kami ada untuk komunisme tanpa negara. Dalam tujuan ini, kami mengorganisir secara kolektif untuk secara langsung menyerang modal, negara dan keterasingan menggunakan spektrum penuh semampu kami, dan selalu sesuai dengan visi libertarian kami dari sebuah kebebasan total.

Pergelokan massa-sosial-anarkis semakin besar dan tak terkendali, dan terdapat banyak fragmentasi sosial, kemudian kurangnya kohesi menambah bahaya bagi kami. Sederhanannya, kami tidak tertarik pada politik, dialog, permainan kiri-sosial. Kami tertarik dalam organisasi revolusioner, senjata dan ide.

Kami berada di luar dan melampaui batasan moralitas dan budaya palsu yang dominan. Kami akan menciptakan nilai baru yang luas melalui tindakan kami, atau kami akan mati dalam sebuah usaha, yakin pada kekuatan vital keabadian seperti gelora musim semi yang melawan sistem kematian.

Tujuannya adalah untuk menciptakan situasi di luar kendali siapa pun, di mana kehancuran dahsyat dari sistem kapitalis dapat berlangsung.

Ide-ide kami tidak dilihat sebagai tujuan dalam dirinya, tetapi sebagai senjata untuk menciptakan realitas. Untuk sepenuhnya menyadari hal ini adalah untuk menghadapi kebebasan dimana didalamnya kita pernah diajarkan atau dikondisikan untuk percaya bahwa semuanya adalah benar, dan semuanya mungkin, tidak ada kepastian, dan konsekuensi dapat mengerikan. Tertawa tampaknya menjadi satu-satunya pertahanan terhadap realisasi ‘ketiadaan’ yang nyata.

Dengan demikian anarki mengabarkan kedatangan kematian semua ideologi dan sistem identifikasi. Chaos ada di sini – tepat di depan mata Anda.

Tujuannya adalah untuk menciptakan realitas baru dengan bertindak keluar dari ide-ide kita menuju kesimpulan radikal mereka. Pasukan dengan kehendak bebas akan cukup kuat untuk menghancurkan semua dewa ilusi dan sistem politik – anjing penjaga dari modal akan ketakutan oleh individu bebas yang akhirnya menolak untuk tunduk kepada dominasi apapun.

Anti-System Cores

Terjemahan ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian dalam tulisan anti system cores dengan judul asli “For Mass Struggle and Subversion”. Diterjemahkan oleh Terik Matahari. Sumber: http://www.theanarchistlibrary.org/authors/Anti_System_Cores.html

Sabate: Musuh Publik Nomor Satu

Lelaki pemberani ini lebih dikenal dengan nama El Quico. Revolusioner anarkis sekaligus gerilyawan gigih yang terus berjuang hingga akhir hidupnya. Lahir pada tanggal 30 Maret 1915 di L’Hospitalet de Llobregat yang terletak di Catalonia, Spanyol dengan nama Francesc Sabaté Llopart.

Pada usia 10 tahun, Sabaté melarikan diri dari sekolah klerikalnya. Di usia 17, tahun ia bergabung dengan kelompok aksi anarkis bernama “Los Novatos” (Para Pemula). Kelompok ini merupakan bagian dari Federasi Anarkis Iberia (FAI, juga dikenal dengan nama CNT- FAI karena hubungan dekat dengan Confederación Nacional del Trabajo, sebuah serikat buruh industri). Los Novatos terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintah konservatif dari Republik Spanyol Kedua pada tahun 1933-an dan berjuang melawan upaya kudeta tentara pada awal Perang Saudara Spanyol pada bulan Juli 1936. Pada tahun 1935 Sabaté menolak bergabung dengan dinas militer. Ini adalah salah satu awal yang menandai dimulainya kehidupan Sabaté di luar hukum. Juga di tahun ini, Los Novatos melakukan perampokan mereka yang pertama untuk mendanai kelompok anarkis lain yang mengadvokasi penjara.

Selama Perang Sipil, Sabaté berjuang di garis depan di wilayah Aragon bersama kamerad lain yang tergabung dalam “Young Eagles Column” yang juga merupakan bagian dari CNT-FAI kala itu. Ketika divisi ini ditugaskan secara paksa oleh seorang komisaris Stalinis yang menghancurkan demokrasi dan inisiatif bebas dari kolom, Sabaté dan dua rekannya menembak mati komisaris ini dan mengungsi ke Barcelona. Di sinilah dimulai petualangan aksi dimana Sabaté bersama kawannya yang lain melakukan banyak misi atas nama FAI melawan penguasa Stalinis.

Akhirnya Sabaté ditangkap oleh Komunis, tetapi dengan bantuan istrinya, ia dan beberapa kawan-kawan lainnya berhasil kabur dari penjara saat beberapa penjaga berlaku ceroboh. Ketika perang berakhir, insureksionis ini bergabung dengan Divisi 216 atau lebih dikenal dengan nama Durruti Column yang melintasi perbatasan Prancis. Di Perancis selama Perang Dunia II, ia menghabiskan waktu di kamp-kamp konsentrasi dan berjuang bersama para pemberontak Maquis yang menentang rezim Vichy.

Setelah perang berakhir, Sabaté kembali ke Spanyol untuk melakukan perlawanan terhadap rezim Franco. Aksi pertamanya adalah membebaskan tiga anarkis dari tahanan polisi. Dalam periode ini sebagian besar aksi yang dilakukan oleh Sabaté juga berupa perampokan terhadap para pengusaha kaya dan bank-bank besar untuk mendanai kegiatan anarkis. Dia juga mencoba berbagai upaya pembunuhan yang berhasil melawan tokoh Falangist dan anggota Garda Sipil.

Setelah mencoba untuk membunuh seorang komisaris polisi, Sabaté secara tak sengaja menyerang mobil yang salah, membunuh penghuninya. El Quico akhirnya melarikan diri kembali ke Prancis, tapi berhasil ditangkap dan dipenjara selama enam tahun. Oleh penguasa saat itu, dia digambarkan sebagai “Public Enemy Number One”. Pada tahun 1960, pada usia 45, ia akhirnya tewas di Sant Celoni oleh Somaten, sebuah organisasi paramiliter Catalan, yang dibentuk pada masa pemerintahan fasis Francisco Franco dan Garda Sipil. Sabaté tewas bersama dengan empat sahabat gerilyawan lain.

Jacob: Pencuri Cerdas

Nama aslinya adalah Alexandre Jacob. Namun ia lebih dikenal dengan nama Marius Jacob. Seorang ilegalis anarkis dari Perancis. Terkenal sebagai pencuri pintar yang dilengkapi dengan rasa humor yang tajam serta memiliki kedermawanan besar terhadap korban-korbannya. Jalan hidupnya menginspirasikan Maurice Leblanc di karakter Arsene Lupin.

Dilahirkan pada tahun 1879 di Marseille dari sebuah keluarga kelas pekerja. Pada usia dua belas, dia mendaftar untuk magang sebagai pelaut. Pekerjaan yang akhirnya membawa Jacob mencapai Sydney dimana ia memutuskan desersi sebagai kru kapal. Dalam pelayaran ini ia kemudian mengatakan, “aku melihat dunia, itu tidak indah”.

Setelah episode pendek pembajakan, yang membuat ia ditolak karena terlalu kejam. Jacob kembali ke Marseilles pada tahun 1897 dan menyerah pada kehidupan laut secara total. Salah satu sebabnya adalah penyakit demam yang diderita hingga sisa hidupnya. Ia kemudian bekerja sebagai tipografer magang yang membuat ia menghadiri pertemuan-pertemuan para anarkis. Di salah satu pertemuan, Jacob akhirnya bertemu dengan calon istrinya Rose.

Kaum sosialis dari abad ke-19 yang berada di parlemen menentang -seringkali dengan kekerasan- kehadiran para anarkis di antara para pekerja. Perbedaan yang kentara adalah cita-cita kaum Sosialis yang berupaya untuk meraih kekuasaan secara legal melalui proses pemilihan. Para anarkis, bagaimanapun, merasa bahwa keadilan sosial itu bukan sesuatu yang dapat dicapai melalui struktur kekuasaan yang ada. Sebaliknya, hal itu harus direbut oleh kelas pekerja.

Di Eropa pada masa Epoque Belle, setelah represi besar-besaran dan berkelanjutan terhadap Komune Paris, pemberontakan yang terjadi menunjukkan kecenderungan ke arah penggunaan kekerasan oleh individu. Seringkali serangan itu diarahkan kepada para raja, politisi, tentara, polisi, tiran, dan hakim. Akibatnya sejumlah militan anarkis dipenjara dan menghadapi vonis guillotine. Ravachol misalnya, dianggap oleh banyak orang sebagai teroris dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Jacob pernah tertangkap dengan bahan peledak setelah serangkaian aksi pencurian kecil yang dilakukannya. Ia kemudian dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Setelah itu ia mengalami kesulitan mengintegrasikan kembali dirinya sendiri. Sejak saat itu, ia memilih sebuah sikap yang disebutnya “ ilegalisme pasifis”.

Di Toulon pada 3 Juli 1899, Jacob pura-pura menderita halusinasi untuk menghindari lima tahun reklusi. Hukuman yang mesti dijalani akibat aktifitas yang dilakukannya. Ia dianggap memiliki potensi untuk menimbulkan kerusuhan dan peningkatan eskalasi kekerasan atas nama kebebasan individual. Hingga kemudian pada tanggal 19 April 1900, ia melarikan diri dari rumah sakit jiwa di Aix-en-Provence dengan bantuan seorang perawat laki-laki dan berlindung di Sète.

Di tempat baru ini Jacob tidak berhenti. Ia kemudian mengorganisir sekelompok orang, dan menyebut diri mereka “para pekerja malam”. Kelompok yang kemudian bertanggung jawab atas puluhan aksi kriminal. Kelompok ini mengusung prinsip yang sederhana. Mereka tidak membunuh, kecuali untuk melindungi hidupnya dan kebebasannya dari polisi. Mereka hanya mencuri dari mereka yang dianggap sebagai parasit sosial seperti para bos, hakim, prajurit, dan ulama. Tapi mereka tidak mencuri dari orang-orang yang memiliki profesi yang berguna bagi banyak orang seperti arsitek, dokter dan seniman. Persentase dari uang yang dicuri akan diinvestasikan ke dalam proyek-proyek anarkis. Jacob memilih untuk menghindari bekerja dengan kaum anarkis idealis dan menemukan dirinya dikelilingi oleh para penjahat dan ilegalis.

Untuk melihat apakah orang-orang yang berusaha mereka rampok berada di tempat mereka, geng Jacob akan menjepit potongan kertas ke pintu mereka dan kembali keesokan harinya untuk memeriksa apakah kertas itu masih ada di tempatnya atau tidak. Aktifitas ini mengantarkan Jacob untuk dikenal sebagai seorang ahli kunci-pembuka pintu dan brankas. Metode kriminal cerdas lain yang mereka gunakan adalah dengan memasuki sebuah apartemen dari lantai atas. Jacob akan menyelipkan payung melalui lubang kecil di langit-langit apartemen target. Begitu dimasukkan, payung bisa dibuka untuk menangkap puing-puing dan meredam kebisingan yang diciptakan ketika mereka berusaha menerobos langit-langit.

Antara 1900 dan 1903, kelompok ini beroperasi dengan dua sampai empat orang. Kelompok ini kemudian dituduh bertanggung jawab atas terjadinya lebih dari 150 kasus perampokan di Paris, provinsi sekitarnya dan bahkan luar negeri. Namun lama kelamaan Jacob mulai merasa bahwa ia mulai kehilangan alasan. Hingga pada suatu hari ketika mencoba untuk mengkonversi pekerja untuk anarkisme, Jacob memperoleh jawaban yang signifikan: “Bagaimana dengan masa pensiun saya?”

Pada tanggal 21 April 1903, operasi pencurian yang dilakukan di Abbeville berubah menjadi bumerang. Setelah membunuh seorang perwira polisi dalam rangka untuk melarikan diri, Jacob dan dua kaki tangannya ditangkap. Dua tahun kemudian di Amiens, Jacob muncul di hadapan pengadilan dan menghadapi tuntutan berat. Kaum anarkis dan orang-orang yang bersimpati dengannya datang berbondong-bondong ke kota dan menciptakan platform untuk ide-idenya. “Anda sekarang tahu siapa aku: yang memberontak, yang hidup pada produk yang dihancurkannya sendiri”. Ketakutan bahwa hukuman mati Jacob akan memicu terjadinya kekerasan massal membuat ia tidak dipenggal dengan guillotine. Jacob divonis untuk hidup kerja paksa di Cayenne.

Di Cayenne, Jacob mulai membangun korespondensi dengan ibunya Marie, yang tidak pernah menyerah membela anaknya. Selama di penjara, ia mencoba melarikan diri tujuh belas kali tanpa pernah menemui keberhasilan.

Menyusul larangan penggunaan kerja paksa sebagai hukuman di seluruh negeri (kebijakan ini terinspirasi oleh tulisan-tulisan Albert Londres), Jacob akhirnya dibebaskan dan kembali ke Paris. Tempat di mana ia menderita depresi sampai 1927. Setelah itu Jacob pindah ke lembah Loire di mana ia menjadi penjual komersial dan menikah lagi. Saat itu, Jacob sudah berstatus duda karena istrinya Rose telah meninggal sewaktu ia masih mendekam dalam penjara.

Pada 1929 Jacob diperkenalkan kepada Louis Lecoin, direktur koran Libertaire. Kedua pria menemukan kemiripan satu sama lain dan membangun sebuah persahabatan yang langgeng. Setelah upaya menggalang dukungan internasional untuk tahanan anarkis Sacco dan Vanzetti, bersama Lecoin, Jacob juga ikut memberikan dukungan untuk mencegah ekstradisi Durruti ke Spanyol. Saat itu Durruti telah ditunggu oleh hukuman mati di Spanyol. Pada tahun 1936, Jacob pergi ke Barcelona dengan harapan membantu para sindikalis CNT. Sebelum akhirnya ia kecewa karena menemukan bahwa tidak ada harapan untuk kelanjutan perjuangan di Spanyol. Ia akhirnya kembali ke kehidupan pasar di Perancis.

Bagi banyak orang, jika saja ia tidak pernah bersentuhan dengan para anarkis, terlibat aksi kriminal dan resistensi, tetap saja Jacob adalah seorang yang humanis. Setelah kematian ibunya pada tahun 1941 dan istri keduanya pada tahun 1947, Jacob tidak pernah berubah. Ia dengan kawan dan kamerad di sekelilingnya, adalah lelaki yang tidak pernah meninggalkan gaya kehidupan kriminalnya atau opininya tentang ilegalisme atau aksi kekerasan individual.

Duval: Bandit Anarkis

Clément Duval (1850 – 1935) adalah seorang anarkis individualis Perancis yang terkenal dan sekaligus seorang kriminal. Ide-idenya tentang reklamasi individu (dalam bahasa Prancis: reprise individuelle)[1] sangat berpengaruh di kemudian hari membentuk ide dasar mengenai ilegalisme.

Duval sebelumnya sempat menjadi anggota batalyon infanteri kelima di Perancis-Prusia pada umur 20 tahun, di mana ia menjadi cacat karena terkena mortir. Akibat peristiwa ini, ia menghabiskan 4 dari 10 tahun berikutnya di rumah sakit. Tidak sanggup lagi bekerja, Duval berpaling ke pencurian.

Setelah menghabiskan nya tahun penjara untuk pencurian delapan puluh franc, Duval bergabung dengan grup anarkis Panther Batignolles. Sebuah grup yang pada akhir abad ke 19, sangat meresahkan penguasa di Prancis.

Pada 25 Oktober 1886, Duval menerobos ke dalam rumah dari seorang perempuan Paris yang kaya dan mencuri 15.000 franc sebelum dengan sengaja mengatur agar rumah tersebut terbakar. Ia tertangkap hanya 2 minggu kemudian setelah mencoba untuk menjual barang curiannya. Seorang polisi bernama beberapa kali Rossignol terluka saat percobaan penangkapan tersebut karena ditikam berkali-kali oleh Duval hingga hampir tewas. Polisi itu selamat luka-lukanya.

Pengadilan kejahatan Duval menarik kerumunan pendukung dan kemudian berakhir dalam kekacauan. Ketika Duval diseret keluar dari pengadilan, ia berteriak “panjang umur anarki!”. Pada awalnya ia dijatuhi hukuman mati, namun mengantisipasi kerusahan yang lebih besar akibat keputusan ini maka hukumannya kemudian diubah menjadi kerja paksa di Pulau Setan, Guyana Perancis. Saat itu, Duval sudah cukup populer di kalangan para anarkis individualis di Prancis. Ia merupakan pendukung utama dari ide pencurian dan perampasan properti orang-orang kaya sebagai tindakan revolusioner.[2]

Dalam sebuah koran anarkis bernama Révolte, Duval dikenal karena pernyataannya yang menyatakan bahwa, “pencurian hanya hadir ketika terjadi eksploitasi manusia oleh manusia… ketika masyarakat menolak hakmu untuk eksis, kau harus merebutnya… polisi menangkapku atas nama hukum, aku menyerang balik mereka atas nama kebebasan “.

Duval menghabiskan 14 tahun berikutnya dalam penjara, dan berusaha melarikan diri lebih dari 20 kali. Pada bulan April 1901, ia berhasil melarikan diri dari penjara atas bantuan seorang militan sindikalis bernama Régis Meunier. Duval kemudian menuju ke New York City, di mana dia tinggal sampai usia 85 atas dukungan para kamerad anarkis dari Italia dan Prancis di Amerika.

Memoarnya diterbitkan pada tahun 1929 dan diterjemahkan oleh Luigi Galeani ke dalam bahasa Italia, untuk kepentingan diterbitkan di Italia. Pada 1980, Marianne Enckel dari C.I.R.A mengumpulkan tulisan-tulisan yang tercecer dan kemudian diterbitkan dalam bentuk sebuah buku yang berjudul: Clément Duval: Convict and Anarchist.

* * * * *

Catatan Tambahan:
[1] Reklamasi individual adalah salah satu format dari aksi langsung (direct action) yang dikarakteristikkan melalui aksi pencurian properti orang kaya oleh orang miskin. Ide ini didasarkan pada tesis pengambilalihan diri yang sudah terekuperasi. Pembebasan individual ini secara etis muncul lewat konfrontasi langsung antara penindas dan budak.

Salah satu basis teoritik yang melandasi ide ini adalah buku masyur dari Proudhon yang berjudul “What Is Property?”. Buku dengan pertanyaan terkenal itu pada akhirnya memberikan kesimpulan berupa jawaban singkat bahwa properti adalah pencurian (property is theft). Buku ini memberikan penjelasan bahwa properti pribadi yang dimiliki oleh para borjuis –dan kita semua pada hari ini- berasal dari pencurian. Pencurian ini tentu saja adalah proses eksploitasi antara manusia terhadap manusia yang lain.

Konsep itu kemudian dipadupadankan dengan teori Bakunin yang terkenal, propaganda by the deed atau propaganda dengan tindakan. Sebuah tindakan langsung termasuk di dalamnya aksi kekerasan fisik untuk menunjukkan resistensi langsung dan terbuka kepada musuh untuk menginspirasikan kebangkitan menuju perang sosial.

[2] Ide ini di kemudian hari menginspirasi banyak anarkis untuk melakukan pencurian dalam rangka membiayai aktifitas revolusioner mereka. Bandit-bandit seperti Bonnot Gang, Lucio, Jaime Giménez Arbe, Enric Duran atau para anarkis perampok bank kontemporer di Yunani.

Ravachol: Anarkis Insureksioner

Tidak banyak orang yang mengenal François Claudius Koenigstein. Karena memang ia jauh lebih populer dengan nama Ravachol. Seorang anarkis Prancis yang dilahirkan pada 14 Oktober 1859 di Saint-Chamond (Loire) dan dihukum mati di atas guillotined pada 11 Juli 1892 di Montbrison saat ia masih berumur 32 tahun.

Koenigstein atau Ravachol dilahirkan dari seorang ayah Belanda dan seorang ibu Prancis. Ayahnya yang bernama Jean Adam Koenigstein meninggalkan Ravachol dan ibunya yang bernama Marie pada waktu ia masih berumur 8 tahun. Kepergian itu membuat ia menanggalkan nama belakang warisan ayahnya dan mulai menggunakan nama Ravachol yang merupakan nama belakang ibunya. Saat itu juga menjadi momen di mana kehidupan Ravachol menjadi keras. Ia sudah harus memikul tanggung jawab untuk mendukung ibunya dan kedua saudara perempuan dan laki-lakinya. Seorang sepupu lain menjadi tanggung jawab Ravachol.

Beban yang begitu berat membuat Ravachol mesti bekerja sebagai asisten tukang celup. Sebuah pekerjaan yang tidak begitu lama ditekuninya karena pada akhirnya ia dipecat. Hidup sangat miskin membuat Ravachol juga sesekali mesti mengamen akordion pada setiap hari minggu di aula Saint-Étienne.

Tak ada sumber jelas yang kemudian dapat menjelaskan bagaimana awal mula persinggungan Ravachol dengan ide-ide anarkis. Terutama pada pilihannya untuk mengusung taktik insureksi dengan melancarkan kampanye perang yang berbahaya pada masa itu.

Ia dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas meledaknya tiga buah dinamit yang diyakini ditujukan kepada para anggota perwakilan pengadilan.

Pada tanggal 1 Mei 1891, terjadi aksi demonstrasi besar-besaran dari para pekerja di Fourmies yang kemudian berakhir dengan kerusuhan dan bentrokan dengan polisi. Terdapat 9 orang peserta demonstrasi yang meninggal karena ditembaki oleh polisi. Beberapa diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Di hari yang bersamaan di Clichy, sebuah insiden serius meletus. Insiden yang melibatkan para anarkis yang berakhir dengan penangkapan tiga orang anarkis. Ketiganya diinterogasi di kantor polisi dengan brutal. Disertai dengan pukulan bertubi-tubi yang menyebabkan cedera serius. Proses pengadilannya yang kemudian populer dengan nama Clichy Affair, menyebabkan dua diantaranya mesti berhadapan dengan tuntutan penjara dengan dikenakan tuduhan yang tidak masuk akal.

Peristiwa ini merupakan kelanjutan serangan terhadap semua komunards. Para pendukung Komune Paris 1871 ini terus menerus diteror dan menghadapi serangan bertubi-tubi. Hal ini dianggap salah satu yang memicu Ravachol untuk mulai melancarkan aksi kampanyenya dengan menyebut diri sebagai teroris.

Aksinya dimulai dengan meletakkan bom di kediaman jaksa penuntut umum. Bom yang lain ditargetkan kepada Bulot. Orang yang menduduki posisi sebagai eksekutif dari Kementrian Publik saat itu. Ia juga meletakkan bom di kediaman anggota dewan Benoit yang memimpin persidangan Assises dalam kasus Clichy Affair.

Ia tertangkap setelah seorang pelayan restoran bernama Lhérot membocorkan informasi keberadaan Ravachol kepada polisi. Sebagai balasan, sehari sebelum persidangan Ravachol, restoran tersebut diledakkan seseorang sebagai solidaritas terhadap Ravachol.

Tertangkap pada 30 Maret 1892, untuk aksi pengeboman di restoran Véry, pengadilannya dilaksanakan pada tanggal 26 April di tahun yang sama di pengadilan Seine. Hasil keputusannya adalah penjara seumur hidup bagi Ravachol. Pada tanggal 23 Juni, dilakukan pengadilan kedua di pengadilan Loire yang kemudian melahirkan keputusan yang baru. Ravachol dihukum pancung di atas guillotin. Ia dituduh bertanggung jawab atas tiga kasus pembunuhan. Keterlibatan Ravachol atas dua pembunuhan sangat diragukan oleh banyak pihak. Sementara kasus pembunuhan yang lain, yakni terhadap Montbrison, diakui oleh Ravachol. Montbrison dituduh oleh Ravachol sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab atas kemiskinan yang dijalaninya.

Pada 11 Juli 1892, Ravachol dihukum pancung. Namun kemudian, ia menjadi inspirasi perjuangan bagi banyak orang sesudahnya. Seorang anarkis insureksionis lain bernama Auguste Vaillant membom markas besar Deputi Prancis sebagai aksi balas dendam atas kematian Ravachol. Lelaki pemberani ini juga menjadi sumber inspirasi orang-orang seperti Julles Bonnot. Beberapa yang lain mendedikasikan lagu untuk mengenang perjuangan yang dilakukan Ravachol semasa hidup.

Conspiracy of Cells of Fire: Seruan Solidaritas Internasional

Introduksi

Pada akhir tahun 2010, Organisasi Revolusioner – Conspiracy of Cells of Fire mempublikasikan sebuah seruan internasional kepada setiap grup gerilya kota otonom, para insureksionis serta semua orang yang ingin merebut kembali hidup mereka. Seruan ini juga adalah sebagai prakondisi untuk merespon persidangan pada tanggal 17 Januari 2011 terhadap para kamerad dari Conspiracy of Cells of Fire (CCF) yang sedang mendekam di penjara atas semua aktifitas revolusioner yang telah mereka lakukan.

CCF bukanlah satu-satunya grup revolusioner yang sedang diserang oleh hukum dan lembaga peradilan yang (sangat jelas dan tidak diragukan lagi) merupakan kaki tangan Negara dan Kapitalisme. Masih ada beberapa grup lain seperti Revolutionary Struggle di Yunani yang beberapa anggotanya juga tertangkap oleh polisi. Selain itu, masih ada ratusan anarkis lain yang dipenjara di berbagai tempat di belahan dunia karena pilihan berani mereka menentang opresi. Di Jogjakarta, seorang kawan kita Tukijo juga diculik oleh polisi dan masih mendekam dalam penjara.

Seruan ini secara mendasar memiliki karakter yang berbeda dengan yang diperkirakan oleh tipikal masyarakat kita dalam menilai. CCF dalam seruannya tidaklah ingin memusatkan kekuatan di bawah satu kepemimpinan seperti dongeng kepeloporan dari orang-orang Kiri yang hingga kini tidak juga berhenti berdusta. Front internasional yang dimaksud juga bukan sebuah organisasi dengan kerangka struktural yang mengikat. Tapi tidak lebih dari sebuah bentuk asosiasi bebas dari setiap tendensi anarkis untuk menyalakan api dan terus menyerang.

Seruan solidaritas ini adalah sebuah inisiatif otonom untuk mengajak semua kekuatan revolusioner untuk semakin meningkatkan eskalasi serangan. Tidak hanya sebagai upaya perebutan hidup dan menunjukkan kemuakan kita atas relasi hidup yang koersif hari ini. Lebih daripada itu, serangan demi serangan yang dilakukan adalah sebagai cara kita memperlihatkan solidaritas dan kehangatan cinta dari lubuk hati.

Oleh karena itu, meski sekali lagi terlambat maka kami merasa bahwa menyebarluaskan informasi dan seruan ini sama sekali tidaklah memalukan.

* * *

Front Revolusioner Internasional
Seruan Solidaritas Kepada Semua Gerilyawan Organisasi Revolusioner Conspiracy of Cells of Fire, Para Revolusioner dan Semua Individu Yang Ditangkap Untuk Kasus Yang Sama (Yang Akan Diadili Pada 17 Januari 2011)

Alasan lain atas aksi-aksi kami, melalui pengiriman parsel-parsel secara masal kepada kedutaan-kedutaan dan para pemimpin Eropa, adalah agar kami dapat melakukan sebuah seruan internasional.

Kami menyebarkan seruan ini ke seluruh penjuru dunia, dari Eropa hingga Amerika Latin, untuk menguatkan perang revolusioner. Kami mengorganisir diri secara internasional dan ini ditujukan kepada musuh-musuh kami. Kami tidak dapat berdiam diri melihat elemen-elemen subversif membanjiri jalan-jalan dan grup-grup gerilya diserang lagi dan lagi. Semua cara telah terbuka dan mencapai meja tanpa perasaan tabu atau terjebak pada fetisisasi. Sebagai contoh, kami menyerang kantor-kantor polisi, merampok bank-bank lalu membakarnya, bom-bom meledak di bangunan-bangunan pemerintah, senjata-senjata mengeksekusi para politisi, jurnalis, politisi, hakim dan jaksa, atau secara sederhana dapat kami katakan bahwa sasarannya adalah semua mereka yang melindungi dunia ini.

Langkah ini, setahap demi setahap, musuh internal domestik menjadi lebih berbahaya bagi mereka. Juga solidaritas, sebagai salah satu kekuatan dan senjata otentik dari semua kekuatan revolusioner, mengakuisisi kekuatan dan tangisan yang terkoordinasi. Mengenai penangkapan massal yang terjadi saat demonstrasi di Belgia, kami membalas dengan meledakkan bom di Yunani dan saat sebuah kelompok revolusioner di Chili dipenjara, Argentina seharusnya memenuhi puing-puing dari para penyerang kamerad kita. Bagi kami kematian para gerilyawan dan para tahanan bukanlah sebuah gencatan senjata, justru sebaliknya hal tersebut menjadi kekuatan-kekuatan yang memotivasi untuk kekesalan proses revolusioner.

Pada tanggal 17 Januari 2011 di Athena, akan ada pengadilan terhadap organisasi revolusioner kami. Mengenai hal ini beberapa anggota kami mencoba untuk bangga, beberapa revolusioner dan anarkis karena hubungan personal akibat penangkapan tersebut. Kami menyadari bahwa adalah tidak ada gunanya berbicara di pengadilan, semenjak kami mendefinisikan diri berada di luar batas-batas otoritas juridiksi. Apa yang menjadi substansi adalah solidaritas agresif kepada para kamerad yang tertangkap dan berada di penjara karena kasus yang sama. Bagi kami, mengesampingkan bahwa telah dirilis pemberitahuan untuk memburu kami satu persatu oleh polisi, juga bahwa dua orang kamerad kami yang baru saja tertangkap, tetap tidak akan menghentikan keberlanjutan dan tentu saja evolusi dari aksi-aksi kami.

Mengenai pilihan kami untuk mempromosikan perang hingga akhir, kami MENYERUKAN di Yunani, Eropa, Chili, Argentina, Meksiko dan ke seluruh dunia menjangkau semua kamerad berbagai bentuk gerilya untuk mengirimkan tanda serangan mereka kepada para hakim dan kepada otoritas Yunani, sekaligus sebagai salam solidaritas kepada semua tahanan perang gerilya kota baru. Biarlah pengadilan ini menjadi alasan lain untuk melanjutkan aksi-aksi dalam Perang Revolusioner.

CONSPIRACY OF CELLS OF FIRE

[Teks ini merupakan terjemahan bebas yang dikerjakan oleh Reuben Augusto dari surat seruan internasional yang di publikasikan oleh CCF menjelang 17 Januari 2011. Teks asli dapat ditemukan di sini]

Pernyaatan Dari Organisasi Revolusioner: Federasi Informal Anarkis – Seksi Indonesia

[Catatan Penerjemah: Tulisan ini terjemahan bebas dari situs berita insureksi: 325 menyusul peristiwa pemboman ATM BNI Bandung beberapa waktu lalu. Pernyataan ini diterima oleh 325 dan dipublikasikan di situs mereka.]

Salah satu sel dari International Conspiracy for Revenge (ICR), beberapa hari yang lalu mengeluarkan pernyataan untuk klaim pertanggungjawaban atas selebaran yang ditemukan di sekitar ATM BNI Bandung yang dihancurkan. Selebaran tersebut memiliki isi yang hampir sama dengan yang ditemukan di Makassar dan Manado.

Berikut petikan dari komunike yang mereka tinggalkan.

“PT Indomining (Bima) telah melakukan represi brutal kepada penduduk lokal, Jogja Magasa International ingin mengusir 30.000 petani di Kulon Progo. Petani-petani di Takalar sedang menghadapi ancaman perampasan tanah. Semua tindakan tersebut dilakukan dengan jalan brutal, termasuk penembakan-penembakan, teror, kekerasan seksual yang jelas merupakan bagian dari berbagai bentuk represi yang tidak pernah kita dengar melalui media massa mainstream.

Hal ini sangat tidak mengejutkan karena perusahaan kapitalis-birokratik tidak akan pernah peduli apapun selain membuat kantong mereka semakin tebal.

Serangan kami terhadap berbagai ATM (bank) merupakan target yang sangat penting, karena bank-bank selalu terlibat di dalam pendanaan berbagai pertambangan dan represi terhadap orang-orang atas nama Kapital! Kami tidak bermaksud menyakiti siapapun, karena penghancuran properti bukanlah kekerasan. Tidak ada ampun untuk semua kekuatan represif! Tidak ada ampun untuk Negara dan Kapital.

Semoga perang sosial terus membesar dan tidak lupa kami menyebutkan para kamerad di Yunani, Italy, dan di semua tempat lain yang tidak bisa disebutkan tapi kalian tahu bahwa hati kami selalu bersama kalian.

Got Is Tot : Asosiasi Bebas Para Individualis – Komunis

Salut dan hormat untuk: Organisasi Revolusioner – Conspiracy of Cells of Fire, The Revolutionary Struggle, para insureksionis di Chile, Giannis Dimitrakis dan Polykarpos Georgiades, hati kami selalu bersama kalian.

Panjang umur pembebasan dan tetaplah bebas. Dan dengan pernyataan ini kami menyatakan bergabung dengan Organisasi Revolusioner – Federasi Informal Anarkis, Seksi Indonesia.”

Renzo Novatore

Enzo Martucci
revisi terjemahan oleh Stephen Marietta

Jiwaku adalah kuil tanpa kesusilaan

Dimana lonceng dosa dan kejahatan,
Bergairah dan suka menentang,
Memekikkan pemberontakan dan keputusasaan.

Kata-kata yang ditulis pada tahun 1920 ini memberikan kita sekilas pandangan Promethean dalam diri Renzo Novatore.

Novatore adalah seorang penyair akan kehidupan yang bebas. Tak bertoleransi dengan setiap ikatan dan batasan, ia ingin mengikuti setiap naluri yang meningkat dalam dirinya, memahami segala sesuatu dan merasakan semua sensasinya – semua yang mengarahkannya pada jurang dan semua yang menuntunnya menuju bintang-bintang. Lalu pada saat kematian melebur menjadi kehampaan, menikmati hidup dengan sungguh dan heroik sehingga dapat mencapai kekuatan penuh sebagai manusia seutuhnya.

Anak seorang petani miskin dari Arcola, Italia, Abile Riziero Ferrari (Reno Novatore) segera menunjukkan kepekaan yang besar dan pemberontakan. Ketika ayahnya menyuruhnya untuk membajak ladang, ia malah melarikan diri, mencuri buah dan ayam untuk dijual sehingga ia bisa membeli buku untuk dibaca di bawah pohon di hutan. Dengan cara inilah ia mendidik dirinya sendiri dan dengan cepat berkembanglah rasa sebagai seorang penulis non-konformis. Melalui ini pula ia temukan alasan atas naluri kebenciannya terhadap segala penindasan dan pembatasan, kepada prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga yang mereduksi orang-orang pada ketaatan dan penolakan.

Semasa muda ia bergabung dengan kelompok anarko-komunis dari Arcola, tapi ia tidak puas dengan harmoni dan kebebasan terbatas masyarakat baru yang mereka nantikan dengan begitu bersemangat. “Saya dengan anda sama dalam tujuan menghancurkan tirani masyarakat yang ada,” katanya, “tapi ketika anda telah melakukannya dan mulai membangun lagi, maka saya akan menentang dan melampaui anda.”

Hingga pada usia lima belas tahun, Renzo kemudian mencakupkan perihal gereja di puisinya, dengan bebas dan tak berpihak, ia tak pernah menanamkan sedikit pun akar “suka berteman” dalam kehidupannya di desanya. Tetapi sering kali ia terlihat dalam konflik dengan orang-orang maupun dengan hukum. Ia mempermalukan keluarga terhormatnya, mengherankan melihat perbuatan mereka yang bagaikan iblis .

Novatore, yang dipengaruhi oleh Baudelaire dan Nietzsche, menegaskan bahwa kita memiliki kebutuhan dan aspirasi yang tidak bisa dipenuhi tanpa mencederai kebutuhan dan aspirasi orang lain. Oleh karena itu kita harus meninggalkan salah satu dari mereka dan menjadi budak, atau memuaskan mereka dan masuk ke dalam konflik dengan Masyarakat, apapun itu akan mungkin, bahkan bila ia menyebut dirinya anarkis. Novatore:

Anarki bukanlah bentuk sosial, tetapi sebuah metode individuasi. tidak ada masyarakat yang akan menyerahkan padaku lebih dari batas kebebasan dan kesejahteraan yang diberikan kepada setiap anggotanya. Tapi aku tidak puas dengan ini dan ingin lebih. Aku ingin semua kekuatan untuk menaklukkan ku miliki. Setiap masyarakat berusaha untuk membatasiku dengan batas yang diijinkan dan dilarang. Tapi aku tidak mengakui batas-batas tersebut, karena tidak ada yang dilarang dan semua diperbolehkan bagi mereka yang memiliki kekuatan dan keberanian.

Akibatnya, anarki. yang merupakan kebebasan alamiah individu terbebas dari penindasan menjijikkan penguasa spiritual dan material, bukan pembentukan masyarakat baru yang menyesakkan. ” Ini adalah pertarungan menentukan melawan semua masyarakat – kristian, demokratis, sosialis, komunis, dll., dll. Anarkisme adalah perjuangan abadi dari sebuah minoritas kecil di luar aristokrat terhadap semua masyarakat yang saling mengembik satu sama lain di atas panggung sejarah.

itulah ide-ide yang diungkapkan oleh Novatore dalam Il Libertario dari La Spezia, L’Iconoclasta dari Pistoia, dan jurnal anarkis lainnya. Dan ini adalah ide yang kemudian mempengaruhi saya karena saya siap untuk menerima mereka.

Selama Perang Dunia I, Novatore menolak untuk ikut berjuang sebab perang itu bukanlah dirinya dan membawanya ke pegunungan. Cerdas, berani, dan waspada, pistolnya selalu siap mengagalkan setiap usaha otoritas untuk menangkapnya. Di akhir perang, para pembelot mendapatkan amnesti dan ia bisa kembali ke desanya di mana istri dan anaknya menunggunya.

Saya berusia enam belas tahun dan telah meninggalkan rumah dan sekolah, membebaskan diri dari keluarga borjuis saya, yang telah melakukan segala sesuatu yang mereka bisa untuk menghentikan kegiatan anarkis saya. Dalam perjalanan saya ke Milan melewati Saranza, saya berhenti untuk mengenal Novatore, setelah membaca artikelnya “My Iconoclastic Individualism”. Renzo langsung datang menemui saya bersama dengan seorang anarkis lain yang disebut Lucherini.

Kami melewati saat-saat tak terlupakan bersama. Diskusi kami panjang dan dia membantu saya mengisi kesenjangan dalam pemikiran saya, mengarahkan saya jalan pemecahan dari banyak masalah mendasar. Saya terkesan dengan semangatnya yang besar. Penampilannya mengesankan. Dengan tinggi sedang, tubuh yang atletik, dan memiliki dahi yang besar. Matanya terlihat bersemangat dan mengekspresikan kepekaan, kecerdasan dan kekuatan. Ia memiliki senyum ironis yang mengungkapkan penghinaan terhadap semangat superior orang-orang dan dunia. Dia berumur tiga puluh satu tahun, tetapi telah memiliki aura jenius.

Setelah dua bulan berkeliaran di Italia dengan polisi yang terus membayangiku, saya kembali ke Arcola untuk melihat Renzo lagi. Tapi Emma, istrinya, mengatakan kepada saya bahwa dia juga diburu dan aku hanya bisa bertemu dengannya pada malam hari di hutan.

Sekali lagi kami melakukan diskusi panjang dan saya menghargai kualitas luar biasanya sebagai seorang penyair, filsuf dan seorang pria dengan tindakan lebihnya. Saya menghargai kekuatan kecerdasan dan kepekaannya yang bagus layaknya dewa Yunani atau binatang ilahi. Akhirnya kami berpisah untuk yang terakhir kalinya pada saat fajar menyingsing.

Kami berdua ada dalam kondisi yang mengerikan. Kami dalam perjuangan terbuka melawan Masyarakat, yang akan sangat senang untuk melempar kami ke dalam penjara. Renzo telah diserang di rumahnya di Fresonaro oleh sekelompok fasis bersenjata yang dimaksudkan untuk membunuhnya, tetapi ia telah mendorong mereka pergi dengan granat buatan. Setelah itu ia harus menjaga jarak aman dari desa.

Meskipun menjadi seorang kriminal, perlawanan terus berlanjut dengan mengembangkan ide-ide anarkis individualisnya di koran libertarian. Aku melakukan hal yang sama dan kami membangkitkan kemarahan para teoretikus anarko-komunisme. Salah satunya, Profesor Camillo Berneri, yang kami uraikan di L’Iconoclasta terbitan Oktober 1920, sebagai “Paranoid penderita megalomania, mengagungkan filsafat gila dan masa kemerosotan sastra, seniman peniru yang lemah diantara opium dan ganja, sirine begitu bayak dalam satu jam.”

Saya tidak bisa menjawab karena pada waktu itu saya telah ditangkap dan mendekam dalam penjara. Tapi Renzo membalasnya untuk kami berdua dan kemudian mengambil tugas. “sulit untuk menemukan semangat dan api seorang anarkis sejati seperti kutu buku yang satu ini “.

Lebih dari satu tahun kemudian saya untuk sementara dibebaskan dari penjara, tapi saya tidak dapat mencari tahu apa-apa tentang keberadaan Renzo. Akhirnya saya menerima kabar buruk bahwa ia telah terbunuh.

Ia terbunuh di sebuah penginapan di Bolzaneto, dekat Genova, bersama dengan illegalist pemberani S.P, ketika sekelompok carabinieri yang menyamar sebagai pemburu datang. Novatore dan S. P segera melepaskan tembakan dan polisi pun menanggapi. Hasil tragis dua mati, Renzo dan Marasciallo Lempano dari pihak carabinieri[1], dan satu polisi terluka. Ini terjadi pada tahun 1922: beberapa bulan sebelum pawai fasis di Roma.

Seorang penyair hebat dan asli, yang meletakkan pikiran dan perasaannya ke dalam tindakan, menyerang kawanan domba dan gembala kotor, meninggal pada usia tiga puluh tiga tahun. Dia menunjukkan bagaimana dapat hidup dalam kehebatan, bukan dalam lamanya seperti yang diinginkan dan dilakukan oleh kumpulan pecundang .

Setelah kematiannya diketahui, bersama beberapa orang yang lain. kebohongan telah dipersiapkan untuk menyerang masyarakat dan air mata mereka yang telah menolak individualisasi. Dan di Pengadilan Assizes dimana kaki-tangannya diadili, penasihat mengakui keberaniannya dan menyebutnya sebagai “suatu campuran kekuatan antara cahaya dan kegelapan, cinta dan anarki, kebaikan dan kejahatan.”

Beberapa teman mengumpulkan beberapa tulisannya dan menerbitkannya secara anumerta dalam dua volume: Above Authority (Al Disopra dell’Arco) dan Toward the Creative Nothing (Verso il Nulla Creatore) tulisan-tulisan lainnya ada pada keluarganya atau bahkan telah hilang..

Seorang pria yang luar biasa semasa hidup hingga matinya – seorang yang saya rasa paling dekat dengan saya dalam cita-cita dan aspirasinya. Dia menggambarkan dirinya sebagai “seorang ateis kesepian”, ia ingin “menggagahi yang mustahil” dan memeluk kehidupan bak kekasih yang bergairah. Ia adalah Penakluk keabadian dan kekuatan, yang akan membawa semua kemuliaan maksimum atas keindahan.

* * * * *

Catatan penjelas:
[1] Polisi Italia

Max Stirner: Anarkis Yang Sangat Dibenci Para Ideologis

Jason McQuinn

Max Stirner (nama samaran untuk seorang anarkis awal di Eropa Johann Caspar Schmidt) yang paling dikenal sebagai tokoh sentral dalam dissolusi lingkungan filsafat post-Hegelian selama tahun-tahun menjelang Revolusi Prusia (dan peristiwa-peristiwa revolusioner yang lebih luas) di tahun 1848. Lahir pada tahun 1806, ia berangkat ke universitas di mana sistem pendidikannya didominasi oleh Hegelianisme, studi-studi filsafat, filologi dan agama – saat dimana ia belajar dan mendapatkan kuliah dari Hegel secara langsung. Setelah hanya menggapai beberapa kesuksesan terbatas dalam ujian universitas, Stirner mengajari gadis-gadis di sebuah ‘gymnasium’[1] di Berlin pada siang hari, yang mana pada setiap waktu luang ia sangat sering mengunjungi rumah kopi dan bar anggur. Dia mulai bergaul sangat sering dengan para Freien[2] fanatik di bar anggur Hippel di Friedrichstrasse, di mana kemudian ia juga semakin akrab bersahabat dengan beberapa anggota utama dari lingkaran intelektual pemberontak seperti Bruno Bauer, Friedrich Engels (dengannya Stirner menjadi dutzbruder[3]), dan Arnold Ruge.

Kemasyhuran Stirner seluruhnya adalah karena karya-karyanya, Der Einzige und sein Eigentum[4]. Meskipun sebelumnya Stirner telah menulis dan menerbitkan berbagai esai-esai dan ulasan, munculnya buku ini pada tahun akhir 1844 datang sebagai kejutan bagi semua rekan-rekannya baik para Freien fanatik maupun yang liberal dan radikal di lingkungan sosial budaya yang lebih besar di Prusia kontemporer. Tidak hanya teks-nya yang jauh lebih radikal daripada yang lain pada waktu itu (atau, boleh dibilang, sejak itu), tetapi merupakan pukulan yang menghancurkan kekritisan sistem filsafat Hegel, humanisme Ludwig Feuerbach, kritik terhadap kritisisme Bruno Bauer, komunisme dari Wilhelm Weitling, anarkisme mutualis ala Pierre-Joseph Proudhon, dan bahkan komunisme Feuerbachian baru yang lahir dari Karl Marx. Setelah reaksi langsung atas tulisannya oleh Moses Hess, Feuerbach, dan Bauer, Stirner menerbitkan sebuah balasan berjudul Recensenten Stirners[5] untuk mengklarifikasi dan menjelaskan kesalahan pembacaan mereka atas teksnya. Ketertarikan awal Engels dengan teks Stirner dibatalkan oleh disiplin Marx yang keras; setelah Engels direkrut Marx untuk bersama-sama menulis polemik inkoheren yang monumental sebagai tanggapan yang, sayangnya, tidak pernah bisa dilihat (dan dibuang) oleh Stirner, kurang lebih karena ketidakmampuan publikasi dari Die Deutsche Ideologie[6]. Kemudian, dengan cepat dan mengejutkan pekerjaan utamanya yang muncul tahun 1844, hal tersebut teralihkan dan hampir terlupakan selama pemberontakan dan konfrontasi dari revolusi 1848, dan reaksi yang mengikutinya.

Tentu saja telah banyak anarkis secara de facto jauh sebelum lingkungan anarkis Eropa mulai muncul pada akhir 1700-an dan awal 1800-an – terutama pada keseluruhan masa prasejarah. Namun Max Stirner bukan hanya salah satu yang pertama untuk menguraikan suatu orientasi teoritis konsisten anarkis, ia juga kritikus anarkis filosofis paling canggih dan penting kemudian dan semenjak saat itu. Namun demikian, pengaruhnya baik di dalam maupun di luar lingkungan anarkis selalu sangat kontroversial. Deskripsi Stirner, mengenai egoisme fenomenologis dan penolakan mutlak dari setiap dan semua bentuk perbudakan telah menjadi sumber yang membuat malu – calon anarkis moralis, ideolog, dan politisi dari semua keyakinan (terutama kaum kiri, tetapi juga termasuk individualis dan lain-lain). Dengan jelas dan terbuka mengakui bahwa setiap individu yang unik selalu membuat keputusan sendiri dan tidak dapat menghindari pilihan diri – kepemilikan atau diri sendiri – alienasi dan perbudakan yang terjadi setiap saat, Stirner memaparkan skandal memalukan dari setiap usaha yang tidak hanya reaksioner, melainkan oleh dirinya – memproklamirkan sebagai radikal dan diduga sebagai anarkis untuk memulihkan pemberontakan dan menyalurkannya kembali ke bentuk-bentuk baru alienasi dan perbudakan. Dalam Der Einzige und sein Eigentum, Stirner mengkritik keras mereka yang berusaha untuk melegalisasi perbudakan melalui pengenaan wajib moralitas, merupakan ideologi yang mencoba untuk membenarkan submisi kepada ekonomi negara dan kapitalis politik (atau bentuk kelembagaan setara), dan politisi yang menunggangi kerusahan dari para “sampah” masyarakat dalam upaya untuk membuat semua orang tetap sejalan. Sepanjang sejarah mereka, para ideolog Marxis, militeris, dan politisi telah memperlakukan Stirner sebagai anarkis-arch[7]. Tetapi bahkan dalam lingkungan anarkis, dari Proudhon hingga Bakunin, dari Kropotkin hingga Faure, dari Maximoff hinggga Arshinov, dan khususnya di antara ideolog klasik dan besar – dari sejumlah tulisan dari para anarko – kiri sepanjang abad kedua puluh, kata-kata Max Stirner telah dilaknat – atau bahkan jauh lebih buruk dari hal tersebut!

Namun, (dan cukup membuat kesal bagi para anarko-kiri) selalu ada minoritas dengan semangat radikal, termasuk yang undomesticated dan uncontrollables[8] yang tidak disiplin di antara kaum anarkis, yang telah mengindahkan peringatan dan kritik Stirner, menolak untuk mengizinkan semua kata-kata, doktrin, atau lembaga untuk mendominasi mereka. Seperti yang diproklamirkan Stirner, “tidak ada yang lebih untuk saya daripada diri saya sendiri!” Hal ini jelas menunjukkan bahwa seseorang hanya bebas ketika ia memilih bagaimana menjalani hidupnya sendiri. Politisi, ekonom, ideologi, imam, filsuf, polisi, dan semua artis penipu lainnya dengan atau tanpa surat-surat resmi, rencana, dan/atau bom dan senjata: mendapatkan hasil dari mengeksploitasi hidup kita! Dan itu termasuk semua anarkis palsu yang berpikir mereka dapat menarik selimut di atas mata kita!

Catatan:
[1] Sejenis pre-school, sebelum seseorang memasuki sekolah dasar

[2] Sering juga disebut dengan The Free. Mereka adalah kumpulan dari tokoh kunci Hegelian muda.

[3] Merupakan kombinasi dari kata “du” dalam bahasa Jerman berarti “kamu”, dan kata “bruder” yang berarti saudara. Ini adalah terminologi populer yang sering digunakan dalam bahasa percakapan informal.

[4] Merupakan teks Stirner yang paling terkenal. Dalam bahasa Inggris sering disalahartikan dengan pemberian judul The Ego and Its Own. Walaupun secara literatur, dapat diterjemahkan sebagai The Unique One and Its Property. Judul aslinya adalah Der Einzige und sein Eigenthum, yang sesuai standar ejaan Jerman. Sekitar tahun 1900, ejaan tersebut berubah menjadi Der Einzige und sein Eigentum. Tahun 1845 tertulis sebagai tanggal terbit, tetapi buku ini telah ada pada musim panas 1844, dan telah dibaca oleh Engels sebelum pada bulan Desember tahun yang sama, ia menulis surat mengenai teks ini kepada Marx.

[5] “Stirner’s Critics”. Merupakan teks lanjutan sekaligus bantahan terhadap misreading yang dilakukan banyak pihak terhadap teks sebelumnya. Teks ini muncul pada Wigands Vierteljahrsschrift, September, 1845.

[6] “The German Ideolgy”. Salah satu tulisan Marx yang dielu-elukan sebagai titik pangkal serangan terhadap filsafat Hegelian. Meskipun jauh sebelumnya, Stirner telah memulai serangan terhadap hal tersebut. Buku tersebut mulai di cetak secara massal dan tampak sebagai versi Stirner dengan begitu banyak penghilangan-penghilangan terhadap bagian-bagian tertentu.

[7] Puncak kubah.

[8] Tidak terdomestikasi dan tidak terkontrol. Dapat juga diartikan sebagai keliaran. Mengenai domestikasi, lebih jauh dapat membaca: Against Domestication, Jaques Camatte.

Diterjemahkan oleh Reuben Augusto

Persenjatai Dirimu Dengan Sebuah Revolver! Mengerti?

Juan Levadura

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver. Lebih cepat lebih baik. Beli, pinjam, atau curi. Intinya adalah kau mesti mempersenjatai dirimu. Mungkin kau berpikir bahwa revolusi sosial akan berlangsung dengan pita-pita, seperti berlangsungnya sebuah karnaval?

Apakah kau berpikir para kapitalis akan melepaskan tanah dan pabrik-pabrik, seperti mereka melepaskan anak-anak perempuan mereka kepada para milyuner?

Apakah kau begitu bodoh hingga percaya pada kemungkinan dari harmonisasi antara para bos dan para pekerja?

Apakah kau tidak melihat bagaimana – setiap hari, di seluruh penjuru bumi – saat para pekerja menginginkan sedikit peningkatan, mereka segera dihadapi dengan tentara-tentara kaleng yang membawa senapan dan bayonet?

Apakah kau tidak melihat bagaimana, selama berlangsungnya mogok oleh para kamerad kita supir-supir trem, seluruh tentara segera bergerak melindungi mereka yang berkhianat?

Ya, jika semua itu akan terjadi ketika kita membuat komplain atau menuntut sebuah perubahan, apa yang akan terjadi saat kita menuntut hak untuk tanah, kehidupan dan kebebasan?

Coba pikirkan tentang hal ini.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver dan belajarlah bagaimana cara menggunakannya. Carilah target untuk mulai ditembaki. Buatlah gambar dari kepala Astorquiza, Zanartu, atau Gonzalo Bulnes sebagai target, atau gambar wajahmu jika kau menyukainya. Tembak dan menembaklah lebih sering.

Persiapkan dirimu untuk revolusi yang menjelang. Sarankan kamerad yang lain untuk melakukan hal yang sama. Siapapun yang bicara tentang “evolusi secara damai” dan “solusi-solusi harmonis” namun berada di pihak klas kapitalis dengan sedih mesti dikatakan bahwa mereka sedang menipumu.

Apakah kau tidak melihat bagaimana para pekerja di Rusia mempersenjatai diri mereka dalam rangka menumbangkan semua tirani?

Apakah kau tidak melihat bagaimana mereka hidup seperti apa yang mereka inginkan, menikmati setiap kenyamanan?

Selama lebih dari 100 tahun, kau memiliki kedamaian yang memikul segala jenis penghinaan, dan apa keuntungan yang telah kau terima dari para majikanmu? Kesedihan merupakan tempat tinggalmu dan kau mesti membayar agar beruntung, disinggahi penyakit yang akan membawa kematian datang lebih awal menjemput kau dan anak-anakmu, perang demi perang yang akan menyebabkan wabah kelaparan dan rasa sakit ke depan pintu rumahmu, dan semua sampah akan kau terima saat kau menuntut sedikit makanan dan keadilan untuk keluarga dan anak-anakmu. Semua, seluruh hal ini, adalah hadiah setimpal untuk semua usaha dan pengorbananmu.

Percayalah tentang hal itu.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver. Lebih cepat lebih baik. Beli, pinjam, atau curi. Intinya adalah kau mesti mepersenjatai dirimu. Saat telah sadar, klas pekerja bersenjata menuntut hak untuk hidup dan kebebasan, maka kau melihat bagaimana para penguasa dan tiran tumbang.

Saat kau berteriak di jalanan seperti para idiot, memohon untuk makanan dan keadilan, kau akan melihat bagaimana peluru-peluru menghujani kepalamu. Itulah yang akan terjadi. Dengan mempersenjatai dirimu dengan sebuah revolver dan menyarankan yang lain bersiap-siap untuk Revolusi, kau akan melihat kelahiran kembali fajar baru untuk dunia.

Persenjatai dirimu dengan sebuah revolver.

* * *

Teks ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1921, di koran Serikat Buruh Roti Santiago yang bernama ‘El Comunista’ .Juan Levadura merupakan nama samaran dari seorang anarkis Chile yang kurang populer, Efrain Plaza Olmedo.